sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Ujung kisah Metromini cs: Disingkirkan regulasi, dibunuh pandemi 

"Itu bisa dibilang akhir dari cerita saya jadi sopir Metromini. Tahun ini, saya pamit dari jalanan."

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Jumat, 31 Jul 2020 12:29 WIB
Ujung kisah Metromini cs: Disingkirkan regulasi, dibunuh pandemi 
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 135123
Dirawat 39290
Meninggal 6021
Sembuh 89618

Selamat Riyadi, 40 tahun, tak pernah menyangka ia bakal jadi pengangguran pada saat wabah Covid-19 merebak. Sudah sekitar lima bulan mantan sopir Metromini 80 itu tak lagi "narik". Kini, unit Metromini yang biasa ia kemudikan pun telah dibesituakan. 

"Udah dijual dan dibelah ke peleburan besi," kata Selamet saat berbincang dengan Alinea.id di salah satu kantin di kawasan Terminal Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (26/7). 

Terhitung sudah 11 tahun Selamet mengemudikan Metromini. Dulu, sedari pagi hingga malam, Selamet berburu penumpang di sepanjang rute Kalideres-Jembatan Lima. Sekali narik, ia bisa membawa pulang Rp200 ribu. "Tapi, itu cerita dulu," kata dia. 

Sejak 2014, Pemprov DKI Jakarta melarang bus lawas yang usianya di atas 10 tahun untuk beroperasi. Para pemilik dan pengemudi bus diberi waktu empat tahun untuk mempersiapkan diri. Setelah 2018, semua bus lawas yang masih nekat beroperasi digulung. 

Karena belum punya pekerjaan lain, Selamet sempat nekat membawa Metromininya keluar kandang untuk mencari penumpang. Namun, kendaraannya terus diburu petugas dari Dishub DKI Jakarta. Februari lalu, Selamet akhirnya "tertangkap tangan".  

"Saya sering kejar-kejaran sama Dishub. Akhirnya saya mikir, 'Ya, mungkin udah waktunya kita pamit.' Itu bisa dibilang akhir dari cerita saya jadi sopir Metromini. Tahun ini, saya pamit dari jalanan," ujar pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah itu. 

Setelah tak lagi jadi sopir Metromini, jentaka Selamet berlipat ganda. Tak punya penghasilan tetap, kini ia juga ditinggalkan sang istri yang tak tahan dengan kondisi perekonomian keluarga mereka. "Saya baru punya anak satu. Sekarang anak saya ikut istri saya," ujar dia. 

Selamet sempat mencoba peruntungan dengan melamar sebagai pengemudi Jak Lingko. Namun, Selamet tidak lolos seleksi yang tergolong berat bagi pria tak berpendidikan seperti dia. "Di sana (Jak Lingko) juga lagi ada masalah karena Covid-19. Terus saya juga enggak ada ijazah," kata dia. 

Sponsored

Untuk menyambung hidup, Selamet bekerja serabutan di Terminal Kalideres. Pekerjaan mereparasi angkot hingga mencuci mobil ia lakoni. "Saya sekarang tidur di terminal. Jadi gembel terminal karena jujur sudah enggak bisa bayar kontrakan," ujar Selamet.

Bangkai unit Metromini di salah satu sudut Terminal Rawa Buaya, Jakarta Barat, Sabtu (25/7). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

Bus-bus lawas hanya jadi besi tua

Nasib serupa juga dialami Pargaulan Sigalingging, 52 tahun. Sama seperti Selamet, Pargaulan kini bekerja serabutan di Terminal Kalideres. Padahal, ia pernah punya tiga unit mikrobus Kopami dan enam sopir. 

"Izin udah enggak diperpanjang lagi. Sejak bulan dua bulanlah benar-benar enggak beroperasi. Padahal, saya dulu bos," ujarnya kepada Alinea.id di sela-sela kesibukannya mereparasi sebuah unit angkutan umum. 

Pargaulan merupakan salah satu pemilik Kopami yang tidak ikut meremajakan unit bus lawas miliknya pada 2015 lalu. Ia menolak peremajaan lantaran uang muka yang dipatok untuk satu armada dianggap terlalu besar. "Awalnya Rp150 juta. Sempet turun jadi Rp75 juta, tapi saya tetap enggak mau," ucapnya.

Selain soal harga, Pargaulan juga tak setuju dengan mekanisme kepemilikan armada. "Kopaja AC itu enggak bisa dibawa ke garasi pemilik, tapi harus dibawa ke garasi Pemprov DKI. Jadi, enggak bisa dibawa pulang untuk keperluan lain," terang dia. 

Menurut Pargaulan, banyak mantan sopir dan pemilik bus lawas yang kini menganggur seperti dia. Tidak semua sopir bus lawas diserap ke Trans Jakarta dan Jak Lingko. Di sisi lain, unit-unit bus lawas yang tersisa sudah tak lagi berguna.

Tiga unit Kopami milik Pargaulan bahkan kini telah dijual ke tukang besi tua. "Mau diapain lagi? Buat narik enggak bisa. Buat angkut yang lain juga udah enggak boleh," ucap pria kelahiran Tapanuli Utara itu. 

Deretan motor terpakir di jalur Metromini dan Kopaja di Stasiun Senen, Jakarta Pusat, Sabtu (25/7). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

Meski kecewa, Pargaulan mengatakan, bus-bus lawas memang sudah waktunya hilang dari peredaran. Selain tersingkir karena aturan, menurut dia, Pemprov DKI juga cenderung lebih mengutamakan keberlangsungan hidup TransJakarta dan angkutan online

"Kami emang dibikin mati. Ya, itulah kenyataannya. Pahit. Aku sudah tidak tahu kabar yang lain seperti apa. Tapi, bayangkan mereka hilang dari jalan di saat ada Corona seperti ini. Pasti kesulitan mereka," tuturnya. 

Nasib lebih beruntung dialami mantan sopir sekaligus pemilik satu unit Kopaja 88, Saifuddin. Berhenti mengemudikan Kopaja sejak tahun lalu, Saifuddin kini telah bekerja lagi sebagai sopir panggilan di salah satu diler mobil.

"Saya masih lebih beruntung dari yang lain. Saya sudah dapet kerja meski freelance. Coba sekarang, kalau mau kerja, siapa yang mau nerima?" ucap Saifuddin saat ditemui Alinea.id di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat.

Saifuddin mengaku pernah ditawari pengemudi Kopaja terintegrasi saat Pemprov DKI Jakarta dipimpin Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Tetapi, kisaran gaji sebesar Rp4,5 juta yang ditawarkan dirasa tak sesuai. "Kurang itu. Lagipula juga sedikit yang terserap," ucapnya.

Sebelum pensiun, Saifuddin juga pernah "kucing-kucingan" dengan petugas Dishub DKI. Untuk menghindari cegatan petugas, ia hanya beroperasi pada pagi dan malam hari. "Tapi lama-kelamaan saya ditandai Dishub DKI. Jadi pertengahan 2019 saya nganggur,"ujarnya.

Kini, unit Kopaja milik Saifuddin telah jadi rongsok di tempat peleburan besi tua di Madura. Meski tak lagi di balik kemudi Kopaja, Saifuddin tetap memendam dongkol. "Soalnya angkutan online yang sebenarnya bukan kategori angkutan umum malah dilegalkan sama pemerintah. Bagi saya, itu enggak adil," ungkapnya.

Sejumlah bus Kopaja melintas di kawasan bundaran Hotel Indonesia. Foto Wikimedia Commons/Vulphere

Akhir dari angkutan umum berbasis setoran?

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengatakan ancaman kepunanahan terhadap angkutan umum berbasis perorangan memang sulit dihindari. Menurut dia, ada sejumlah faktor yang mendorong "senjakala" Metromini cs. 

Pertama, larangan operasional bus lawas yang dikeluarkan Pemprov DKI pada 2014. Kedua, buruknya kualitas pelayanan bagi penumpang di bus-bus menengah sehingga penumpang beralih ke angkutan online. Ketiga, ketidakmampuan pemilik untuk meremajakan kendaraan. 

Terkait kualitas pelayanan, ia mencontohkan, maraknya pengemudi-pengemudi tanpa SIM yang diperbolehkan mengemudikan unit-unit bus. "Padahal, (SIM) itu wajib. Kualitas terhadap pengguna angkutan itu prioritas," kata dia kepada Alinea.id. 

Menurut Shafruhan, ancaman kehancuran juga mengintai semua angkutan umum milik perseorangan. Ia mencontohkan menghilangnya sekitar 40 ribu angkutan umum di ibu kota pada periode 2014-2019. Mikrolet, misalnya. Dari 14.600 unit pada 2014, jumlahnya turun menjadi hanya sekitar 6.500 unit.  
 
"Pada 2014 itu ada 102.000 armada untuk angkutan umum. Tapi, awal 2019 itu terdata hanya sekitar 60.000 ribu. Bisa jadi angkutan lain sebentar lagi bernasib sama seperti Kopaja, Metromini atau Kopami," ujarnya.

Selain pendapatannya terus tergerus angkutan berbasis aplikasi, Shafruhan memprediksi, angkutan umum perseorangan juga bakal berguguran lantaran dipukul pandemi. "Karena dampak Covid-19, angkutan umum sedang mengalami keterpurukan hebat. Bisa dibilang resesi di transportasi umum sudah dimulai," kata dia. 

Infografik Alinea.id/Dwi Setiawan

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno mengatakan angkutan dengan sistem kejar setoran seperti Metromini, Kopaja, dan Kopami memang sudah waktunya undur diri dari jalanan Ibu Kota. 

Selain sudah tidak layak digunakan karena usia dan emisinya, bus-bus lawas juga tak mungkin lagi beroperasi di tengah pandemi. Terkait nasib para bekas sopir bus lawas, Djoko menyebut, seharusnya mereka berdamai dengan solusi yang ditawarkan Pemprov DKI dulu. 

"Jadi. mereka sekarang enggak susah. Dulu mereka jual mahal, enggak mau. Sekarang mereka enggak bisa berbuat apa-apa jadinya. Saat ini memang bukan waktunya lagi untuk mereka," cetus Djoko.

Jika tidak ingin bernasib sama seperti Metromini cs, Djoko mengatakan, angkutan umum berbasis setoran lainnya harus segera berbenah di tengah pandemi. "Sekarang kita harus berupaya agar angkutan umum itu bersih dan nyaman serta sehat. Kalau mau bertahan harus ke arah sana," katanya.

Alinea.id mencoba mengonfirmasi Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo mengenai nasib mantan sopir Metromini, Kopaja, dan Kopami. Namun, Syafrin menolak berkomentar. 

Berita Lainnya