logo alinea.id logo alinea.id

Mengapa taipan Amerika ramai-ramai beli media?

Bagaimana sebaiknya kita merespons tren para konglomerat membeli media, bahagia atau khawatir?

Purnama Ayu Rizky
Purnama Ayu Rizky Sabtu, 22 Des 2018 15:18 WIB
Mengapa taipan Amerika ramai-ramai beli media?

Donald E. Graham gusar, usai membahas masa depan koran legendaris The Washington Post dengan keponakannya Katharine Weymouth pada penghujung 2012. Oplah yang terjun bebas, menjamurnya media daring, dan turunnya pendapatan iklan selama tujuh tahun terakhir, menjadi pertimbangan mereka untuk menjual legasi keluarga yang telah dikelola selama sepuluh windu tersebut. Namun, perkara menjual media rupanya tak sederhana. Lusinan taipan termasuk bos Amazon.com Jeff Bezos dihubungi, tapi nihil. Berbulan-bulan diam, Graham dikejutkan dengan surel dari Bezos pada 8 Juli 2013. “Ayo kita bertemu,” kenang Graham dalam wawancaranya dengan Nieman Report.

10 Juli 2013, pertemuan keduanya digelar, berbarengan dengan konferensi media tahunan Allen & Co di Sun Valley, Idaho, AS. Mengenakan kemeja kotak-kotak, Graham asyik berbincang dengan Bezos yang hari itu santai berkaos polo dan bertopi putih. “Kamu yakin, aku bisa membantu? Kenapa aku? Aku sama sekali buta dengan bisnis media,” ungkap Bezos.

“Kami tidak butuh orang yang paham soal bisnis media, sebab orang semacam itu sangat mudah ditemukan di Paman Sam. Kami hanya butuh orang yang mengerti soal internet,” jawab Graham. Internet, lanjutnya, adalah berkah juga musibah bagi sebagian besar media di AS. Keberadaan internet telah mengubah lanskap bisnis media secara total. Tak heran jika sejumlah koran AS, mulai Tribune Co, Rocky Mountain News, majalah Newsweek, New Republic, hingga The Boston Globe rontok.

Koran The Washington Post sendiri sebetulnya sudah lama diramalkan menuju senjakalanya. Dave Kindred, wartawan peraih nominasi Pulitzer Prize dalam “Morning Miracle: Inside The Washington Post” (2010) mencatat, koran yang beken dengan liputan skandal Watergate dan Pentagon Papers itu telah memecat 400 staf redaksi, dan kehilangan 136.000 pelanggan. Sementara kerugian operasi pada 2008 hampir mencapai US$193 juta. Koran yang lahir pada 1877 ini bahkan sempat mengandalkan hidup dari Kaplan Inc., anak perusahaan pelatihan dan persiapan ujian.

Kantor The Washington Post di Amerika./ Getty Images

Sampai akhirnya Graham memutuskan untuk menawarkan perusahaannya pada Bezos, orang terkaya nomor wahid versi Forbes dengan kekayaan sebesar US$ 127,3 miliar atau setara Rp1.752 triliun. Bezos mengaku membeli koran seharga US$ 250 juta ini dari kantong pribadinya, bukan atas nama Amazon.com. Alasannya, Bezos menganggap The Washington Post adalah lembaga penting yang punya tradisi independensi yang panjang di AS, bahkan dunia.

Sehingga, dalam pernyataan sikapnya, ia berkomitmen akan terus membantu koran itu untuk tetap independen. “Nilai-nilai The Post tidak perlu berubah, dan bahwa tugas koran itu akan tetap demi kepentingan pembacanya, bukan demi kepentingan pribadi pemiliknya,” janji Bezos, seperti dilansir dari The Washington Post. Dalam praktiknya, Bezos tetap tinggal di Seattle, kantor pusat Amazon dan mendelegasikan operasional harian koran pada para manajer. Namun, apakah betul Bezos tak akan ingkar janji?

 Prabowo dan halusinasi kuasa

Prabowo dan halusinasi kuasa

Kamis, 18 Apr 2019 20:53 WIB
Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Sisi lain keluarga Pierre Tendean

Kamis, 18 Apr 2019 14:48 WIB