close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Akmal Nasery Basral
icon caption
Akmal Nasery Basral
Kolom
Selasa, 09 April 2024 13:15

Ragnar & natura tunggal ika

Melalui proses naturalisasi, melebur menjadi jiwa patriot Indonesia yang satu untuk memperkuat kepak sayap Tim Garuda agar terus terbang.
swipe

Jika pesepak bola Karim Benzema atau Mohamed Salah berlaga membela timnya di lapangan hijau sambil menjalan ibadah puasa, itu bisa dipahami. Mereka muslim sejak lahir. Tetapi jika Ragnar Oratmangoen yang melakukannya menjadi sedikit berbeda. Sebab dia seorang mualaf.

Di tengah pertandingan klub Fortuna Sittard yang dibelanya melawan Sparta Rotterdam, Minggu (31/3), Ragnar menepi ketika waktu berbuka tiba. Pesepakbola berdarah Belanda-Indonesia berusia 26 tahun itu, minum dalam posisi berlutut, tidak berdiri (Ini menunjukkan Ragnar paham dan mematuhi pesan Nabi Muhammad ﷺ yang melarang umat Islam makan dan minum dalam posisi berdiri seperti diriwayatkan Anas bin Malik r.a. dalam hadits Imam Muslim #2024). Momen Ragnar buka puasa itu diabadikan fotografer olahraga Pieter Stam de Jonge dan viral sepanjang pekan ini. Bukan sekarang saja Ragnar melakukannya, juga dalam pertandingan lain selama bulan puasa.

Ragnar lahir di kota kecil Oss--dengan populasi 93.000 orang--dari pasangan penganut Nasrani, Philip Oratmangoen yang berdarah Maluku dan Maya Timers yang asli Belanda. Nama Ragnar berasal dari kata dalam bahasa Norse (Nordik Kuno) yang berarti ‘pejuang’. Juga memiliki arti ‘penghakiman’, terkait mitologi Nordik tentang Hari Penghakiman yang disebut ‘ragnarök’—kata ini lebih dikenal Gen Y dan Gen Z sebagai nama gim online populer.

Perjalanan spiritual Ragnar menjadi muslim berlangsung sejak remaja. Di dekat lapangan sepak bola tempat dia dan teman-temannya bermain ada satu masjid. “Jika terdengar azan, teman-teman muslim saya langsung ke masjid, permainan terhenti. Mereka mengajak saya menunggu di halaman masjid sampai salat selesai,” ungkap Ragnar dalam wawancara khusus dengan Kumparan, Jumat (5/4).

Ternyata imam masjid sosok yang ramah. Dia mengajak ngobrol Ragnar, membuat remaja itu senang. Mereka terlibat beberapa kali obrolan setelah itu. “Akhirnya saya putuskan memeluk Islam saat berumur 15 tahun,” ungkapnya. “Papa dan Mama tidak keberatan.” Ramadan ini merupakan tahun ke-11 baginya berpuasa.

“Puasa tidak mengganggu performa pesepak bola meski termasuk olahraga yang paling menguras tenaga. Buktinya Benzema bisa mencetak hattrick,”  papar Ragnar merujuk prestasi istimewa bintang Real Madrid itu saat menjungkalkan Chelsea pada perempat final Liga Champions 2022/2023, yang juga bertepatan dengan bulan Ramadan. 

Ragnar Oratmangoen belum sebulan memegang paspor Indonesia, setelah diambil sumpahnya 18 Maret lalu. Dalam pertandingan debutnya sebagai  punggawa timnas Indonesia melawan Vietnam di Stadion My Dinh sepekan kemudian, dia menceploskan satu gol yang ikut membantu kemenangan 3-0 atas tuan rumah, sekaligus menghancurkan mitos Indonesia tak pernah menang jika bertanding di Vietnam selama 20 tahun terakhir. Tak urung Ragnar menjadi idola baru para sepak bola tanah air yang mengelu-elukannya.  “Support fans Indonesia kepada saya benar-benar gila!” katanya senang.

Ragnar merupakan bagian dari sensasi kebangkitan timnas melalui program naturalisasi yang dijalankan Coach Shin (Tae-yong) dan didukung penuh Ketua Umum PSSI Erick Thohir yang pernah menjadi Presiden Inter Milan. Nama-nama pemain program naturalisasi lainnya adalah Thom “The Professor” Haye, Jay Idzes, Nathan Tjoe-A-On, Justin Hubner, Rafael Struick, Jordi Amat, Ivar Jenner, Marc Klok, Sandy Walsh, Shayne Pattinama, Elkan Baggott. Daftar ini masih bisa tambah panjang dengan rencana naturalisasi Calvin Verdonk, Ole Romeny, Jens Raven, Jairo Riedewald, dan lainnya.

Kebijakan “menyuntik pemain asing” yang tidak lahir di Indonesia dan tidak ditempa dan berlaga dalam sistem kompetisi domestik ini pada awalnya merupakan kontroversi besar atas nama nasionalisme. Banyak yang menentang. Namun setelah melihat prestasi timnas yang terus moncer dan mengalami peningkatan signifikan di  peringkat FIFA (kini pada #134 setelah kemenangan atas Vietnam, namun Erick Thohir masih membidik 100 besar), semakin banyak masyarakat Indonesia mendukung program naturalisasi ini. 

Ada dua hal penyebabnya.

Pertama, pemain yang dinaturalisasi masih punya darah Indonesia, entah dari ayah-ibu atau kakek-nenek mereka. Ini berbeda dengan pemain naturalisasi timnas Malaysia yang tidak mengharuskan adanya hubungan darah. Bagi negeri jiran, jika ada pemain asing yang sudah merumput beberapa tahun di liga mereka bisa langsung dinaturalisasi.

Kedua, program naturalisasi timnas negara lain yang paling sukses sejauh ini ditunjukkan oleh Maroko yang berhasil meraih peringkat empat (mencapai semifinal) di Piala Dunia Qatar 2022. Ini prestasi spektakuler yang tak pernah dibayangkan bahkan oleh mereka sendiri sebelum turnamen dimulai dimulai.

Dari 26 nama pesepakbola yang dipanggil Pelatih Walid Regragui untuk menyusun timnas Maroko, 14 di antara mereka adalah pemain hasil naturalisasi yang lahir di luar Maroko dan mengikuti kompetisi di sejumlah liga Eropa. Di antaranya Hakim Ziyech (lahir di Belanda; klub terakhir Chelsea), Achraf Hakmi (Spanyol; Paris-Saint-Germain), Noussair Mazraoui (Belanda; Bayern Munich), dan Yassine Bounou (Kanada; Sevilla).

Nasionalisme di dalam sepak bola--dan dalam bidang kehidupan apa pun--sudah tak bisa lagi dilihat secara sempit hanya berdasarkan tempat lahir semata di tengah ‘dunia tanpa batas’ (borderless world)—meminjam istilah yang digunakan Kenichi Ohmae dalam buku berjudul sama.

Hatta seseorang yang lahir di Tanah Ibu Pertiwi, besar dan bekerja di Indonesia, tetapi jika tega melakukan korupsi sampai Rp271 triliun seperti komplotan haram jadah yang menggasak PT Timah—seorang pelaku bahkan pernah menjabat Ketua Satgas Tambang Timah Ilegal!—maka orang-orang ini sama sekali bukan nasionalis, berapa pun besar pajak pribadi yang pernah mereka bayarkan kepada negara. Sejatinya, mereka adalah pengkhianat bangsa.

Kembali ke topik utama tentang timnas PSSI, karena itu sangat disayangkan jika dari kalangan pemain sepak bola sendiri sampai muncul resistensi terhadap program naturalisasi seperti pernyataan kontroversial M. Tahir, 30 tahun, eks-pemain PSBS Biak, beberapa hari lalu.

Dalam siniar di kanal YouTube Akmal Marhali, pengamat sepak bola dan Koordinator Save Our Soccer, Tahir menganggap remeh para pemain hasil naturalisasi sekaligus mengglorifikasi pemain Liga 1. Dia usulkan PSSI melakukan pertandingan antara dua kelompok pemain itu. Kontan saja warganet merespon sengit dengan menyuruh Tahir untuk memperbaiki kemampuannya sendiri sebagai pemain Liga 2, ketimbang nyinyir tak keruan.

Tahir lupa bahwa naturalisasi adalah sebutan untuk proses, bukan untuk status yang melekat permanen. Pesepak bola seperti Ragnar Oratmangoen yang sudah mengucapkan sumpah setia sebagai WNI adalah kini atlet Indonesia, layaknya Asnawi Mangkualam, Pratama Arhan, Ricky Kambuaya atau Ramadhan Sananta.

Melalui Ragnar, ‘Profesor’ Thom Haye. ‘Bang Jay’ Jay Idzes, Justin Hubner yang ‘Ganteng-Ganteng Srigala’ (agresif di lapangan dan galak terhadap pemain lawan yang suka membully Indonesia seperti pemain Vietnam Nguyen Van Truong yang dipelototi Justin), dan pemain-main diaspora Indonesia lainnya, yang sedang terjadi pada hakekatnya  adalah "Natura Tunggal Ika".  

Melalui proses naturalisasi, melebur menjadi jiwa patriot Indonesia yang satu untuk memperkuat kepak sayap Tim Garuda agar terus terbang tinggi menuju tujuan: masuk kualifikasi Piala Dunia 2026. 

Sudah saatnya Indonesia mencetak sejarah baru sebagai negara dengan kemampuan sepak bola terhebat di Asia Tenggara, dan salah satu yang terkuat di Asia. 

Kalau tidak sekarang, kapan lagi? 

Kalau tidak dengan dukungan kita sesama anak bangsa, berharap dari siapa lagi?

img
Akmal Nasery Basral
Kolomnis
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan