sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Apakah Jokowi penuh kontradiksi?

Jokowi dinilai hanya menggunakan naluri dan pengalamannya, dan mengandalkan kepribadian daripada suatu proses.

Angelin Putri Syah
Angelin Putri Syah Selasa, 29 Sep 2020 07:09 WIB
Apakah Jokowi penuh kontradiksi?
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Dalam menulis buku Man of Contradictions-Joko Widodo and the Struggle to Remake Indonesia, Ben Bland, Direktur Program Asia Tenggara di lembaga Lowy Institute, mengalami kesulitan dalam menemukan label yang tepat untuk menggambarkan kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

“Banyak label dapat menentukan kepemimpinannya. Seorang reformis, harapan baru untuk demokrasi, pragmatis, teknokrat, developmentalis, populis, nasionalis, dan otoriter,” ujar Ben dalam diskusi online bersama Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, Senin (28/9).

Menurut dia, Jokowi memiliki semua sisi 'berbeda' karena dia tidak memiliki ideologi atau posisi tetap. Jokowi dinilai hanya menggunakan naluri dan pengalamannya, dan mengandalkan kepribadian daripada suatu proses.

Bland menambahkan terdapat banyak paradoks dalam kepemimpinan Jokowi. 

“Dia kadang-kadang impulsif, agak konservatif, mengalami kesulitan dalam memelihara demokrasi, dan entah bagaimana buruk dalam memproyeksikan kekuatannya,” tambahnya.

Dalam diskusi itu, Ketua Departemen Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada (UGM), Amalinda Savirani, mengatakan Indonesia selalu dalam pengerjaan dan belum selesai.

“Ada begitu banyak urusan yang belum selesai dan para pemimpin kami akan selalu dicap sebagai 'manusia kontradiksi' karena sifat ini,” ujarnya.

Hampir senada, dosen ilmu politik Universitas Paramadina Djayadi Hanan mengatakan, Jokowi adalah politikus yang rasional dan kalkulatif.

Sponsored

“Dia mencoba memanfaatkan lingkungan dan institusi di sekitarnya. Dia akan melakukan jalan mana yang lebih bermanfaat baginya. Dan itu bukanlah bentuk kontradiktif,” pungkasnya.

Sementara Direktur CSIS Philips J Vermonte menilai Jokowi tidak kontradiksi, melainkan mengalami dilema.

“Jokowi memiliki dua cara dalam setiap kebijakan yang dibuatnya. Karena sistem presidensial, kepribadiannya mempengaruhi hasil implementasi kebijakan,” ujarnya. 

Philips juga berpendapat bahwa saat pemilu, masyarakat menilai calon presidennya berdasarkan pemerintah performatif dibandingkan pencapaian yang substantif.

Para pembicara berpendapat bahwa buku Bland terlalu singkat untuk menceritakan biografi Jokowi. Ditambah masa kepemimpinannya yang tersisa empat tahun lagi, sehingga masih banyak yang belum dibahas.

Menanggapi hal ini, Bland mengatakan alasan bukunya singkat dan dipublikasi sekarang adalah ia ingin buku tersebut relevan dengan para pembuat kebijakan sekarang. Dia ingin orang asing mengerti Indonesia dan presidennya sekarang dan empat tahun mendatang.

Berita Lainnya