sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id
Adhika Prasetya K

Dewa 19, kaum milenial, dan Gen-Z

Adhika Prasetya K Kamis, 04 Feb 2021 18:42 WIB

Tak ada yang bisa menyangkal bahwa grup band Dewa 19 adalah ikon musik Pop-Rock Indonesia era 90-an. Bahkan kesuksesan band asal Surabaya itu terus berlanjut hingga awal 2000-an, sampai mereka merilis album ke-8, "Republik Cinta" di 2006. Dewa 19 adalah band yang kenyang dengan award dan penghargaan.

Bahkan secara tidak langsung, Dewa 19 pernah dinobatkan sebagai band terbaik di Asia Tenggara lewat ajang Moon Award, MTV Choice Award 2000, setelah di tahun-tahun sebelumnya, deretan penghargaan nasional pun sudah mereka raih (PWI, BASF Awards, AMI Award, dll).  Julukan "Million Copies Band" pun sudah sering disematkan kepada band yang hanya menyisakan Ahmad Dhani dan Andra Ramadhan sebagai personel asli band tersebut, karena kerap menjual jutaan keping kaset dan CD lewat album-albumnya. 

Perubahan landscape industri musik

Scene musik dunia pun berubah dalam 5-6 tahun belakangan ini. Tak ada lagi orang membeli CD, apalagi kaset. Label rekaman bertumpu pada platform digital dalam memasarkan produk musik mereka (Spotify, Joox, I-Tunes, dll). Mereka dibayar oleh perusahaan-perusahaan tersebut perunduhan dan perdengar musik, bayarannya sangat kecil, itu pun masih dibagi dua antara label dan artis, namun proses bisnisnya jadi jauh lebih mudah.

Produksi rekaman fisik malah balik ke piringan hitam, sebagai koleksi dan bagian gaya hidup penghobi musik yang berduit. Youtube yang ”gratisan” juga menjadi andalan para penggemar musik yang ingin menikmati musik berkualitas bagus, tanpa membayar.

Aktivitas live music pun jadi andalan para musisi dalam meraup pundi-pundi uang, hingga label pun berlomba-lomba memiliki unit bisnis artist management. Di mana mereka mendapatkan fee dari setiap kegiatan panggung artis mereka. Beruntungnya, Dewa 19 memiliki manajemen artis sendiri, dan walaupun minus vokalis pascahengkangnya Once, masih sangat laris dibooking untuk mengisi berbagai event besar lokal maupun nasional. 

Dengan format menggandeng Ari Lasso maupun Once sebagai vokalis tamu. Masih lakunya Dewa 19 ini memang sangat ditunjang oleh lagu-lagu mereka yg sangat melegenda dan mudah diingat. Tak heran demikian, karena mereka memang berkiblat kepada band-band dunia yg melegenda pula, semacam The Beatles, Queen, U2, Led Zeppelin, Toto, dan Chicago dalam meracik lagu. Dari penggemar musik usia 50-an hingga yang berusia 20-an saat ini, nyaris tak ada yang tak mengenal hits besar mereka macam "Kangen", "Takkan Ada Cinta yg Lain", "Cukup Siti Nurbaya", " Cinta kan Membawamu" , dan juga hits era Once macam "Risalah Hati", "Pupus", " Kosong", "Romantis Picisan", dan masih banyak lagi.

“Kehebatan” musik Dewa 19 juga sangat ditunjang olehpProduksi rekaman mereka yang sangat ciamik. Mendengarkan Album "Terbaik-Terbaik", " Pandawa Lima", "Cintailah Cinta", selalu tak ubahnya seperti mendengarkan sebuah rekaman musik baru, seperti tak usang dimakan zaman. Di platform digital, untuk format band di Indonesia, Dewa 19 masuk dalam jajaran band Indonesia dengan streams terbanyak. 

Sponsored

Secara tidak mereka sadari, Dewa 19 telah menjadi semacam benchmark atau standar "band bagus" atau "musik bagus" di Indonesia, dan hal tersebut diakui serta diamini oleh para musisi muda Indonesia. Gitaris muda usia belasan, hingga saat ini masih mempelajari riff-riff dan melodi gitar Andra di berbagai lagu Dewa 19. Para panitia festival band belakangan ini pun kerapkali masih memakai Lagu-lagu Dewa 19 sebagai lagu wajib yang harus dimainkan.

Skill bermusik para personel Dewa 19 memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun tidak pernah mengenyam pendidikan musik, namun kemampuan bermusik para personel Dewa 19 termasuk di atas rata-rata, bahkan banyak orang menyebut, sangat mumpuni. Hal tersebut tak bisa dipungkiri membuat Dewa 19 menjadi band yang sangat ideal di mata penggemar musik lintas generasi. 

Berita Lainnya