close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Dilla Djalil Daniel, menjadi salah satu dari lima pemenang karya foto terbaik. Dilla mengirimkan karya foto berjudul “The Forest Orphanage”./ Website Alfred Fried
icon caption
Dilla Djalil Daniel, menjadi salah satu dari lima pemenang karya foto terbaik. Dilla mengirimkan karya foto berjudul “The Forest Orphanage”./ Website Alfred Fried
Media
Senin, 16 September 2019 16:22

Fotografer asal Indonesia menang penghargaan internasional

Fotografer Dilla Djalil Daniel menangkap upaya rehabilitasi bayi orangutan yang telah terpisah dari induknya.
swipe

Kompetisi fotografi dunia The Alfred Fried Photography Award menganugerahi medali emas kepada lima pemenang karya foto terbaik tahun 2019. Diumumkan di Wina, Austria, Kamis lalu (12/9), pelaksana The Alfred Fried Photography Award memberikan apresiasi atas karya terpilih dari seleksi atas 17.387 karya foto dari 113 negara. 

Fotografer asal Indonesia, Dilla Djalil Daniel, menjadi salah satu dari lima pemenang karya foto terbaik. Dilla mengirimkan karya foto berjudul “The Forest Orphanage”.

Dilla menampilkan enam belas karya foto yang memuat puluhan satwa bayi orangutan di pusat rehabilitasi di Kalimantan Barat. Dalam format hitam-putih, foto-foto itu secara kuat memperlihatkan sejumlah interaksi di antara sekawanan orangutan, juga kontak orangutan dengan manusia. Beberapa interaksi itu berlatar hutan Indonesia yang asri dan aktivitas perawatan oleh petugas rehabilitasi orangutan.

Dilla merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia dalam kompetisi ini. Dari ribuan karya foto yang diterima panitia, karya terbanyak berasal dari Cina, yakni 271 karya foto, 187 karya dari India, 116 dari Rusia, 111 dari Amerika Serikat, dan 103 dari Jerman.

Kompetisi fotografi dunia The Alfred Fried Photography Award menganugerahi medali emas kepada lima pemenang karya foto terbaik tahun 2019. Diumumkan di Wina, Austria, Kamis lalu (12/9), pelaksana The Alfred Fried Photography Award memberikan apresiasi atas karya terpilih dari seleksi atas 17.387 karya foto dari 113 negara. 

Fotografer asal Indonesia, Dilla Djalil Daniel, menjadi salah satu dari lima pemenang karya foto terbaik. Dilla mengirimkan karya foto berjudul “The Forest Orphanage”.

Dilla menampilkan enam belas karya foto yang memuat puluhan satwa bayi orangutan di pusat rehabilitasi di Kalimantan Barat. Dalam format hitam-putih, foto-foto itu secara kuat memperlihatkan sejumlah interaksi di antara sekawanan orangutan, juga kontak orangutan dengan manusia. Beberapa interaksi itu berlatar hutan Indonesia yang asri dan aktivitas perawatan oleh petugas rehabilitasi orangutan.

Dilla merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia dalam kompetisi ini. Dari ribuan karya foto yang diterima panitia, karya terbanyak berasal dari Cina, yakni 271 karya foto, 187 karya dari India, 116 dari Rusia, 111 dari Amerika Serikat, dan 103 dari Jerman.

Pecinta Hewan

Dilla Djalil Daniel yang dilahirkan di Jakarta pada 1966 telah mengenal kamera sejak usia sembilan tahun. Kecintaannya dengan fotografi berdampingan dengan perhatiannya pada anjing-anjing kesayangannya. 

Lambat laun hal itu tertanam dalam benaknya. Selain memelihara dua ekor anjing, Dilla merawat dua ekor kucing dan satu ekor kuda. Hal itu mempengaruhi dia untuk selalu memperhatikan isu satwa, setelah lebih dahulu melepaskan keinginannya menjadi dokter hewan.

Akhirnya melalui seni fotografi, bertahun-tahun Dilla menangkap momen-momen menyentuh dalam perlakuan manusia terhadap binatang. Sambil berkecimpung dalam aktivitas lembaga swadaya masyarakat yang kerap mendatangi berbagai daerah, Dilla mencari lokasi-lokasi perlindungan bagi hewan. Misalnya di sebuah rumah sakit gajah di Thailand, dan pusat penyelamatan untuk keledai yang diperlakukan buruk di Nepal.

Dilla menjalani bermacam lokakarya bersama fotografer terkenal, seperti Alex Webb dan Peter Turnley, di Istanbul, Buenos Aires, dan Chiang Mai. Hal itu mengasahnya untuk menjadi pemotret dengan kepekaan khusus dan mendalam terkait upaya pelestarian kehidupan satwa.

Dalam karya foto “The Forest Orphanage”, Dilla menampilkan nuansa hangat dan menyentuh yang berlangsung dalam sebuah pusat rehabilitasi bagi orangutan yang telah kehilangan induknya di Kalimantan Barat. Selain memotret kondisi orangutan itu, Dilla memperdalam makna karya fotografinya melalui pendekatan bercerita seperti esai foto.

Keenambelas foto karyanya dengan ringkas mengesankan kepedihan bayi-bayi orangutan yang harus menjalani rehabilitasi sebagai bekal mereka hidup mandiri di alam bebas. Induk orangutan sudah banyak yang terbunuh atau dijual lantaran praktik pemburuan yang dilakukan manusia. Tak hanya menarik dan ceria, foto-foto Dilla menggambarkan sebuah emosi perjuangan bayi orangutan bertahan hidup tanpa asuhan induknya.

Foto karya Dilla Djalil Daniel yang mendapatkan penghargaan dalam The Alfred Fried Photography Award./Website Alfred Fried

 

Dalam catatan Peter-Matthias Gaede, panitia The Alfred Fried Photography Award 2019, Dilla disebut menyampaikan ajakan untuk memahami emosi yang dirasakan setiap satwa.

Lebih dari itu, Dilla punya harapan agar manusia tidak dengan sewenang-wenang mengorbankan satwa liar, termasuk orangutan, demi pemenuhan kebutuhan konsumsi, gengsi, dan gaya hidup semata yang bersifat sementara. Sebaliknya, lewat tangkapan lensa kameranya, Dilla mengkritik dan mengingatkan manusia agar lebih berempati dan simpati kepada satwa.

Penghargaan Fotografi Alfred Fried didirikan pada 2013 untuk menghadirkan karya fotografi seluruh dunia yang mengantarkan pesan perdamaian, simpatik, dan nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti empati dan penghormatan bagi pelestarian bumi.

Selama ini, penghargaan fotografi lebih banyak berfokus pada konflik dan krisis yang terjadi di dunia, seperti perang dan bencana. Maka ajang Penghargaan Fotografi Alfred Fried dimaksudkan membangkitkan semangat dan respons publik untuk bertindak aktif terhadap masalah dunia.

Selain karya fotografi Dilla, empat karya pemenang lain menampilkan aspek kemanusiaan dalam jagat lingkungan hidup, yaitu “FridaysForFuture Climate Protests” karya Stefan Boness dari Jerman, “Le temps retrouvé” karya Alain Laboile (Perancis), “BORN FREE – Mandela’s Generation of Hope” karya Ilvy Njiokiktjien (Belanda), dan “The Rugbywomen: Tackling Stereotypes” Camilo Leon-Quijano (Perancis).

Secara khusus Stefan Boness diganjar sebagai pemenang foto terbaik dunia bertema perdamaian. Stefan menampilkan foto-foto unjuk rasa yang menyuarakan alarm perusakan bumi yang kian genting. Karya-karya foto yang terarsip dalam laman https://www.friedaward.com itu mempertegas bahwa ajang Penghargaan Fotografi Alfred Fried bertujuan menemukan gambar terbaik dari perspektif kemanusiaan yang lebih baik demi mendorong semangat positif bagi perubahan dunia. 

img
Robertus Rony Setiawan
Reporter
img
Mona Tobing
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan