sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id
Riza Annisa Pujarama

Menelisik ekonomi wilayah Papua dan Maluku

Riza Annisa Pujarama Senin, 10 Feb 2020 15:41 WIB

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 mengalami penurunan ke angka 5,02%. Berdasarkan wilayahnya, pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan yaitu di wilayah Jawa (dari 5,72% ke 5,52% di 2019) dan wilayah Maluku & Papua (dari 6,99% ke -14,39% di 2019). Wilayah Sulawesi mengalami stagnansi pertumbuhan ekonomi di 6,65%. Sementara itu wilayah Sumatera, Kalimantan, Bali & Nusa Tenggara mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi.

Meskipun secara umum pertumbuhan ekonomi wilayah menunjukkan perbaikan, namun belum mampu menahan penurunan pertumbuhan ekonomi nasional. Hal ini disebabkan kontribusi pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa sangat besar terhadap pembentukan pertumbuhan ekonomi nasional yaitu sebesar 59%, bahkan kontribusinya meningkat 0,52% dibandingkan 2018.

Peningkatan pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera, sebagai kontributor ke-dua terbesar dalam pembentukan pertumbuhan ekonomi nasional, belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di 2019 karena kontribusinya -0,26% ke 21,32% di 2019. Sementara itu penurunan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi di wilayah Maluku & Papua, tidak membuat pertumbuhan ekonomi nasional serta merta ikut jatuh lebih dalam, karena kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional masih cukup kecil yaitu sebesar 2,24% di 2019, bahkan mengalami penurunan kontribusi sebesar 0,23 persen di 2019. 

Menurunnya kontribusi wilayah Maluku & Papua terhadap perekonomian nasional menunjukkan penurunan performa perekonomian di wilayah tersebut. Penurunan performa perekonomian tersebut setidaknya dipengaruhi oleh dua hal yang pertama adalah bertumpunya perekonomian pada komoditas dan instabilitas karena situasi politik dan bencana. 

Ekonomi Papua memburuk

Penurunan performa perekonomian di wilayah Papua, Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, telah terjadi sejak memasuki triwulan III di 2018. Di Provinsi Papua, pertumbuhan ekonomi memburuk di triwulan IV-2018 hingga memasuki angka -17,79%. Penurunan ini kemudian berlanjut dan membuat pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua bertahan di angka negatif. Sementara itu kondisi performa ekonomi di Provinsi Provinsi Papua Barat sedikit lebih baik. Pertumbuhan ekonomi mulai terkoreksi kembali di triwulan III-2019 ke angka positif.  

Pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran di Provinsi Papua terutama bergantung pada komoditas hasil tambang. Peningkatan sektor tambang di 2018 mampu mendorong pertumbuhan ekonomi ke 7,37%. Di 2019, sektor tambang menurun sebesar 18,58% yang membuat ekonomi tumbuh negatif di -15,72%.

Selain pertambangan, ekonomi Provinsi Papua ditopang oleh konstruksi dan perdagangan yang kontribusinya di bawah 1%. Penurunan di sektor tambang membuat PDRB per kapita mengalami penurunan yang memengaruhi tingkat konsumsi masyarakat. Pengaruh penurunan PDRB per kapita dapat dilihat pada komponen konsumsi rumah tangga yang turun cukup signifikan dibandingkan 2018.     

Di Provinsi Papua Barat, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh sektor industri pengolahan, pertanian, pertambangan, dan konstruksi. Industri pengolahan dan pertambangan menjadi tumpuan utama pertumbuhan ekonomi. Di 2019, sektor industri pengolahan dan pertambangan tumbuh negatif yang membuat pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat terkontraksi ke 2,66% dari 6,25% di 2018.

Sementara itu dari sisi pengeluaran, ekspor yang memiliki kontribusi terbesar merosot tajam tumbuh negatif sebesar -5.55%. Penurunan dari sisi pengeluaran juga terjadi pada konsumsi rumah tangga sebagai kontributor kedua utama dalam pembentukan PDB dari sisi pengeluaran. 

Ekonomi Maluku melemah

Performa ekonomi wilayah Maluku sebenarnya lebih baik dari wilayah Papua. Performa ekonomi wilayah Maluku yang terdri dari Provinsi Maluku dan Provinsi Maluku Utara mengalami perlambatan namun masih di angka positif. Perlambatan pertumbuhan ekonomi yang signifikan terjadi di triwulan III-2019. 

Pertumbuhan ekonomi di Provinsi Maluku turun dari 5,94 di 2018 ke 5,57 di 2019. Maluku ditopang oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, administrasi pemerintahan, dan perdagangan. Sektor pertambangan dan galian pertumbuhannya terus kontraksi sejak 2017. Dari sisi pengeluaran, pembentukan PDB ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal bruto. 

Sementara di Provinsi Maluku Utara, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh sektor pertambangan, pertanian, perdagangan, dan administrasi pemerintahan yang semuanya mengalami kontraksi dibanding 2018. Sementara itu sektor industri pengolahan juga mengalami penurunan pertumbuhan yang cukup dalam dari 18,22% ke 2,11% di 2019.

Peningkatan pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto sebesar 21,76% tidak dapat mengkompensasi penurunan konsumsi rumah tangga  (dari 17,67% ke 6,31% di 2019) dan ekspor yang semakin terperosok (dari -14,36% ke -24,40%). 

Industri pengolahan dan stabilitas wilayah

Pertumbuhan ekonomi wilayah Papua dan Maluku memiliki kesamaan yaitu bahwa pembentuk PDB dari sisi pengeluaran masih ditopang oleh pertanian dan pertambangan secara umum. Sementara itu sektor industri pengolahan belum berkembang dengan baik, bahkan terus mengalami penurunan pertumbuhan.

Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian Papua dan Maluku masih bergantung pada komoditas tanpa nilai tambah sehingga pertumbuhan ekonomi akan sangat bergantung pada keberlangsungan ketersediaan sumberdaya alam dan harga komoditas. Padahal harga komoditas sangat berfluktuasi karena instabilitas ditingkat global (perang dagang, wabah penyakit, masalah geopolitik, dsb).

Ketergantungan pada komoditas pertambangan dan galian, misalnya di wilayah Papua, menyebabkan pertumbuhan ekonominya sangat berfluktuasi hingga menyentuh angka negatif. Sehingga perlu ada exit strategy dari ketergantungan sektor pertambangan dan galian. Penopang pertumbuhan ekonomi ke depannya harus diarahkan pada industri pengolahan dengan nilai tambah. Sehingga peningkatan kualitas pendidikan dan keahlian perlu dilakukan di wilayah Papua dan Maluku. 

Wilayah Papua dan Maluku pada semester II-2019 mengalami instabilitas di beberapa daerah. Hal ini pada gilirannya menghambat aktivitas perekonomian baik dari sisi penawaran dan permintaan. Konflik yang berujung bentrokan fisik di wilayah Papua secara otomatis ikut melumpuhkan aktivitas perekonomian, belum lagi ditambah akses jaringan komunikasi, transportasi, dan listrik yang sempat terganggu. Padahal hal tersebut penting dalam aktivitas ekonomi.

Sementara itu gempa besar di wilayah Maluku juga melumpuhkan aktivitas ekonomi tidak hanya dalam waktu sehari. Sehingga kedepannya perlu ada upaya dan perencanaan khusus dari Pemerintah, baik pusat dan daerah untuk dapat menyiapkan tindakan prefentif dalam penanggulangan potensi konflik dan potensi bencana. Stabilitas wilayah diperlukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. 

Pada akhirnya, pembangunan infrastruktur yang masif dan pengembangan kawasan ekonomi khusus di wilayah Papua dan Maluku perlu ditingkatkan kebermanfaatannya dalam mendorong aktivitas perekonomian di Papua dan Maluku. Perlu ada perencanaan dan pengawasan khusus untuk memastikan bahwa pembangunan infrastruktur dan keberadaan kasawasan khusus ekonomi dapat mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi wilayah sehingga ujungnya dapat memeberikan peningkatan kontribusi pada perekonomian nasional. Dengan meningkatnya kontribusi ekonomi Papua dan Maluku maka jalan menuju pengentasan ketimpangan wilayah Barat dan wilayah Timur akan semakin terbuka. 

Berita Lainnya