sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Mengejutkan! 5 konglomerat paling kaya berada di balik e-commerce raksasa

Para konglomerat terkaya Indonesia berlomba-lomba masuk ke e-commerce demi mengejar valuasi dan capital gain dibandingkan profit.

Syah Deva Ammurabi
Syah Deva Ammurabi Selasa, 03 Mar 2020 22:58 WIB
Mengejutkan! 5 konglomerat paling kaya berada di balik e-commerce raksasa
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 23165
Dirawat 15870
Meninggal 1418
Sembuh 5877

Pengalaman buruk dua konglomerat, Mochtar Riady dan Hary Tanoesoedibjo yang pernah gagal, seolah tak membuat para konglomerat kapok berinvestasi di bidang bisnis niaga elektronik (e-commerce). Meskipun memang perusahaan e-commerce yang beroperasi di Indonesia di bawah bayang-bayang gulung tikar.

Meski hingga kini belum memberikan keuntungan dari sisi laba, para taipan masih berlomba-lomba menanamkan modal di perusahaan e-commerce lantaran besarnya potensi pasar yang ada di Indonesia. 

Jumlah penduduk yang besar dan penetrasi internet yang relatif rendah dibandingkan negara-negara maju, membuat peluang di sektor ekonomi digital ini masih terbuka lebar.

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksi, jumlah penduduk Indonesia pada 2020 mencapai 270 juta jiwa. Kemudian, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat tingkat penetrasi internet di Indonesia baru mencapai 63,5% dari jumlah penduduk per Juni 2019.

Tak pelak, para konglomerat berlomba-lomba menginvestasikan dananya di berbagai perusahaan e-commerce, baik skala lokal maupun internasional.

Sejumlah e-commerce Indonesia yang disokong konglomerat memang mampu meraih kesuksesan dan tetap bertahan seperti Bukalapak, Tokopedia, Blibli, dan sebagainya. Beberapa perusahaan e-commerce asing pun juga berhasil masuk ke pasar Indonesia seperti Shopee, Zalora, Lazada, dan sebagainya.

Peneliti Center of Innovation and Digital Technology, Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Nailul Huda berpendapat, para investor perusahaan rintisan (start-up) digital selama ini lebih mengejar valuasi perusahaan dibandingkan laba. 

“Intinya, investor belum melihat profit sebagai indikator berinvestasi di start-up digital. Start-up digital melihat jumlah pengunjung, jumlah transaksi, dan kompetitornya bagaimana,” ujarnya saat dihubungi Alinea.id melalui sambungan telepon, Jumat (28/2).

Sponsored

Simak laporan selengkapnya di artikel berjudul "E-commerce: Taipan bertaruh cuan di toko online"

Infografik para konglomerat di balik toko online. Alinea.id/Wahyu Kurniaan

Berita Lainnya