sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Nasib penderita TBC di tengah pandemi

Penanganan TBC menurun selama pandemi Covid-19, padahal jumlah kasus penderitanya tak sedikit.

Firda Cynthia
Firda Cynthia Rabu, 08 Jul 2020 07:23 WIB
Nasib penderita TBC di tengah pandemi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 135123
Dirawat 39290
Meninggal 6021
Sembuh 89618

Sebelum masa pandemi Covid-19, angka penderita tuberkulosis (TBC) di Indonesia sangat tinggi. Indonesia berada di urutan ketiga dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia, di bawah India dan China. Namun, bila dihitung perbandingan antara jumlah temuan penderita per jumlah penduduk, Indonesia ada di urutan pertama.

Covid-19 dan TBC merupakan penyakit yang tersebar melalui droplet atau percikan pernapasan. Perbedaannya, TBC disebabkan oleh bakteri, sedangkan Covid-19 oleh virus. Selain itu, TBC sudah ditemukan obatnya, sedangkan Covid-19 belum ditemukan vaksinnya.

Ketua Dewan Pembina Stop TB Partnership Indonesia Arifin Panigoro mengatakan, penanggulangan penyakit TBC begitu kompleks.

"Ada 100 ribu orang meninggal per tahun (akibat TBC). Tetapi karena pada fokus ke Covid-19, rada dilupain saja," kata Arifin pada konferensi pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di kantor Graha BNPB, Selasa (7/7).

Ia menilai penanganan TBC akan menjadi lebih sulit karena tenaga kesehatan dan layanan kesehatan lebih diprioritaskan kepada pengidap Covid-19.

Arief mengharapkan agar pemerintah dapat menangani permasalahan penyakit TBC ini secara serius dan luar biasa. Sebab, penanganan yang biasa saja akan menyebabkan korban jiwa yang semakin banyak.

Sementara Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes RI Wiendra Waworuntu, mengatakan, estimasi kasus TBC seharusnya sekitar 845 ribu. Namun, yang baru ditemui pihak Kemenkes baru sekitar 67%.

"Artinya ada 540 ribu sekian yang kami temukan di Indonesia. Sisanya sekitar 30% masih berkeliaran dan berpotensi menularkan," jelas Wiendra.

Sponsored

Wiendra menambahkan penanganan TBC semakin kompleks karena angka penderita TBC yang resisten obat selalu naik tiap tahunnya. Penderita TBC resisten obat merupakan penderita TBC yang tak disiplin mengonsumsi obat.

"Obatnya enam bulan, lalu dia bosan dan putus obat. Dia menjadi resisten, obatnya sudah enggak mempan lagi untuk TBC tersebut. Minum obat sebulan dua bulan sudah merasa sembuh padahal belum, jadinya enggak minum obat lagi," terangnya.

Angka TBC resisten di Indonesia yang diprediksi pihak Kemenkes sekitar 24 ribu orang. Selain itu, masih banyak penderita TBC dengan HIV, yaitu sekitar 21 ribu. Mereka yang meninggal bukan disebabkan HIV, melainkan karena TBC.

Persoalan lainnya, protokol kesehatan memang dapat membantu memutus penularan TBC, tetapi juga mengakibatkan pasien ketakutan untuk pergi ke layanan kesehatan di masa pandemi Covid-19 ini.

Wiendra mengimbau agar para pengidap TBC tidak putus obat. Juga, di masa pandemi ini, penderita TBC sebisa mungkin mendapatkan obatnya dengan menggunakan layanan antar agar tak terpapar Coronavirus saat ke luar rumah.

Berita Lainnya