close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi penerjun payung./Foto GuentherDillingen/Pixabay.com
icon caption
Ilustrasi penerjun payung./Foto GuentherDillingen/Pixabay.com
Sosial dan Gaya Hidup
Selasa, 02 Juli 2024 06:02

Risiko cedera pada militer saat terjun payung

Cedera pada kaki yang sering terjadi saat terjun payung, antara lain keseleo dan ketegangan pergelangan kaki, patah tulang pergelangan kaki, dan diskolasi pergelangan kaki.
swipe

Lewat akun Instagram pribadinya, Senin (1/7), Menteri Pertahanan (Menhan) sekaligus presiden terpilih, Prabowo Subianto mengabarkan bahwa dia selesai menjalani operasi cedera kaki di Rumah Sakit Pusat Pertahanan Nasional, Jakarta pekan lalu. Prabowo mengakui, dia mengalami cedera kaki kiri karena kecelakaan saat latihan terjun payung pada 1980-an.

Wartawan Hendro Subroto dalam bukunya Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009) menulis, cedera kaki Prabowo dialami pada 1981. Ketika itu, Prabowo mengikuti latihan terjun payung mobile training team (MTT) dari US Army’s Special Forces di Cijantung, Jakarta.

Latihan terjun payung memiliki risiko cedera yang tinggi. Dokter pengobatan darurat di Houston, Texas, Laura Galdamez dalam situs web United States Parachute Association menyebut, cedera pada kaki yang sering terjadi saat terjun payung, antara lain keseleo dan ketegangan pergelangan kaki, patah tulang pergelangan kaki, diskolasi pergelangan kaki, pecahnya tendon achilles atau jaringan ikat yang menghubungkan tulang tumit dengan tiga otot besar di betis, serta radang sendi.

“Dislokasi dan patah tulang kaki adalah beberapa cedera yang paling umum terjadi saat terjun payung, dan pergelangan kaki adalah sendi yang paling sering cedera,” tulis Galdamez.

“Insiden cedera pergelangan kaki berkisar antara 1 hingga 4,5 per 1.000 lompatan dan 30%-60% dari semua cedera terkait terjun payung. Tingkat cedera lebih tinggi pada penerjun yang tidak berpengalaman, yaitu 6 hingga 7 cedera per 1.000 lompatan.”

Para peneliti dari Polandia, dalam riset yang diterbitkan jurnal Military Medicine (Januari-Februari, 2019) melakukan analisis retrospektif yang melibatkan 37.467 lompatan terjun payung yang dilakukan Brigade Kavaleri Udara Amerika Serikat antara 2000 hingga 2006. Peserta terdiri dari 87 pria berusia 19-55 tahun, yang menderita 84 cedera selama terjun payung.

Hasilnya, tingkat rata-rata cedera di kalangan penerjun payung militer berkisar antara 1,48 hingga 2,76 per 1.000 lompatan. Prajurit yang lebih muda dan kurang berpengalaman lebih rentan mengalami cedera.

“Parasut (berbentuk) bundar, lompatan di ketinggian yang lebih rendah, cuaca mendung, dan lompatan dari helikopter menjadi faktor risiko cedera,” tulis para peneliti.

“Yang paling sering terjadi adalah keseleo pergelangan kaki dan lutut, diikuti patah tulang batang (70% dari seluruh trauma).”

Tingkat cedera tertinggi—4,7 per 1.000 lompatan—terjadi saat melakukan terjun payung dari ketinggian di bawah 400 meter. Lompatan dari ketinggian antara 400 meter dan 700 meter, mengakibatkan 2,42 cedera per 1.000 lompatan. Sedangkan lompatan dari ketinggian lebih dari 700 meter memiliki risiko cedera yang sangat rendah, yakni 0,3 per 1.000 lompatan.

Terbatasnya jarak pandang pada malam hari merupakan faktor lain yang memengaruhi kejadian cederta terkait terjun payung. “Sekitar 22% cedera muskuloskeletal (sistem yang terdiri dari tulang, sendi, otot, saraf, dan jaringan ikat) terjadi pada saat jarak pandang terbatas, dengan tingkat cedera 2,76 per 1.000 lompatan,” tulis para peneliti.

Para peneliti juga menemukan, tingkat cedera jauh lebih tinggi dalam terjun payung yang dilakukan dengan pembebanan atau membawa muatan, yakni 2,83 per 1.000 lompatan. Lokasi pendaratan pun jadi faktor risiko cedera yang penting. Lalu, selain jarak pandang di malam hari, angin kencang dan cuaca buruk juga menjadi risiko cedera para penerjun militer.

“Temuan kami menunjukkan, tingkat cedera tertinggi terjadi saat terjun ke lokasi pendaratan yang telah disiapkan (3,7 per 1.000 lompatan). Mendarat di landasan beton mengakibatkan tingkat cedera 2,9 per 1.000 lompatan,” tulis para peneliti.

“Terutama bagi mereka yang belum berpengalaman, yang ketika menyadari bahwa mendarat di permukaan seperti itu tidak dapat dihindari, menjadi panik, membuka lebar kaki, dan meluruskan kaki.”

Para peneliti menyimpulkan, hampir 85% cedera disebabkan faktor manusia. Teknik pendaratan yang salah merupakan penyebab utama cedera betis. M.C.M. Bricknell dari Direktorat Medis Angkatan Darat Keogh Barracks di Inggris dan S.C. Craig dari Direktorat Epidemiologi dan Surveilans Penyakit di US Army Center for Health Promotion and Preventive Medicine (USACHPPM) Amerika Serikat dalam jurnal Occupational Medicine (1999) menyebut, tinggi dan berat badan penerjun payung juga memiliki pengaruh pada tingkat cedera.

Bricknell dan Craig juga menulis, kekuatan pendaratan bervariasi antarjenis parasut. Namun, biasanya setara dengan melompat dari tembok setinggi 9-12 kaki.

“Energi kinetik dihamburkan oleh gerakan saat pendaratan,” ujar Bricknell dan Craig.

Ada beberapa cara untuk meminimalisir cedera pada penerjun. Salah satunya, teknik pendaratan. Inggris mengembangkan teknik landing roll, di mana penerjun payung bisa mendarat dengan kaki dan lutut rapat, lalu dilakukan gerakan memutar ke samping secara berturut-turut ke sisi luar tungkai, paha, bokong, melintasi punggung dan ke bahu yang berlawanan.

“Teknik ini menyebabkan cedera yang jauh lebih sedikit,” tutur Bricknell dan Craig.

Sementara Galdamez menulis, penerjun payung militer bisa menggunakan penyangga luar sepatu bot yang kaku untuk membantu mencegah cedera pergelangan kaki saat mendarat. “Penyangga yang kaku—mirip gips—membantu mencegah pergelangan kaki berputar ke dalam saat mendarat,” kata Galdamez.

img
Fandy Hutari
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Berita Terkait

Bagikan :
×
cari
bagikan