sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pentingnya pelatihan khusus humas rumah sakit untuk memecahkan masalah

Begitu banyak tugas Humas di rumah sakit, hingga perlu mendapatkan pelatihan khusus atau pendidikan khusus.

Arpan Rachman
Arpan Rachman Kamis, 09 Sep 2021 10:13 WIB
Pentingnya pelatihan khusus humas rumah sakit untuk memecahkan masalah

Humas (public relations) merupakan profesi yang sama beratnya dengan profesi lain yang ada di rumah sakit. Sama-sama punya tanggung jawab yang tidak ringan seperti dokter dan tenaga medis lain. Begitu banyak tugas humas di rumah sakit, hingga perlu mendapatkan pelatihan khusus atau pendidikan khusus untuk menjadi seorang profesional.

"Memang ada pendidikan public relations, marketing, manajemen, kemudian juga PKRS (Promosi Kesehatan Rumah Sakit). Pendidikan yang seperti itu dapat menjadi dasar yang baik," kata Vivi Vira Viridianti, koordinator Hukum, Organisasi dan Hubungan Masyarakat di RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Vivi sendiri adalah insinyur. "Kalau saya bilang saya ini tersesat di jalan yang benar. Pendidikan saya pun sebenarnya insinyur nuklir," tambahnya.

Vivi tersesat jauh dari insinyur nuklir menjadi humas. Dia sendiri mengaku tidak tahu pasti, tapi orang lain yang menilai pengetahuannya. Jadi sebenarnya, katanya, humas profesional berdasarkan ilmu oke, tapi kan dia tidak nyambung dari insinyur nuklir jadi humas. Tapi Vivi belajar dan belajar terus. Dia mengikuti perhimpunan seperti Perhimpunan Humas Rumah Sakit Indonesia (Perhumasri). Di situ dia memperoleh banyak ilmu kehumasan.

"Sampai sekarang pun saya masih terus belajar. Misalnya Tiktok bagaimana? Atau seperti IG Live 'kan dipelajari juga. Dulu kan tidak ada kuliah seperti ini? Jadi memang perkembangan teknologi itu membuat kita belajar terus. Ketika berkembang ke media sosial, ya kita belajar lagi," ujar Vivi dalam siaran langsung Instagram (IG live) Perhumasri Sulawesi Selatan, akhir pekan lalu.

IG live dipandu sekretaris Perhumasri Sulsel dr. Nurhidayat Latief menguraikan pengalaman Humas senior di dua rumah sakit besar Indonesia yang sudah cukup lama menggeluti dunia kehumasan.

Vivi mengatakan dia tidak harus yang memegang semua urusan. Tetapi bagaimana dirinya mengelola semua itu, hingga kalau ingin menjadi profesional, maka latar belakang pendidikan itu penting. Nyatanya latar belakang Vivi tidak linear dengan Humas. Namun, dia bisa menjabat koordinator kehumasan di RSUP Dr. Kariadi Semarang.

Dulu jabatannya Kepala Bidang Hukum, Organisasi, dan Humas. Kini Eselon III sudah dihilangkan menjadi jabatan fungsional, maka dia berfungsi sebagai koordinator. Dia juga belajar komunikasi efektif. Semakin lama, Vivi sudah mulai tenang menemukan strategi memecahkan suatu masalah. Dia mengikuti organisasi Perhumasri supaya wawasan juga luas dan ilmunya bertambah banyak. Dia bertukar pengalaman tidak hanya dengan senior saja, tapi dari yang muda-muda bagaimana teknik yang bagus, ide-ide segar.

Sponsored

"Humas harus kreatif, inovatif, terus-menerus. Ada juga program sertifikasi kehumasan, saya dulu ikut yang angkatan pertama. Waktu itu saya masih kasubag humas. Motivasi saya mengikuti program itu ingin mengerti bagaimana sertifikasi, bagaimana kehumasan saya diakui. Saya ingin tahu. Ternyata saya bisa ikut sampai tingkat manajerial. Kemudian, lulus dan diakui. Jadi saya percaya diri karena ada lembaga yang mengakui saya sebagai humas. Jadi memang perlu sertifikat dan pengembangan. Pengembangannya bagaimana, belajarnya di mana, ikut saja Perhumasri," katanya.

Sementara menurut Hidayati, Sub-koordinator Humas RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang sangat penting seorang humas ikut program sertifikasi, apalagi yang diadakan Perhumasri. Hidayati sudah sering pindah bagian saat bekerja di rumah sakit, bahkan sampai lima kali. Dari bagian Sumber Daya Manusia ditarik lagi ke humas, pindah ke fasilitas pelayanan medik, dimutasi lagi ke Humas.

"Mungkin di situ diakui bahwa saya memang lebih cocok di humas. Jadi ada pengakuan di tingkat manajemen dan kepercayaan dari teman-teman sejawat, mungkin dianggap lebih cocok di humas, jadi bolak-balik ke situ juga. Dengan ikut sertifikasi sebenarnya sangat penting, bukan hanya misalnya guru perlu ikut sertifikasi atau dokter saja. Mereka dengan bangga menyatakan: Kami sudah tersertifikasi. Kita humas sendiri dengan sertifikasi itu memiliki kebanggaan tersendiri bahwa kinerja kita diakui," tuturnya.

Bisa saja, katanya, selama ini seorang humas sudah menguasai bidang ini-itu. Tapi ketika disertifikasi ternyata masih banyak yang belum lulus. "Berarti dengan program sertifikasi itu, kita bisa mengukur kemampuan diri kita. Selain dari itu, selain menambah kepercayaan diri kita, menambah kepercayaan juga untuk tempat organisasi kita," imbuhnya. Salah satu pertimbangan rekruitmen atau menunjuk seorang pejabat adalah sertifikasi.

"Kalau rumah sakit mau mengangkat seseorang, maka sertifikasi itu adalah salah satu poin yang menjadi pertimbangan untuk menempatkan seseorang selain dari ijazah. Saya juga dulu dari keperawatan, juga pernah menjadi bagian administrasi. Jadi sertifikasi itu suatu jaminan untuk mengetahui kemampuan kita, bagaimana kita bisa menganalisis segala sesuatu," ucap Hidayati.

Berita Lainnya