close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi salah eja atau typo. /Foto Instagram @sekilasbali
icon caption
Ilustrasi salah eja atau typo. /Foto Instagram @sekilasbali
Sosial dan Gaya Hidup
Rabu, 28 Februari 2024 05:58

Typo-typo itu ternyata bisa bikin stres dan merusak hubungan

Riset terbaru menunjukkan tingkat stres meningkat saat mendengarkan seseorang yang berbicara penuh kesalahan tata bahasa.
swipe

Kesalahan tata bahasa atau grammatical error tak hanya mengganggu pandangan mata saja. Sebuah riset yang dilakoni sejumlah peneliti di Inggris dan terbit di Journal of Neurolinguistics pada awal 2024 menunjukkan bahwa tubuh ternyata kita mengalami stres saat mendengar penggunaan kata-kata yang salah dalam perbincangan. 

Para peneliti--Dagmar Divjak, Hui Sun, dan Petar Milin--menggunakan metode pengukuran detak jantung (heart rate variability/HRV) untuk mengetahui tingkat stres seseorang saat mendengarkan pidato yang penuh kesalahan tata bahasa. Detak jantung yang mengindikasikan stres semakin kencang saat mendengar bagian-bagian pidato dengan kesalahan grammar yang mencolok. 

"Tingkat stres meningkat sebagai penanda adanya kesalahan tata bahasa. Itu menunjukkan respons kardiovascular saat aturan tata bahasa dilanggar... Respons kardiovascular semakin kuat saat frekuensi pelanggaran semakin intens," tulis Divjak cs. 

Dalam risetnya, para peneliti melibatkan 41 orang dewasa sebagai partistipan. Usia mereka pada kisaran 18-44 tahun. Mayoritas ialah perempuan. Tidak ada yang terdeteksi punya kesulitan belajar dan gangguan pada jantung. 

Para peneliti menyimpulkan bahwa kebanyakan orang mengasimiliasi pola penggunaan bahasa yang benar ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Orang-orang lazimnya berharap lawan bicara mereka menggunakan kaidah yang benar dalam berbicara dan merespons negatif saat mendengar kesalahan tata bahasa.

"Pengukuran HRV lantas bisa digunakan untuk mengetahui pengetahuan linguistik seseorang tanpa perlu berdasar pada klaim seseorang mengenai pengetahuannya terhadap tata bahasa," jelas para peneliti. 

Selain bikin stres, grammatical error juga bisa memperkecil peluang seseorang mendapatkan teman kencan. Riset yang digelar Grammarly menunjukkan bahwa salah eja bisa menjadi "deal breaker" bagi peluang seseorang berkencan. Grammarly ialah sebuah aplikasi daring untuk mengecek dan mengoreksi tulisan dan tata bahasa dalam Bahasa Inggris. 

Dalam risetnya, para peneliti mengkaji 1.000 match di e-Harmony berbasis deskripsi di profil para pengguna. e-Harmony ialah sebuah situs kencan online yang populer di Amerika Serikat. Match ialah penanda saat satu pengguna menerima ajakan pengguna lain untuk mengobrol. 

Dari sekadar perbincangan di situs itu, sebagian berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Para peneliti Grammarly menemukan bahwa tata bahasa, spelling atau ejaan, dan penggunaan tanda baca turut memengaruhi keputusan seseorang untuk menerima ajakan kencan dari lawan jenis. 

"Secara khusus, para pria yang profilnya punya dua kesalahan ejaan peluangnya mendapat respons dari perempuan turun sekitar 14%. Para perempuan umunya menganggap satu kesalahan bisa dimaafkan, tapi dua atau lebih menunjukkan minimnya ketelitian, mengindikasikan bahwa sang pria kurang peduli terhadap bagaimana ia menampilkan dirinya," jelas Grammarly. 

Dalam surveinya, Grammarly juga menemukan sebanyak 23% partisipan mengaku tak akan segan memutuskan pasangan yang punya pemahaman tata bahasa yang buruk. Selain itu, sebanyak 75% pasangan mengaku kerap bertengkar lantaran persoalan grammar

Lantas, orang-orang seperti apa sebenarnya yang resek terhadap typo-typo atau salah eja itu? Dua pakar linguistik dari University of Michigan, Julie Boland dan Robin Queen menemukan bahwa kaum introvert jauh lebih terganggu dengan kesalahan ejaan atau tata bahasa ketimbang kelompok ekstrovert. 

Dalam sebuah eksperimen pada 2019, Boland dan Queen menunjukkan sejumlah email terhadap 80 partisipan. Email-email itu didesain sebagai respons terhadap iklan mencari teman sekamar. Sebagian email ditulis dengan tata bahasa yang baik, sedangkan lainnya ditulis penuh dengan typo.

Boland dan Queen juga mewawancarai para partisipan untuk mengetahui kepribadian mereka. Hasilnya? Kelompok introvert ternyata lebih cenderung tak mau calon teman sekamar yang punya kemampuan grammar dan ejaan yang buruk. 

"Mungkin ada sesuatu yang membuat kalangan ekstrovert lebih tak peduli akan itu (kesalahan grammar). Ekstrovert biasanya menyukai keberagaman dan interaksi dengan banyak orang. Mereka menemukan hal itu bisa memberikan energi," jelas Queen seperti dikutip dari Guardian.

 

img
Stephanus Aria
Reporter
img
Christian D Simbolon
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan