sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pasang ring jantung, pasien sebaiknya jangan langsung bekerja

Jeda waktu istirahat usai pemasangan ring setidaknya selama satu bulan.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Jumat, 22 Nov 2019 15:10 WIB
Pasang ring jantung, pasien sebaiknya jangan langsung bekerja
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 118753
Dirawat 37530
Meninggal 5521
Sembuh 75645

Kabar duka pekan ini datang dari mantan pemain sinetron Cecep Reza yang meninggal dunia pada Selasa lalu, 19 November 2019. Cecep dikabarkan tutup usia karena mengidap penyakit jantung. 

Cecep memang punya riwayat sakit jantung dan memasang ring pada jantungnya, untuk mengatasi keluhan penyakit jantung yang dialaminya.

Sebagaimana telah diberitakan, Cecep yang dikenal sebagai pemeran Bombom di sinetron Bidadari tersebut melakukan operasi pemasangan ring jantung pada Rabu lalu (19/11).

Namun, pada hari yang sama, Cecep langsung melakukan pekerjaannya sebagai fotografer tak lama sesudah pemasangan ring jantung. Dalam standar kesehatan perawatan jantung, seharusnya pasien yang melakukan pemasangan ring perlu beristirahat terlebih dulu. 

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Ade Meidian Ambari menjelaskan, pasien yang baru selesai memasang ring jantung membutuhkan waktu istirahat untuk memulihkan kesehatannya.

“Seharusnya tidak melakukan pekerjaan berat, jangan juga menyetir kendaraan,” kata Ade Meidian.

Ade yang juga anggota Perhimpunan Dokter Kardiovaskular Indonesia mengatakan, waktu rehat bagi seseorang usai memasang ring jantung bisa berbeda-beda. 

Bagi penderita jantung koroner seperti Cecep, kata Ade, jeda waktu istirahat usai pemasangan ring setidaknya satu bulan. Sementara itu, pemasangan ring elektif yang dilakukan tanpa keluhan serangan jantung, membutuhkan istirahat minimal satu minggu.

Sponsored

Penyakit jantung hingga kini masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Salah satu faktor pendorong risiko terkena penyakit jantung, adalah kebiasaan pola hidup yang tidak sehat.

Dokter ahli gizi Jovita Amelia mengungkapkan, beberapa jenis makanan yang digemari masyarakat modern seperti makanan cepat saji kerap menimbulkan gangguan kesehatan pada jangka panjang.

“Jadi kebiasaan buruk ini seperti bahaya laten. Kebiasaan karena gaya hidup yang keliru ini masih disepelekan. Padahal bisa memicu penyakit jantung koroner,” kata Jovita, dihubungi Jumat (22/11).

Selain itu, minimnya kesadaran publik untuk memerhatikan aktivitas fisik secara rutin turut mendorong munculnya penyakit jantung koroner. 

Dokter ahli fisiologi olahraga Ermita Isfandiary Ibrahim Ilyas mengungkapkan, menjaga kesehatan jantung dapat dilakukan pula dengan mengembangkan aktivitas fisik atau olahraga yang teratur.

Menurut dia, penyakit jantung koroner merupakan kondisi umum yang dialami penderita ketika pembuluh darah jantung atau arteri koroner tersumbat timbunan lemak. Penumpukan lemak akan berakibat menyempitnya arteri.

“Hal itu membuat aliran darah ke jantung berkurang. Olahraga dan kebiasaan hidup sehat lain yang dapat mengurangi stres, mesti dilakukan untuk mengimbangi potensi penyakit itu,” kata Ermita.

Adapun kebiasaan tidak sehat seperti merokok disarankan untuk tidak dilakukan. Begitu pula bagi orang yang tidak merokok, menghindari asap rokok bisa efektif menjaga kesehatan tubuh.

Berita Lainnya