sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

20 tahun reformasi belum cukup menghalau bayang-bayang Orba

Sejumlah persoalan yang terjadi di masa Orde Baru masih belum menemukan titik terang.

Ayu mumpuni
Ayu mumpuni Selasa, 22 Mei 2018 10:36 WIB
 20 tahun reformasi belum cukup menghalau bayang-bayang Orba

20 tahun berlalu sejak perjuangan para aktivis pro demokrasi menggulingkan rezim Soeharto. Meski reformasi telah didapatkan, nyatanya sampai saat ini Indonesia masih dibayang-bayangi masa Orde Baru. Berbagai persoalan yang terjadi kala itu belum semuanya menemui titik terang.

"Sampai hari ini siapa pelaku pemerkosaan, siapa pelaku pembantaian, masalah itu tidak pernah terungkap. Sudah 20 tahun kita menunggu," kata Sekjen Persatuan Nasional Aktivis 98 (PENA 98), Adian Napitupulu, di Graha PENA 98, Senin (21/5).

Celakanya terjadi pengulangan pola politik masa Orba di era yang sudah milenial ini. Adian mencontohkan mencuatnya isu-isu komunis belakangan ini, persis seperti yang disebarkan oleh kelompok pro Soeharto di masa lalu.

Para aktivis 98 juga memandang setalah 20 tahun reformasi berlalu, negara ini belum berdaulat penuh. Perjanjian politik jaman Orba seperti kontrak tenaga kerja asing pun menjadi peninggalan yang menyesakkan bagi rakyat saat ini.

"Semua perjanjian-perjanjian internasional yang dulu ditandatangani oleh Soeharto, itu menjadi hambatan kita saat ini," tuturnya.

Bahkan menurutnya, dalam pemerintahan saat ini banyak pendukung keluarga Cendana yang saat ini menjadi penikmat reformasi. Itu pun menjadi alasan kenapa kasus-kasus kematian, pemerkosaan, pembantaian, dan ketidakadilan, pada masa orba belum sampai pada titik terang.

Meski demikian, para aktivis meyakini bahwa segala persoalan seputar peninggalan jaman pemerintahan Soeharto akan terselesaikan. Mereka berharap segala kekuatan yang telah dibangun akan menuai hasil mulai masa pemerintahan mendatang, pemerintahan yang diharapkan bersih dari kroni-kroni Soeharto.

Karenanya momentum Pileg dan Pilpres 2019 mendatang seakan menjadi "medan perang" bagi para aktivis 98. Bagi para aktivis yang tergabung dalam PENA 98, kontestasi politik 2019 mendatang menjadi awal langkah pemerintahan yang bersih dari kelompok pro rezim Soeharto dan kroni-kroninya.

Sponsored

"2019 adalah 'perang' yang kedua kalinya antara mereka yang pro reformasi dan mereka yang pro cendana," kata Adian.

Berita Lainnya
×
tekid