sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Gara-gara orang dewasa, sikap intoleransi jangkiti anak TK dan PAUD

Sikap intoeransi pada anak-anak karena dasarnya meniru dari perilaku orang dewasa.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Senin, 11 Nov 2019 00:05 WIB
Gara-gara orang dewasa, sikap intoleransi jangkiti anak TK dan PAUD

Aktivis perlindungan anak, Roostien Ilyas, mengungkapkan hasil penelitiannya bahwa di jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak (TK), Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), bahkan sampai di kampung-kampung saat ini banyak bermunculan sikap intoleransi pada anak.

Itu terungkap ketika Roostien yang melakukan penelitian menemukan banyak anak-anak yang selalu bertanya mengenai agama yang dianut teman bermainnya. Mennurut Roostien, sikap anak-anak demikian tidak salah. Sebab, pada dasarnya sikap anak-anak tersebut meniru dari perilaku orang dewasa.

"Anak selalu meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang dewasa. Apakah itu gurunya, apakah itu mamanya, atau siapa pun dia. Dan ini sangat mengerikan," kata Roostien dalam diskusi di Jakarta Selatan, Minggu (10/11).

Sementara itu, Sosiolog Universitas Indonesia, Tamrin Tomagola, berpendapat bahwa sejak dini anak-anak harus diperkenalkan dengan nilai-nilai kejujuran, kebersihan, pendidikan, sampai nilai menghargai orang lain.

"Ajaran itu harus sudah dimulai sejak PAUD, TK dan SD. Tapi , tak usah bilang nilai-nilai itu untuk menghadapi khilafah atau ekstrem radikal. Ajarkanlah secara universal. Di dunia itu diterima sebagai nilai-nilai kemanusiaan yang luhur," ujar Tamrin.

Lebih lanjut, setelah selesai di tingkat SD, berikutnya memasuki jenjang SMP anak-anak kemudian diberikan dasar-dasar pengetahuan umum terutama bahasa dan matematika.

Lalu, pada tingkat SMA, khusus untuk bahasa dan matematika, kedua ilmu tersebut diteruskan pada mata pelajaran yang lainnya. "Di tingkat mahasiswa itu sudah pengembangan pikiran. Jadi, tiap tahap itu ada," ucap dia.

Tamrin menuturkan, bahasa dan matematika menjadi dua ilmu penting yang perlu dipelajari pada anak karena bagus untuk melatih cara berpikir. Menurutnya, tak bisa dipungkiri bahasa dan matematika adalah ilmu yang tidak lepas dari nalar.

Sponsored

"Kemudian kalau mereka sudah dibekali dengan peralatan (ilmu) itu, kemudian saat mereka berhadapan dengan satu masalah tertentu dalam kehidupan, mereka jalani itu pakai nalar," ujar Tamrin.