logo alinea.id logo alinea.id

Tradisi kerokan dan fakta di baliknya

Metode pengobatan semacam kerokan juga dikenal di Vietnam, Kamboja, dan China.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Rabu, 06 Mar 2019 13:13 WIB
Tradisi kerokan dan fakta di baliknya

Sebulan sekali Suwarno, seorang guru di sebuah SMP di Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat mesti pulang ke kampung halamannya untuk bersua keluarga di Simo, Boyolali, Jawa Tengah.

Untuk menempuh perjalanan yang jauh itu, ia menggunakan pesawat ke Solo. Kemudian melanjutkan perjalanan dari Bandara Adi Sumarmo ke Boyolali. Tak jarang, ia mengalami pegal-pegal. Bila sudah begini, kerokan menjadi solusi baginya.

“Sudah biasa kerokan sejak masih kecil, kebiasaan dari orang tua. Sekarang kalau pulang ke rumah, masih suka kerokan,” ujarnya saat dihubungi reporter Alinea.id, Selasa (5/3).

Suwarno berkisah, di kampung halamannya, orang tua terbiasa menggurat punggung anak-anak mereka dengan uang logam, jika kondisi badan kurang fit. Kerokan menjadi solusi singkat orang Indonesia, terutama di Jawa, untuk mengurangi kondisi badan yang kurang sehat.

Selain Suwarno, Amrin Sitanggang, karyawan swasta di sebuah toko pakaian daerah Jembatan Lima, Jakarta Barat juga mengatasi kondisi badan kurang segar dengan kerokan.

“Kalau badan pegal-pegal, perut kembung, terus sendawa, gue mending kerokan. Lebih terasa efeknya,” kata Amrin.

Namun, ia khawatir dengan efek samping kerokan. Ia pernah mendengar, kerokan bisa membuat pori-pori terbuka. Dan, katanya, bisa lebih mudah masuk angin.

Masuk angin dan kerokan

Sponsored

Di dalam tulisannya berjudul “Masuk Angin dalam Konteks Kosmologi Jawa” di Jurnal Humaniora Volume 23, Nomor 3, Oktober 2011, staf pengajar Jurusan Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Atik Triratnawati mengatakan, kerokan sudah menjadi tradisi dalam masyarakat Jawa.

“Untuk mengobati masuk angin, secara tradisional orang Jawa umumnya memilih cara penyembuhan penyakit dengan mempertimbangkan dua hal. Tradisi atau kebiasaan yang telah turun-temurun—dan pengalaman akan kemanjuran cara penyembuhannya,” tulis Atik.

Kerokan, menurut Atik, dipilih sebagai cara yang paling mudah dan murah untuk mengobati masuk angin.

Lebih lanjut, Atik Triratnawati menguraikan, di masa lalu raja dan pujangga Jawa sudah bisa mengklasifikasi setidaknya 30 penyakit dan obatnya. Meski begitu, sarana penyembuhan masih sebatas berbasis kearifan lokal.

Atik menjelaskan, dalam perspektif kosmologi Jawa, masuk angin dianggap sebagai personifikasi ketidakseimbangan antara yang ada di dalam tubuh (mikrokosmos) dengan lingkungan sekitar (makrokosmos).

Ketidakseimbangan ini berdampak pada fungsi tubuh secara keseluruhan, terutama gangguan peredaran darah yang tak lancar. Akibatnya, muncul gejala rasa panas atau dingin di tubuh, perut kembung, atau pegal linu.

“Masuk angin menjadi bagian tak terpisahkan dari kosmologi Jawa, mengenai keseimbangan hubungan manusia, baik dengan alam, sesama manusia, unsur tubuh manusia, maupun asal-usul kejadian alam,” tulis Atik.

Kemudian, kata Atik, masuk angin dipahami sebagai kondisi angin yang masuk ke dalam tubuh, baik melalui pori-pori di kulit ataupun sembilan lubang di organ tubuh manusia, yang bisa mengakibatkan ketidakseimbangan.

Menurut guru besar dari Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Didik Gunawan Tamtomo dalam tulisannya “Gambaran Histopatologi Kulit pada Pengobatan Tradisional Kerokan” di Jurnal Cermin Dunia Kedokteran Volume 35 Nomor 1, Januari-Februari 2008 menjelaskan, metode mirip kerokan pun dikenal di beberapa negara Asia.

“Di Vietnam pengobatan ini disebut cao gio, di Kamboja disebut goh kyol, di China disebut gua sha,” tulis Didik. Di China, tulis Didik, kerokan tak memakai uang logam, tetapi batu jade.

Selanjutnya, Didik menjelaskan, warna merah yang terjadi di bagian tubuh yang digurat menjadi ukuran berat atau ringannya masuk angin. Semakin merah, makin berat derajat sakitnya.

Berbahaya?

Didik Gunawan Tamtomo menerangkan, kerokan memberikan hasil yang sangat mengagumkan karena bekerja melalui bermacam-macam sistem, antara lain kulit, otot, pembuluh darah, saraf, limpa, sistem kekebalan, dan meridian.

Bagi dosen Fisiologi Medis Universitas Indonesia (UI) Ermita Isfandiary Ibrahim Ilyas, kerokan lebih berguna untuk mengembalikan kondisi badan menjadi lebih segar. Ia mengatakan, rasa pegal atau lelah biasanya dikaitkan dengan penumpukan asam laktat di otot dan dalam darah.

Ketua Komisi Medis Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) ini melanjutkan, manfaat kerokan terasa karena terjadi pelebaran pembuluh darah, yang mendorong peningkatan aliran darah selama beberapa hari usai dikerok.

“Dengan meningkatnya aliran darah, maka asam laktat akan cepat dibawa ke hati untuk dimetabolisme. Penyebab pegal-pegal atau nyeri di otot pun menjadi berkurang dan akan hilang setelah dikerok,” tutur Ermita saat dihubungi, Selasa (5/3).

Sementara itu, dalam tulisannya di Jurnal Cermin Dunia Kedokteran, Didik Gunawan Tamtomo menyebut, setidaknya ada empat manfaat kerokan bagi tubuh. Pertama, kerokan bermanfaat untuk meningkatkan sistem imunitas spesifik tubuh sehingga mampu bertahan lebih baik terhadap infeksi.

Kedua, kerokan meningkatkan hormon endorfin—zat penekan rasa sakit yang dikeluarkan otak bila saraf tertentu dirangsang dengan akupunktur—yang dihasilkan oleh kelenjar pituatari. Hal ini yang menimbulkan efek segar atau rasa senang dan nyaman. Kelenjar pituatari sendiri adalah kelenjar endokrin berbentuk oval kecil, yang ada di dasar otak hanya di belakang hidung dan di bawah saraf optik.

Tradisi mirip kerokan pun dikenal di beberapa negara Asia.

Di samping itu, kerokan terbukti mengurangi rasa nyeri neuropatik akibat gangguan saraf dan nyeri viseral, yang terjadi di bagian dalam organ tubuh. Terakhir, kerokan dapat meningkatkan efek regenerasi sel dan menurunkan efek berlebih, seperti cedera tambahan akibat nyeri otot.

Di sisi lain, Ermita Isfandiary Ibrahim Ilyas mengingatkan kerokan dapat memicu kerusakan pembuluh darah. Hal ini dapat dilihat dengan timbulnya corak kemerahan pada tubuh, seperti memar sesudah kerokan. Menurut dia, hal itu menunjukkan gejala kerusakan dinding dalam pembuluh darah.

Terlepas dari itu, Ermita memandang diperlukan penelitian lebih dalam mengenai fungsi kerokan, terutama secara medis atau pengobatan.

“Jika olahraga dapat merangsang pelepasan hormon endorfin yang membuat rasa nyaman, apakah kerokan juga demikian?” kata Ermita.

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Mencari keadilan tragedi kerusuhan 22 Mei

Minggu, 26 Mei 2019 02:15 WIB
Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Ambu: Konflik 3 generasi dan adat Suku Baduy

Sabtu, 25 Mei 2019 11:56 WIB