logo alinea.id logo alinea.id

Dapat Udin Award 2019, platform macam IndonesiaLeaks perlu digalakkan

IndonesiaLeaks diganjar Udin Award 2019 berkat skandal 'Buku Merah'.

Robertus Rony Setiawan
Robertus Rony Setiawan Kamis, 08 Agst 2019 22:18 WIB
Dapat Udin Award 2019, platform macam IndonesiaLeaks perlu digalakkan

Platform jurnalistik IndonesiaLeaks memperoleh penghargaan Udin Award tahun 2019. Kerja jurnalistik IndonesiaLeaks dinilai berdampak siginifikan bagi kepentingan publik.

Pengumuman penghargaan Udin Award 2019 dilakukan Rabu malam (7/8) bersamaan dengan malam peringatan ulang tahun ke-25 Aliansi Jurnalis Independen (AJI), di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan.

Puri Kencana Putri, seorang anggota tim juri Udin Award 2019, menjelaskan, dari puluhan kandidat penerima Udin Award, IndonesiaLeaks memiliki banyak kualifikasi yang sesuai dengan kriteria. 

Secara khusus, IndonesiaLeaks terpilih sebagai penerima Udin Award lantaran berhasil mendukung upaya pemberantasan korupsi melalui laporan “Skandal Buku Merah”. Pada 8 Oktober 2018, IndonesiaLeaks menyampaikan temuan atas kasus penghilangan barang bukti korupsi yang diduga melibatkan nama seorang pejabat tinggi kepolisian.

“Salah satu alasan mendasar ialah IndonesiaLeaks mampu menciptakan wadah komunikasi secara mandiri yang memungkinkan publik untuk dapat memberikan masukan atau informasi rahasia tanpa tekanan dari pihak luar,” ujar Putri, Rabu (7/8). 

Hal ini, menurut Puri, menjadi jalan keluar atas hambatan yang kerap diterima jurnalis di kebanyakan media konvensional.

“Dalam kebanyakan media konvensional, mereka yang memberikan informasi itu mudah dilacak dan ditekan. Tapi lewat platform yang sedang dikembangkan oleh teman-teman IndonesiaLeaks, yang juga sangat kami nilai lebih, adalah IndonesiaLeaks sangat menjamin keamanan dari para whistle blower (pembocor informasi),” ujar Puri yang juga anggota Amnesty Internasional Indonesia.

Di samping itu, kata Puri, IndonesiaLeaks menerapkan verifikasi yang ketat dan teliti dalam menguji kesahihan informasi. Selain itu, Puri menekankan, penghargaan Udin Award tahun ini lebih dari sekadar pengakuan atas kerja IndonesiaLeaks yang penuh risiko.

Sponsored

“Penghargaan ini juga untuk memberi pesan kuat kepada pihak yang meneror para wartawan dalam konsorsium Indonesialeaks, bahwa apapun upaya teror yang dilakukan terhadap tim IndonesiaLeaks, tetap ada orang-orang yang berdiri bersama mendukung IndonesiaLeaks,” tuturnya.

Meneroka IndonesiaLeaks

Mencatut nama wartawan Harian Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin, Udin Award digelar setiap tahun untuk mengapresiasi seorang atau sekelompok jurnalis yang memiliki dedikasi tinggi dan komitmen kuat bagi upaya menegakkan kebebasan pers dan kebenaran-keadilan.

Di sisi lain, penghargaan Udin Award ditanggapi biasa saja oleh Stefanus Felix Lamuri, salah satu perwakilan penggagas IndonesiaLeaks dari Tempo Institute. Ada tiga lembaga lain penggagas IndonesiaLeaks, yaitu Free Press Unlimited (FPU), AJI, dan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN).

Dihubungi terpisah, Kamis (8/8), Felix mengatakan, bila mengacu perkembangan jurnalisme di luar negeri, penghargaan Udin Award merupakan hal yang cukup lazim. Menurutnya, IndonesiaLeaks yang dikembangkan dengan merujuk beberapa praktik serupa di negara lain, seperti Belanda, Panama, dan Nigeria, sudah sepatutnya perlu digiatkan.

“Mau dapat (penghargaan) atau tidak, kami tetap investigasi. Kami akan bekerja berdasarkan data atau informasi dari whistle blower,” kata Felix. 

Felix melanjutkan, pola kerja IndonesiaLeaks berlangsung dalam dua tim yang terpisah, yakni mitra dan media. Sejauh ini, ada sembilan media dan lima mitra atau lembaga swadaya masyarakat yang tergabung dalam IndonesiaLeaks.

Mereka antara lain adalah Kantor Berita Radio 68H, Independen.id, CNN Indonesia, dan Tempo; juga mitra lembaga LBH Pers, ICW, Greenpeace Indonesia, dan Yayasan Auriga Nusantara. Menurut Felix, tahap pengecekan terhadap data dan sumber infomasi dari mitra dijalankan secara rigid oleh anggota media dengan prinsip sekuritas dan anonimitas.

“Ada prinsip sekuritas atau keamanan bagi dokumen data yang diterima, sementara anonimitas untuk sumber yang memberikan informasi,” ujar Felix menerangkan.