close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi perpustakaan./Foto  LubosHouska/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi perpustakaan./Foto LubosHouska/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Kamis, 07 Desember 2023 20:49

Minat baca gen Z di tengah akses buku yang timpang

IDN Research Institute menulis, masih banyak warga di daerah terpencil yang mengalami kesulitan mengakses buku dan bahan bacaan.
swipe

Vita, 26 tahun, mengaku punya kebiasaan membaca buku sejak kecil. “Rasanya suka sekali dengan buku,” kata Vita kepada Alinea.id, Kamis (7/12).

Pegawai swasta di Jakarta itu tak kesulitan mengakses bacaan. Ia kerap mengakses e-book bahasa Indonesia dari situs web I-Pusnas, milik Perpustakaan Nasional RI. E-book bahasa Inggris, ia unduh lewat Google Play. Sedangkan mendapatkan buku fisik dari toko atau pameran diskon buku.

“Sejak teknologi semakin maju, akses membaca jadi lebih mudah dan efisien,” ujar dia.

Sementara Ria, 25 tahun, punya kebiasaan membaca buku sejak SMP. Ia gemar membaca novel di perpustakaan sekolahnya. Sama seperti Vita, karyawan swasta di Jakarta ini tak kesulitan mengakses bahan bacaan.

“Biasanya dari Twitter atau toko buku besar. Mengaksesnya pun tidak terlalu sulit,” ujarnya, Kamis (7/12).

Masalah akses yang timpang

Vita mengatakan, sewaktu masih sekolah, lebih banyak membaca buku bergenre fiksi. Setelah kuliah dan bekerja, ia tertarik membaca buku ekonomi, kesehatan holistik, dan pengembangan diri. Sedangkan Ria biasanya membaca buku fiksi romantis. Saat ini, ia mengaku lebih memilih membaca buku fisik ketimbang digital.

Kebiasaan membaca Vita dan Ria setidaknya sejalan dengan survei IDN Research Institute dan bekerja sama dengan Advisia dalam Indonesia Gen Z Report 2024, yang melaporkan gen Z masih membaca buku fisik sebesar 24%. Meski sebagian besar, yakni 50% memilih membaca artikel di portal online. Sebesar 19% memilih membaca e-book.

Berdasarkan usia Ria dan Vita, IDN Research Institute menemukan, gen Z berusia 21-26 tahun sebanyak 22% masih membaca buku fisik. Sedangkan 53% memilih membaca artikel online.

Vita pernah bergabung dengan komunitas Askara Nusantara. Ketika ia masih aktif, ada program donasi buku. “Buku disalurkan ke tempat-tempat bacaan untuk meningkatkan minat baca anak-anak,” kata dia.

Menurutnya, kebiasaan membaca harus dimulai dari kecil. Dimulai dengan membaca sedikit halaman, tetapi intensif setiap hari.

“Sehingga dapat jadi kebiasaan membaca,” tuturnya. Sementara bagi Ria, rasa ingin tahu harus ditanamkan pada diri gen Z. Tujuannya, mereka nanti bisa mencari jawaban dengan membaca buku.

Di sisi lain, dari temuannya, IDN Research Institute menulis, kebiasaan membaca gen Z menggarisbawahi pentingnya meningkatkan akses terhadap bahan bacaan di Indonesia. Telah lama ada asumsi, orang-orang muda merupakan mereka yang melepaskan diri dari membaca sama sekali dan memilih video pendek di media sosial

“Padahal tantangan sebenarnya mungkin berasal dari terbatasnya ketersediaan buku,” tulis IDN Research Institute.

Lebih lanjut, IDN Research Institute menulis, pada kenyataannya masih banyak warga di daerah terpencil yang mengalami kesulitan mengakses buku dan bahan bacaan di internet. Penyebabnya, Indonesia masih bermasalah dengan akses internet dan kesenjangan digital.

Hal ini sangat berbeda dengan kondisi di Jakarta. Menurut IDN Research Institute, setelah Perpustakaan Jakarta di kompleks Taman Ismail Marzuki direnovasi, tempat itu menjadi tujuan populer bagi banyak anak muda. Selama akhir pekan, sekitar 1.100 hingga 1.500 orang mengunjungi perpustakaan yang dikelola Pemprov DKI Jakarta itu.

Belum lagi akses internet yang mumpuni di Jakarta. Membuat anak-anak muda seperti Vita dan Ria tak sukar mengakses bahan bacaan yang melimpah di internet.

Seorang pegiat literasi di Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Ama Gaspar mengatakan, kebiasaan gen Z dalam membaca di tempatnya tinggal variatif. Namun, ia mengakui, persentasenya sangat kecil.

“Kebiasaan baca tidak tumbuh pesat karena akses dan distribusi buku yang sangat timpang dengan daerah di Jawa, terutama Jakarta,” ujar Ama, Kamis (7/12).

“Untuk gen Z, bacaan yang diminati manga dan novel-novel di Wattpad.”

Ia menuturkan, bahan bacaan sulit diakses. “Kendalanya, ongkos kirim mahal, tidak ada toko buku, dan koleksi buku dinas perpustakaan daerah yang kemungkinan kurang diminati,” ucap Direktur Festival Sastra Banggai itu.

Padahal, menurut Ama, gen Z di tempatnya tinggal sebenarnya punya keinginan mencari bahan bacaan. Fakta tersebut terlihat, saat Ama mengamati anak-anak muda itu banyak berkunjung ke perpustakaan yang komunitasnya dirikan.

Akhir 2015, Ama mendirikan komunitas Babasal Mombasa. Babasal berasal dari akronim tiga suku yang ada di Banggai, yakni Banggai, Balantak, dan Saluan. Sementara Mombasa berarti membaca.

Perpustakaan mini itu didirikan di sekretariat Babasal Mombasa dan di Desa Awu. Komunitas tersebut pun menginisiasi Akademi Sastra Banggai, dengan residensi virtual selama enam hingga tujuh bulan.

“Residensi virtual ini merangkul semua Banggai Bersaudara,” ujar Ama.

Selain itu, Ama dan kawan-kawannya juga bergerilya. Mereka kerap menggelar “piknik” buku di ruang publik. Babasal Mombasa pun bekerja sama dengan beberapa pihak, menggelar kelas literasi yang dilakukan selama delapan bulan, program perempuan bercerita, dan Festival Sastra Banggai.

“(Festival Sastra Banggai adalah) sebuah acara tahunan yang sudah kami lakukan sejak tahun 2017,” tutur Ama.

Di samping mengunjungi perpustakaan, minat membaca kalangan gen Z di daerahnya terlihat pula dengan animo membeli buku yang tinggi setiap ada festival literasi. “Kami mengajak toko buku komunitas untuk hadir membuka lapak jualan buku,” kata dia.

“Walaupun tak dimungkiri, kebanyakan memilih Watpadd untuk medium baca dan menulis.”

Terlepas dari itu, bagi Ama, untuk meningkatkan minat baca di kalangan muda, pemerintah perlu hadir melalui banyak lingkup. Semisal, dinas perpustakaan daerah, yang perlu kurator untuk mengisi koleksi buku-buku yang akan dihadirkan di perpustakaan-perpustakaan.

Ia bilang, kerja-kerja literasi itu tak bisa dilakukan sendiri. Perlu keterlibatan semua pihak yang merasa punya kewajiban membangun ekosistem baca dan literasi yang lebih baik. Begitu pun melibatkan gen Z.

“Melibatkan komunitas baca untuk setiap program yang menyasar gen Z,” ujar dia. “Saya kira yang perlu terus dikampanyekan adalah ketahanan gen Z untuk membaca buku dalam medium apa pun.”

img
Rizkia Salsabila
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan