logo alinea.id logo alinea.id

47 ribu warga Riau terpapar ISPA akibat asap kebakaran hutan

Dinas Pendidikan Provinsi Riau memutuskan meliburkan sekolah karena Indeks Standar Pencemaran Udara sudah sangat tidak sehat.

Rizki Febianto
Rizki Febianto Rabu, 11 Sep 2019 17:55 WIB
47 ribu warga Riau terpapar ISPA akibat asap kebakaran hutan

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Provinsi Riau, Rio Kurniawan, mengatakan sebanyak 47 ribu warga Provinsi Riau terpapar infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA akibat asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan. 

Data jumlah korban terpapar ISPA mencapai sebanyak itu didapat Rio dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau. Menurut data tersebut, korban terpapar ISPA sampai 47 ribu orang tersebut terjadi hanya dalam dua minggu saja. 

“Dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat dalam dua minggu terakhir ini sudah ada 47.000 orang yang sudah terpapar ISPA,” kata Rio saat jumpa pers di kantor Walhi Jakarta pada Rabu (11/9).

Menurut Rio, kebakaran hiutan dan lahan (Karhutla) di Riau sampai saat ini masih terjadi. Beberapa hari yang lalu bahkan Dinas Pendidikan Provinsi Riau menerbitkan surat edaran untuk meliburkan sekolah karena Indeks Standar Pencemaran Udara sudah menyentuh angka di level yang sangat tidak sehat karena dampak pekatnya asap karhutla.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Selatan, Hairul Sobri, mengatakan asap karhutla masih muncul meski Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengklaim telah menyegel korporasi yang diduga andil sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan.

Diketahui, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah melakukan penyegelan pada lahan konsesi milik berbagai perusahaan yang diduga menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama Agutus 2019. Meski telah dilakukan penyegelan, asap karhutla masih menyelimuti beberapa kota di sebagian Pulau Sumatera. 

Tak hanya di Riau, kata Hairul, kebakaran hutan dan lahan gambut di Sumatera Selatan juga masih terjadi sampai sekarang.  "Kondisi kebakaran lahan gambut di Sumatera Selatan saat ini masih terjadi, tidak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya," ujar Hairul.

Menurut dia, kebakaran di kawasan lahan gambut ini karena dampak dari pemberian izin oleh pemerintah terhadap perusahaan-perusahaan pengelola perkebunan kelapa sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI) dilakukan dalam skala besar.

Sponsored

“Karena izin tersebut, perusahaan dapat melakukan kanalisasi di wilayah yang mereka inginkan, termasuk juga di kawasan gambut,” kata Hairul.

Berdasarkan catatan Walhi Sumatera Selatan, sejak 1 September hingga 11 September 2019 masih terdapat 875 titik api. Semua titik api di Sumatera Selatan tersebut masuk ke dalam kawasan konsesi lahan milik perusahaan-perusahaan yang mendapat izin. 

“Dari tanggal 1 September hingga sekarang, itu masih terjadi kebakaran, 875 titik api yang ada didalam konsesi perusahaan,” ucap Hairul.