close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi. Pixabay
icon caption
Ilustrasi. Pixabay
Media
Minggu, 12 Desember 2021 14:51

Indonesia Fact-checking Summit 2021 bahas isu periksa fakta

Rangkaian konferensi diselenggarakan sebagai upaya mengkampanyekan ekosistem informasi yang sehat dan bebas dari peredaran informasi palsu.
swipe

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo), dan jaringan media Cekfakta.com akan menggelar Indonesia Fact-checking Summit 2021. Kegiatan yang diselenggarakan pertama kali di Indonesia ini, berlangsung Kamis-Senin, 16-20 Desember 2021 secara daring.

Rangkaian konferensi diselenggarakan sebagai upaya mengkampanyekan pentingnya ekosistem informasi yang sehat dan bebas dari peredaran informasi palsu. Peredaran informasi palsu masih menjadi ancaman bagi masyarakat luas. Informasi palsu masih kerap ditemukan dalam berbagai platform. Bahkan, tak sekali dua kali, lebih viral dari berita terverifikasi yang dihasilkan media atau hasil periksa fakta dibuat oleh jaringan Cekfakta.com 

“Paparan informasi palsu yang dibiarkan begitu saja bisa memengaruhi pola pikir masyarakat dan mengancam demokrasi. Jika dibiarkan masyarakat tak lagi mampu memilah informasi bohong dan fakta,” ujar Ketua AMSI Wenseslaus Manggut dalam keterangan tertulis, Minggu (12/12).

Sebanyak 22 media di Jakarta dan beberapa di daerah mendukung kolaborasi Cekfakta.com yang diluncurkan sejak awal Mei 2018.

Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho mengatakan, kolaborasi Cekfakta.com diharapkan dapat meminimalisir risiko dari pengambilan keputusan berdasarkan informasi palsu. “Pengambilan keputusan karena informasi palsu dapat merugikan bahkan membahayakan individu, komunitas hingga masyarakat itu sendiri,” ucapnya. 

Konferensi akan berisi rangkaian diskusi terfokus (FGD), mini workshop, training. Puncak acara puncak acara akan berlangsung 20 Desember 2021 dengan webinar Fact Checking Summit 2021. Isu-isu terbaru dalam praktik cek fakta akan dibahas, seperti fenomena penyematan stempel hoaks pada sejumlah karya jurnalistik yang sudah dihasilkan melalui proses verifikasi. Ironisnya, pembubuhan stempel dilakukan tanpa dasar dan argumentasi yang kuat. Selain itu, isu etik, praktik-praktik ancaman, dan doxing (mempublikasikan data pribadi pemeriksa fakta bertujuan negatif) terhadap para fact checker ‘pemeriksa fakta’ juga akan dibahas dalam forum ini. 

Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia Sasmito mengatakan, bahaya informasi bohong dan stempel hoaks pada karya jurnalistik sudah terlihat saat pandemi Covid-19 ini.

“Keselamatan publik yang menjadi taruhannya. Karena itu, Fact Checking Summit 2021 menjadi ruang mengkampanyekan perlunya kolaborasi dalam memerangi hoaks dan pelabelan sembarangan pada karya jurnalistik,” ucapnya.

Konferensi ini didukung Google News Initiative yang merupakan bagian dari APAC Trusted Media Summit 2021. Kegiatan terbuka untuk diikuti pemeriksa fakta dari media, jurnalis, kampus, dan berbagai komunitas lainnya yang memiliki kepedulian menciptakan ekosistem informasi yang sehat bebas dari hoaks. 

Pendaftaran FGD dan training silakan mengisi link https://bit.ly/PendaftaranFGDIndonesiaFactCheckingSummit2021. Link Google Meet akan dikirim oleh panitia pada Rabu, 15 Desember 2021. Sedangkan pendaftaran webinar silakan mengisi link bit.ly/DaftarWebinarFact-CheckingSummit2021 link otomatis akan dikirim ke email yang didaftarkan. Informasi lanjut tentang Indonesia Fact-checking Summit 2021 dapat diikuti di sosmed IG/ Facebook AMSI, AJI, Mafindo dan KBR atau menghubungi [email protected].

Artikel ini ditulis oleh :

img
Manda Firmansyah
Reporter
img
Hermansah
Editor
Bagikan :
×
cari
bagikan