sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Enam tapol aktivis Papua sakit, layanan kesehatan lambat

Pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Polda Metro Jaya terhadap enam aktivis Papua sangat lambat.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Selasa, 19 Nov 2019 16:42 WIB
Enam tapol aktivis Papua sakit, layanan kesehatan lambat

Sebanyak enam aktivis Papua yang kini menjadi tahanan politik jatuh sakit. Mereka adalah Surya Anta, Charles Kossay, Dano Tabuni, Isay Wenda, Ambrosius Mulait, dan Arina Elopere.

Kabar mereka sakit disampaikan oleh Yumilda Kaciana, salah satu kerabat enam tapol, yaitu Dano Tabuni. Pernyataan Yumilda sekaligus membantah keterangan Polda Metro Jaya yang menyebut enam aktivis Papua itu dalam keadaan sehat. 

Yumilda mengungkapkan, Surya Anta kini masih mengalami infeksi di telinga kanan. "Kami sudah minta berkali-kali untuk ditangani secara serius, tapi baru dua minggu ini ditangani serius," kata Yumilda dalam jumpa pers di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Selasa (19/11).

Tahanan politik (tapol) lainnya, Ambrosius Mulait, mengalami permasalahan dengan saraf mata. Sedangkan Dano Tabuni mengalami benjolan di dahi sebelah kiri.

Menurut Yumilda, pihak keluarga sudah meminta agar Dano diperiksa serius. Akan tetapi, permintaan itu belum diluluskan oleh pihak Polda Metro Jaya. Pemeriksaan perlu dilakukan karena benjolan tersebut membuat Dano tidak bisa istirahat.

"Yang bikin tidak bisa istirahat adalah benjolan di kepala. Sampai detik ini belum ditangani secara serius," ujar dia.

Selanjutnya, kata Yumilkda, Isay Wenda juga masih menderita asam lambung. Sakit tersebut, kata dia, sudah dialami Isay sejak minggu pertama penahanan. Sedangkan Charles Kossay dan Arina Elopere mengalami sesak nafas.

Pendeta dari Gereja Komunitas Anugrah Salemba, Suarbudaya Rahadian, yang mendampingi keluarga para tapol mengatakan pelayanan kesehatan yang diberikan oleh Polda Metro Jaya sangat lambat. Menurut dia, penanganan secara intensif baru dilakukan polisi apabila kondisi keenam aktivis sudah agak memprihatinkan.

Sponsored

Pernyataan tersebut dibuktikan melalui kesaksiannya yang mengantarkan Dano ke rumah sakit. Ketika itu, ia mengaku bersama Yumilda mengantarkan Dano untuk diperiksa. Pemeriksaan kepada Dano pun dilakukan dengan penjagaan ketat. Sampai-sampai pihak keluarga tidak bisa mendampingi Dano saat pemeriksaan oleh dokter.

“Ternyata saya mendengar ada perdebatan di dalam ruangan. Dano marah-marah karena yang memeriksa bukan dokter spesialis bedah, tapi dokter untuk tulang. Padahal, keluhan kami ada benjolan di dahi sebelah kiri (Dano)," tutur dia.

Sebelumnya, Kepala Sub Direktorat Keamanan Negara Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kompol Dwiasi Wiyatputera, mengatakan keenam tersangka yang kini jadi tahanan politik saat ini dalam kondisi sehat. Itu disampaikan saat enam aktivis tersebut akan diserahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat dengan kawalan petugas Brimob pada Senin (18/11).

"Tim kawal tahanan sudah berangkat dari Polda Metro Jaya ke (rutan) Mako Brimob. Nanti akan bersama-sama ke Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat untuk menyerahkan tahanan," kata dia.