close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi wasit dan VAR. Alinea.id/Muji Prayitno
icon caption
Ilustrasi wasit dan VAR. Alinea.id/Muji Prayitno
Sosial dan Gaya Hidup
Sabtu, 09 Maret 2024 19:02

Menanti teknologi VAR di sepak bola kita

Sudah jadi wacana lama, teknologi VAR urung dipakai di kompetisi sepak bola Indonesia. Apa saja kendalanya?
swipe

Pada final Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Persis Solo melawan Persita Tangerang U-20 di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (7/3) diuji coba teknologi teknologi video asistans referee (VAR). Dalam kesempatan itu, seperti dikutip dari Antara, Ketua Umum PSSI Erick Thohir ingin VAR bisa memberikan banyak pengalaman bagi semua unsur yang terlibat dalam kompetisi sepak bola nasional. Uji coba VAR tersebut adalah angkatan pertama dan direncanakan berlangsung hingga April 2024 dalam jumlah 13-16 pertandingan.

Wacana penerapan VAR di kompetisi sepak bola Indonesia, terutama Liga 1, sudah ada sejak tahun lalu. Awalnya, VAR akan dipakai di Liga 1 musim 2023/2024 pada Februari 2024, tetapi urung terlaksana. Erick, seperti dilansir dari Antara menjelaskan, penerapan VAR dalam Liga 1 ditunda lantaran ketersediaan wasit untuk mengoperasikan teknologi itu belum sepenuhnya siap.

Sebenarnya, di Indonesia VAR sudah digunakan dalam Piala Dunia U-17 yang digelar pada 10 November hingga 2 Desember 2023. Namun, belum diterapkan di kompetisi sepak bola nasional.

Seorang penggemar sepak bola Indonesia, Hardianto Yuda, setuju jika VAR diterapkan. Alasannya, dengan VAR sebuah pertandingan bisa dilihat “kejanggalan” yang terjadi. Misalnya, keputusan wasit terhadap pelanggaran.

“Banyak wasit (di Liga 1) yang salah dalam mengambil keputusan, dengan alasan tak terlihat oleh wasit utama atau asisten wasit,” ujar Hardianto kepada Alinea.id, Jumat (8/3).

“Padahal jelas, dalam tayangan ulang, yang harusnya membuahkan pelanggaran, tapi dianggap tidak pelanggaran.”

Dengan adanya VAR, Hardianto menilai, kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan wasit bisa diminimalisir. “Karena VAR, wasit bisa melihat kejadian yang tak terlihat olehnya maupun asisten wasit,” kata dia.

Pemain muda Persita Tangerang, Andrean Benyamin Rindorindo mengatakan, VAR bisa menjadikan sebuah pertandingan lebih adil. “(VAR) sangat diperlukan demi kemajuan sepak bola Indonesia yang lebih modern,” ujar Andrean, Jumat (8/3).

Andrean mengungkapkan, banyak momen kontroversial di beberapa pertandingan. Dengan adanya VAR, ia merasa sangat berdampak. Sebab, bisa membantu keputusan wasit di tengah-tengah momen yang kontroversial itu.

Senada, kiper PSIS Semarang dan tim nasional Indonesia Adi Satryo setuju VAR diterapkan untuk mencegah adanya kecurangan atau human error. “(VAR) sangat perlu,” ujar Adi, Jumat (8/3). “Demi perkembangan dan kemajuan sepak bola Indonesia juga.”

Sementara itu, pengamat sepak bola Anton Sanjoyo mengatakan, pengaruh VAR dalam sebuah pertandingan sepak bola sangat besar. VAR, menurutnya, dibutuhkan saat wasit salah dalam melakukan tindakan.

“Hasil dari wasit bisa berubah ketika melihat VAR. Tapi wasit di lapangan lah yang tetap memegang kendali penuh di lapangan, sehingga wasit pun bisa mengabaikan VAR,” ucap Anton, Sabtu (9/3).

Federasi sepak bola dunia, FIFA, memperkenalkan teknologi VAR pertama kali pada Piala Dunia 2018 di Rusia. A-League di Australia menjadi yang pertama dalam penerapan sistem VAR untuk sebuah pertandingan liga profesional pada April 2017, saat laga Melbourne City melawan Adelaide United.

Menurut Anton, di masa awal VAR diterapkan hanya untuk “mendeteksi” gol atau pelanggaran yang memiliki potensi untuk menjadi gol. Namun, di luar kedua hal itu, tak banyak dipakai untuk melihat potensi pelanggaran diving yang layak mendapatkan kartu.

“Padahal ketika pertama kali VAR diperkenalkan, salah satunya dengan konsep fair play,” ujar Anton.

“Jika Indonesia ingin menggunakan VAR dengan pertandingan (untuk mewujudkan) fair play, itu bagus."

Jaminan fair play atau tidaknya sebuah pertandingan menggunakan VAR, kata Anton, tergantung pada wasit di lapangan yang harus mengerti betul regulasi yang ada. Dengan begitu, ketika suatu pertandingan “memaksa” pemain untuk mendapatkan kartu atau melakukan pelanggaran akan dikenakan sanksi.

“Contohnya kayak kasus (pemain) PSS Sleman (Wahyudi Hamisi) yang nendang kepala (pemain Persebaya Surabaya Bruno Moreira), itu jelas sekali melakukan pelanggaran,” ujar dia.

“Itu kan wasit kita tidak terlalu paham mengenai peraturan FIFA. Padahal, regulasi FIFA itu bisa di-download.”

Lebih lanjut, Anton mengatakan, teknologi VAR adalah tuntutan zaman. Maka, bila Indonesia mengikuti aturan sepak bola internasional, VAR menjadi suatu keharusan. “Bagaimana pun dengan keterbatasan perwasitan di Indonesia, kita harus ikut (memakai VAR)” tutur Anton.

Ia menegaskan, ada problem pada wasit-wasit di Liga 1, yang masih melakukan kesalahan menerapkan peraturan-peraturan sepak bola dan banyak keputusan yang salah. “Jangankan (aturan) yang rumit ya, kadang-kadang yang offside saja mereka masih bingung, sehingga banyak menimbulkan kontroversi,” kata Anton.

Maka, kata dia, jika Indonesia mau memakai VAR, mutu wasit harus ditingkatkan. Menurut dia, selama 20 tahun, Indonesia tak punya wasit yang benar-benar berkualitas. “Jadi, dalam mutu, wasit Indonesia masih kalah jauh dari wasit Thailand ataupun Malaysia,” tutur Anton.

Menurut jurnalis senior ini, uji coba teknologi VAR harus dilakukan berbulan-bulan. Alasannya, VAR memerlukan koordinasi dengan wasit utama di lapangan dan inspektur pertandingan.

“Sedangkan di luar itu, koordinasinya saja masih banyak yang human error,” kata dia.

Ia menegaskan, persoalan komunikasi adalah kendala paling besar di Indonesia. Selain itu, VAR memerlukan teknologi tinggi. Kameranya pun ada standar minimalnya. Belum lagi terkait biaya yang mahal untuk pengadaan teknologi maupun vendor asing. Diperlukan pula renovasi kecil di stadion, kalau kamera VAR punya standardisasi tersendiri. Itu sebabnya, jika teknologi VAR ingin digunakan, maka harus bertahap.

“Karena untuk menempatkan kamera, harus ada strukturnya. Kalau tidak ada strukturnya, mau ditaruh di mana itu kamera?” kata Anton.

“Mungkin untuk (kompetisi Liga 1) musim depan masih termasuk tahap uji coba (penggunaan VAR).”

img
Fery Darmawan
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan