close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi pesta pernikahan./Foto Pexels.com
icon caption
Ilustrasi pesta pernikahan./Foto Pexels.com
Sosial dan Gaya Hidup
Jumat, 01 Desember 2023 15:27

Pesta pernikahan yang mahal justru memicu perceraian

Pesta pernikahan yang mewah terkadang dikaitkan dengan komitmen pasangan. Namun, apakah itu menjamin pernikahan langgeng?
swipe

Pernikahan crazy rich Surabaya Ryan Harris dengan Gwen Ashley, yang berlangsung pada 18 November 2023 di Hotel Westin Surabaya viral di media sosial. Pernikahan ala kerajaan itu mewah dan megah. Diperkirakan menelan biaya hingga Rp90 miliar.

Lebih dari 2.000 tamu undangan hadir. Penampilan para penyanyi ternama Indonesia dan dunia pun disuguhkan. Ada mantan anggota Pussycat Dolls, Nicole Scherzinger, personel Westlife Brian McFadden, personel Boyzlife Keith Duffy, dan boyband Inggris The Wanted. Penyanyi terkenal Indonesia yang memeriahkan acara itu, antara lain Raisa, Lyodra, dan Via Vallen. Tak ketinggalan, duet MC pernikahan Raffi Ahmad dan Melaney Ricardo.

Banyak orang menghabiskan uang untuk sebuah pernikahan mewah. Namun, apakah hal itu menjamin kelanggengan rumah tangga?

Sebuah penelitian bertajuk “A diamond is forever’ and other fairy tales: The relationship between wedding expenses and marriage duration” terbit di Social Science Research Network (September, 2014) menemukan hal yang mengejutkan.

Riset yang dikerjakan Andrew M. Francis dari National University of Singapore dan Hugo M. Mialon dari Emory University menyebut, pasangan yang mengeluarkan uang gila-gilaan untuk pernikahan mereka, cenderung bercerai ketimbang mereka yang mengatur uang secara ketat.

Francis dan Mialon yang merupakan profesor ekonomi melibatkan lebih dari 3.000 orang di Amerika Serikat dalam penelitian mereka. Pengumpulan data melibatkan implementasi kuesioner survei, kurang lebih 40 pertanyaan dengan topik terkait pernikahan atau pernikahan pertama—jika sudah bercerai atau menikah lagi.

“Secara khusus, kami mengumpulkan informasi tentang status perkawinan, durasi pernikahan, anak, lamanya waktu berpacaran, perasaan dan sikap pada saat lamaran pernikahan, bulan madu, biaya cincin pertunangan,” tulis para peneliti.

“(Lalu) kehadiran pernikahan, total biaya pernikahan, umur, usia menikah, jenis kelamin, ras/etnis, pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, wilayah tempat tinggal, agama, dan perbedaan usia, ras, dan pendidikan antara responden dan pasangan.”

Mereka menulis, jumlah uang yang dihabiskan untuk cincin pertunangan berbanding terbalik dengan lamanya pernikahan. Semakin mahal cincinnya, semakin besar kemungkinan pasangan bercerai. Terutama jika cincin melebihi harga 1.500 poundsterling (setara Rp29,4 juta).

“Dalam sampel pria, pengeluaran antara 2.000 dollar AS (sekitar Rp31 juta) dan 4.000 dollar AS (sekitar Rp62 juta) untuk cincin pertunangan terkait dengan risiko perceraian 1,3 kali lebih besar dibandingkan pengeluaran 500 dollar AS (sekitar Rp7,7 juta) dan 2.000 dollar AS,” tulis para peneliti.

Penelitian itu juga menemukan, pernikahan dengan biaya yang lebih terjangkau cenderung lebih langgeng. Pernikahan dengan biaya kurang dari 1.000 dollar AS (setara Rp15,5 juta), sebut para peneliti, menunjukkan penurunan signifikan dalam kemungkinan perceraian dibandingkan mereka yang menghabiskan lebih dari 20.000 dollar AS (sekitar Rp300 juta). Hal ini meningkatkan kemungkinan perceraian di kalangan perempuan sebesar 1,6 kali lipat.

Dikutip dari CNN, Francis menduga, bisa jadi tipe pasangan yang mengadakan pernikahan murah adalah tipe pasangan yang cocok satu sama lain.

“Atau bisa jadi mengadakan pernikahan murah bisa meringankan beban keuangan pasangan muda,” ujar Francis kepada CNN.

Mahalnya biaya pernikahan berkait erat dengan industri pernikahan. Menurut Francis, industri pernikahan telah lama mengasosiasikan pernikahan mewah sebagai sebuah pernikahan yang langgeng.

“Iklan industri telah memicu norma-norma yang menciptakan kesan bahwa mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk pesta pernikahan adalah tanda komitmen atau perlu agar sebuah pernikahan berhasil,” kata Francis kepada CNN.

Pada 2014, The Knot melakukan survei soal pernikahan. Rata-rata pengeluaran pernikahan pasangan di Amerika Serikat saat itu adalah 31.213 dollar AS (sekitar Rp483 juta). Belum termasuk biaya bulan madu.

The Knot mensurvei 16.000 orang yang menikah antara 1 Januari dan 31 Desember 2014. “Ini adalah rekor tertinggi sejak 2007,” ujar editor The Knot, Maxwell Cooper kepada The Hufftington Post.

Penelitian ini pun menemukan, semakin banyak orang yang menghadiri pesta pernikahan, maka semakin rendah pula tingkat perceraian. “Ini bisa menjadi bukti dampak komunitas, yakni mendapatkan lebih banyak dukungan dari teman dan keluarga bisa membantu pasangan melewati tantangan pernikahan,” kata Francis.

Jadi, tak ada salahnya mengundang banyak teman, rekan kerja, atau keluarga jauh dalam pesta pernikahan. Hal lain yang dapat memicu risiko perceraian, sebut para peneliti, adalah penampilan pasangan dalam keputusan untuk menikah.

“Penampilan pasangan penting dalam keputusan menikah secara signifikan dikaitkan dengan durasi pernikahan yang lebih pendek,” ujar Mialon kepada The Independent.

Meski begitu, tak semua pengeluaran untuk pernikahan membawa dampak negatif. Francis dan Mialon justru menemukan, pergi berbulan madu terkait dengan rendahnya risiko perceraian.

“Daripada menghabiskan banyak uang untuk pesta pernikahan, ada baiknya kita menabung untuk liburan pasca-pernikahan,” tulis The Independent.

img
Fandy Hutari
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan