sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menggeliat bangkit dari keterpurukan di masa pandemi

Riky, salah satu dari jutaan orang yang terpaksa menganggur karena pandemi.

Lismei Yodeliva
Lismei Yodeliva Senin, 30 Nov 2020 20:09 WIB
Menggeliat bangkit dari keterpurukan di masa pandemi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Habis Gelap Terbitlah Terang. Demikian judul buku berisi kumpulan surat yang ditulis oleh Kartini.

Kumpulan surat itu dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht yang arti harfiahnya Dari Kegelapan Menuju Cahaya. Kalimat "habis gelap terbitlah terang" lah yang masih populer di tengah masyarakat hingga kini, terutama saat pandemi. Penggalan kalimat itu dimaknai akan ada kebahagiaan di kemudian hari setelah merasakan masa-masa sulit.

Coronavirus yang mulai masuk ke Indonesia pada awal tahun ini telah mengubah banyak hal. Jutaan orang mendadak kehilangan pekerjaan lantaran perusahaan kesulitan cashflow. Riky Aji Widana, salah satu dari jutaan orang tersebut.  

Pria 23 tahun itu terpaksa hidup tanpa pendapatan tetap selama hampir enam bulan. Sebelum virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China itu menjangkiti Indonesia, Riky bekerja lepas sebagai desain grafis di sebuah perusahaan makanan dan biskuit bayi. 

"Kontrak di perusahaan tersebut habis di 24 Maret dan tidak diperpanjang," cerita Riky saat berbincang dengan Alinea.id, belum lama ini. 

Riky mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan baru di masa Covid-19. Dia telah mencoba melamar ke berbagai perusahaan, namun hasilnya nihil. 

Demi bertahan hidup, dia lalu menjajal peruntungan berbisnis makanan dengan menjual donat. Riky belajar memasak donat secara autodidak lewat aplikasi berbagi video, Youtube. 

"Semua video tentang donat di Youtube gue tonton. Gue juga tanya ke teman, jadi kalau ada kesalahan bisa tahu," ujar Riky.

Sponsored

Riky memasarkan donat itu ke warung ibunya. Pendapatannya tak menentu. Dia mengaku, paling banyak bisa mengantongi uang Rp30.000 per hari dari hasil penjualan penganan itu. 

Namun, bisnis itu hanya bertahan dua bulan karena tak kunjung mendapatkan untung. Padahal, dia butuh dana untuk modal usahanya.

Riky lalu mencoba jenis makanan lain, yakni kudapan berbahan dasar ayam dan tepung. "Bisnis itu tidak jalan karena gue mencoba resep, tetapi gagal terus," tuturnya. 

Setelah hampir satu semester mengganggur, Riky akhirnya mendapatkan tawaran sebagai pekerja lepas di sebuah kementerian. 

"Tanpa pikir panjang, gue langsung jawab iya karena mencari pekerjaan susah," tuturnya.

Hal yang sama dialami Yohanes Arief. Belum lama mencecap gaji, pria 24 tahun itu sudah diberhentikan dari pekerjaannya. 

"Jujur, tahun 2020 ini berat buat gue. Baru kerja lima bulan sebagai asisten penulis buku, sudah kena PHK (pemutusan hubungan kerja). Gue bagian cari materi, telepon narasumber, dan wawancara narasumber. Tapi hidup harus terus berjalan kan?" kata Arief.

Arief lalu bekerja di Coffee Boy's, sebuah kafe di kawasan Tebet, Jakarta Selatan demi untuk menyambung hidup. Sayangnya, baru tiga minggu bekerja dia terpaksa menganggur lagi karena kafe itu tutup.  

"Gara-gara pemberlakuan PSBB (pembatasan sosial berskala besar), kafe tutup. Kafe itu punya saudara gue," ujarnya.

Arief mengaku menjadi mudah tersinggung karena tak punya pekerjaan. Agar tak stres, dia mengisi waktu luangnya dengan memelihara ikan cupang.

Berawal dari hobi, Arief mencoba bisnis ikan cupang. Dia memanfaatkan popularitas ikan air tawar yang sedang melejit di tengah pandemi itu. Bentuk dan karakternya yang unik membuat ikan dengan nama genus betta tersebut diburu oleh kolektor sehingga harganya melambung. 

"Hingga kini, gue belum bekerja lagi dan hanya mengandalkan pendapatan dari jual ikan ternakan sendiri. Gue berharap Corona cepat hilang, semoga bisnis ikan cupang gue juga bisa maju," tutur Arief.

Sejatinya, bertahan hidup di saat tiba-tiba tidak memiliki pendapatan bisa diantisipasi dengan perencanaan keuangan.  Senior Manager Business Development Sequis, Yan Ardhianto Handoyo mengingatkan pentingnya perencanaan keuangan sejak muda bagi kaum milenial. Jika salah dalam perencanaan keuangan, diyakini dapat memengaruhi kesehatan mental.

Menurut Yan, bijak mengelola keuangan adalah langkah pertama agar keuangan selalu sehat. Dia menyebut sederet tips sederhana agar milenial dapat lebih bijak. Yakni, dengan menyisihkan minimal 10% dari penghasilan atau uang jajan untuk tabungan masa depan.

Lalu, menyiapkan dana darurat dan asuransi, seperti asuransi kesehatan, penyakit kritis, dan asuransi yang menanggung cacat tetap total. Langkah berikutnya bisa dilakukan dengan menghindari berutang. Bila berutang, perlu dipastikan untuk utang produktif yang nilainya akan meningkat di masa depan, seperti cicilan kredit pemilikan rumah (KPR). Demikian juga dengan penggunaan kartu kredit, menurut Yan, seharusnya hanya digunakan sebagai alat bantu bayar bukan untuk menyediakan uang tambahan dan segera dibayar lunas, misalnya digunakan karena ada diskon ketimbang bayar cash. Selama pengunaannya efektif, kartu kredit disebut justru dapat membantu dalam mengatur cashflow.

“Sayangnya banyak milenial yang terjebak dengan masalah finansial, yaitu pemasukan sedikit sehingga terjebak utang, pemasukan besar tapi tidak bijak mengatur pengeluaran. Jika seseorang tidak bisa mengatur anggaran, uangnya akan cepat habis kemudian terjebak pada cicilan utang. Sementara tagihan datang terus, tabungan terus menipis, dan biaya hidup lain harus dipenuhi atau dibayar. Beban keuangan yang melebihi kemampuan finansial tentunya dapat memengaruhi aktivitas, konsentrasi, dan kualitas hidup,” sebut Yan.

Psikolog dari Riliv, Prita Yulia Maharani mengatakan milenial dapat menjaga kesehatan mental dengan mulai menjaga kesehatan keuangan. Pasalnya, uang adalah salah satu kebutuhan vital sehingga perlu dikelola dengan baik agar tidak terjebak dalam pola ‘salah urus’ yang akan mengakibatkan banyak kerugian, penyesalan mendalam, hingga mengakibatkan gangguan mental. Pada akhirnya, Prita bilang, orang tersebut akan semakin kesulitan karena uangnya tergerus untuk biaya pengobatan ke psikolog atau psikiater.

“Ketika mengalami gangguan mental, pasien harus segera ditangani oleh ahlinya, jangan dibiarkan seolah-olah tidak terjadi apa-apa karena dapat berpotensi menyebabkan self-harm atau perilaku melukai dan menyakiti diri sendiri, suicide, dan melukai orang lain," ujar dia. 

Berita Lainnya