sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Dua sisi terowongan silaturahmi ala Jokowi

Nasaruddin Umar dan Romo Hani menilai terowongan silaturahmi ala Jokowi bukan sekadar simbol fisik.

Marselinus Gual
Marselinus Gual Minggu, 22 Mar 2020 16:02 WIB
Dua sisi terowongan silaturahmi ala Jokowi
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini

Proyek pembangunan terowongan sebenarnya tak ada dalam desain awal renovasi Masjid Istiqlal. Pada mulanya, renovasi hanya meliputi bagian interior dan sejumlah bagian di eksterior masjid yang di antaranya meliputi sungai, taman, dan lahan parkir.

Usul membangun terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral menyembul saat Jokowi mengecek progres renovasi Istiqlal di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (7/2). Jokowi langsung menyetujui usul itu. 

"Tadi ada usulan dibuat terowongan dari Masjid Istiqlal ke Katedral. Tadi sudah saya setujui sekalian. Sehingga, ini menjadi sebuah terowongan silaturahmi. Tidak berseberangan," kata Jokowi. 

Itu bukan sekadar wacana. Pasalnya, jalan masuk menuju terowongan itu sudah dibangun via basement di Masjid Istiqlal. Tanah telah digali, dan pancang-pancang didirikan. Akhir Februari, betuk fisik pintu masuk terowongan sudah mulai terlihat. 

Pembangunan terowongan berjalan di tengah banjir kritik. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj sempat menyebut simbolisasi fisik semacam itu tidak diperlukan. Ia malah menduga ada kepentingan politis di balik pembangunan terowongan tersebut. 

Muhammadiyah setali tiga uang. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti menyebut terowongan silaturahmi sekadar proyek basa-basi. Menurut dia, masyarakat lebih butuh silaturahmi dalam bentuk infrastruktur sosial. 

"Di mana pemerintah secara sungguh-sungguh membangun toleransi autentik, toleransi hakiki dan bukan toleransi basa-basi. Itu yang dibutuhkan," kata Abdul. 

Dalam dua kesempatan berbeda, Alinea.id berbincang dengan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar dan Pastor Kepala Gereja Katedral Jakarta Romo Albertus Hani Rudi Hartoko, SJ untuk mengetahui pendapat mereka mengenai pembangunan terowongan silaturahmi ala Jokowi itu. 

Sponsored

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar. Foto Instagram @nasaruddin_umar

Nasaruddin: Kemanusiaan itu hanya satu, enggak ada warnanya

Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar turut turun gunung meredakan polemik yang muncul akibat rencana pembangunan terowongan silaturahmi. Ia menyebut ada banyak keuntungan yang diperoleh umat dari proyek tersebut. Terowongan itu, kata dia, bukan sekadar simbol. 

Berikut petikan wawancaranya:

 

Presiden Jokowi menyebut terowongan yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta sebagai simbol toleransi. Anda setuju? 

Ya, masjid sebagai lambang toleransi itu diawali dari Istiqlal karena Istiqlal itu adalah masjid yang dibangun oleh para pendiri bangsa sebagai simbol toleransi. Di sebelah itu ada Katedral, di seberang itu ada (gereja) Immanuel. Protestan, ya, kan? Tapi, yang paling penting di sini adalah Istiqlal itu melambangkan toleransi keindonesiaan dan insyaallah kita akan pertahankan masjid ini sebagai lambang toleransi Indonesia.

Toleransi perlu simbolisasi fisik?

Ya, perlulah. Karena di negara lain kan jarang. Ya, kita tidak mungkin bisa meniru semuanya orang lain. Kita membuat kreasi sendiri. Indonesia itu lambang toleransi dunia. Jangan hanya belajar terus ke Timur Tengah. Sesekali, kita juga memberi pelajaran terhadap Timur Tengah. Kan Tuhan tidak mengistimewakan suatu daerah (saja) kan

Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang bertakwa. Orang bertakwa itu tidak hanya di Timur Tengah, tapi di Indonesia juga ada. Bahkan, ada yang mengatakan Timur Tengah itu sudah selesai melakukan tugasnya melahirkan Islam. Tugas berikutnya adalah Indonesia. Kenapa? Bebas dari konflik, perekonomiannya bagus dan lain sebagainya. Populasi penduduk terbanyak. Itu.

Banyak yang mengkritik rencana Jokowi ini, termasuk NU dan Muhammadiyah. 

Ya, mungkin dia belum tahu. Saya tidak menyalahkan siapa pun. Kegunaan dari terowongan ini (ada banyak). Pertama, memudahkan manuver. Coba Anda lihat setiap hari, pulang hari Jumat, apalagi Idul Fitri, macet di seputar Istiqlal itu. Kenapa? Karena pada mau pulang ke rumahnya menggunakan jalan yang sama. Tapi, nanti kalau terowongan itu jadi tidak perlu memacetkan jalan-jalan di atas. Lewat terowongan di bawah, keluar. Bisa parkir di depan kantor pos. Lapangan parkir bisa di mana-mana kan? Jadi, tidak pakai kendaran masuk ke masjid. Tidak pakai jalan yang memacetkan.

Kritikan NU itu biaya mahal, padahal enggak. Kita kan bangun dua lantai basement. Ke bawah itu kan tinggal bobol sepuluh meter, ketemulah di situ. Ketemu dengan Katedral, ketemu dengan jalan di seberang. Jadi, mahal mana (dengan) bangun jembatan? Jauh lebih murah, tinggal bikin kanal ke sebelah itu kan. Dan lebih mudah, insyaallah. Jadi, tidak memacetkan jalan di atas, lebih gampang aksesnya ke tempat parkir, kemudian juga di bawah itu banyak daya tampungnya. Bersih kelihatan di atas. 

Jadi, orang kalau enggak paham apa yang sesungguhnya terjadi dengan basement dan terowongan itu hanya melihat seolah-olah mau bangun terowongan khusus Istiqlal. Mau ngapain? Jadi, terowongan itu muncul belakangan setelah basement ini ada. Oh, alangkah bagusnya kalau ini juga kita bikin terowongan supaya orang bisa parkir di sebelah, di sana itu, tidak menggunakan lagi jalan raya. Mungkin juga kalau ada kebaktian di Katedral, dia tidak usah memacetkan jalan di depan. Lewat di bawah semuanya kan.

Jadi supaya tidak mubazir dibangun terowongan berbarengan dengan basement? 

Apa kata Alquran, 'Inna al-mubadziriina kaanuuu ikhwaana asy-syaathiin'. Orang mubazir itu temannya setan. Tapi, (ada yang bilang), 'Itu (Katedral) kan non-Muslim'. Quran mengatakan, 'Allah memuliakan anak cucu Adam, apa pun agamanya, apa pun etniknya'. Jadi, kita jangan melanggar ayat hanya karena ego-ego sektoral kita. Hemat saya, tidak ada yang salah, tidak ada yang dilanggar, ayat pun. Apalagi memudahkan semua pihak kan. Mana yang lebih bagus, memudahkan banyak orang atau mempersulit banyak orang? Memudahkan kan?

Muhammadiyah menyebut terowongan silahturahmi itu basa-basi. 

Muhamadiyah itu kritiknya mahal. Tapi setelah saya jelaskan bahwa terowongan itu bukan hanya untuk menghubungkan dua rumah ibadah tapi memudahkan para pengguna Masjid Istiqlal untuk bermanuver dengan mudah. Daripada nanti menumpuk, menyeberang, macet itu sampai jalan buntu. Tapi, orang lewat bawah terowongan itu, orang bergerak jadi lebih leluasa, lancar. Nah, setelah kami menjelaskan kepada pihak Muhammadiyah dan pihak NU, berhenti berwacana sekarang kan. 

Cuma kemarin itu, saya kan waktu penjelasannya itu, saya kan bergerak ya, bukan saya menjelaskan kepada publik. Akibatnya apa, banyak orang salah paham. Seolah-olah terowongan itu hanya terowongan doang. Padahal, kita sedang membangun basement dan basement itu persis di pinggir jalan, di hadapannya ada Katedral. Jadi, jauh lebih murah ongkosnya, menggali sedikit, sepuluh meter, ketimbang membangun jembatan layang besi, di dua tempat. Itu pun mendaki. Ya, kan? Ini enggak. Jadi, saya pikir enggak ada masalah.

Bagaimana Anda memandang kondisi toleransi di Indonesia saat ini?

Toleransi kita itu dipuji banyak orang. Tapi kita melakukan itu bukan untuk dipuji. Karena kita ingin menonjolkan rasa kemanusiaan kita. Karena bagi kita humanity is only one, there is no colours. Kemanusiaan itu hanya ada satu, enggak ada warnanya. Allah juga mengatakan seperti itu. Apalagi, umat beragama. Orang yang memiliki keimanan itu bersaudara. Jadi, tidak ada yang salah. Nah, kalau mau dicari-cari sudut kelemahannya, ya, wajarlah.

Tapi percayalah, niat luhur yang bekerja itu akan dibantu oleh Allah. Tapi niat yang subjektif dimunculkan ke depan tidak akan dibantu Allah. Saya hakul yakin seperti itu. Saya mempertahakan prinsip yang saya anggap benar. Di mata Allahlah yang menentukan mana yang paling benar kan. Saya juga tidak ingin mengatakan aku yang paling benar. Cuma pertimbangan pragmatisnya ialah jauh lebih murah ada basement daripada enggak. Apalagi, ini kan bukan biaya Istiqlal, biaya dari pemerintah. Kalau Istiqlal, dari hasil celengan masyarakat, itu mahal. Tapi, kalau APBN, ya, yang untung umat kok.

Pastor Kepala Gereja Katedral Jakarta Romo Albertus Hani Rudi Hartoko atau yang akrab disapa Romo Hani. Foto Instagram @misdinarkatedraljakarta

Romo Hani: Manusia itu butuh simbol...

Pastor Kepala Gereja Katedral Jakarta Romo Albertus Hani Rudi Hartoko menyikapi pembangunan terowongan silaturahmi yang digagas Jokowi dari pendekatan historis. Menurut dia, simbol-simbol fisik untuk mempererat kerukunan beragama sudah didesain para pendiri bangsa sejak dulu. 

Seperti Nasaruddin, Romo Hani juga sepakat terowongan itu punya fungsi praktis dan dibutuhkan. Berikut petikan wawancara Alinea.id dengan Romo Hani: 


Apa yang melatarbelakangi pembangunan terowongan silaturahmi? 

Pernyataan Presiden Jokowi saat menyetujui didirikannya terowongan itu sebagai terowongan silaturahmi kebangsaan yang tentunya amat baik kehadirannya. Itu atas dasar ide dari pembicaraan antara Imam Besar, Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal dan Pastor Kepala Gereja Katedral dalam beberapa kali pertemuan di tahun 2019. (Gagasannya supaya) dapat kiranya kita memiliki terowongan silaturahmi kebangsaan untuk meningkatkan hubungan persaudaraan yang lebih erat lagi antarumat beragama sekaligus untuk tamu-tamu negara yang dapat merasakan menyebrang di antara dua bangunan beribadah Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. 

Anda melihat simbol fisik semacam ini bisa mengurangi intoleransi? Ketua PBNU Said Aqil sempat menyebut ini tidak diperlukan...

Intoleransi terjadi beberapa waktu belakangan. Ini merupakan sebuah wujud (perilaku) tidak menghormati dan menjalankan falsafah hidup bangsa Indonesia yaitu mengamalkan Pancasila, yaitu sila pertama, Ketuhanan yang Maha Esa. Di mana salah satunya tertera pula di dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang memastikan adanya kebebasan beragama bagi agama yang diakui negara. Artinya, kita harus hidup saling mengasihi dan mendukung di antara berbagai agama seusai dengan semboyan kita, Bhinneka Tunggal Ika. 

Kita menghargai berbagai pendapat yang muncul dalam masyarakat. Semua memiliki perspektif masing-masing. Maka, perbedaan pendapat itu kami hargai. Seperti kita ketahui juga, keberadaan Masjid Istiqlal di lokasi sekarang--dulunya Taman Wilhemia--tidak lepas dari perdebatan dan perbedaan pendapat. Bahkan, dari tokoh nasional yakni Bung Karno dan Bung Hatta.

Bung Karno menunjuk lokasi bekas Taman Wilhemia dan menempatkan Masjid Istiqlal berdampingan dengan Gereja Katedral yang sudah ada, sebagai simbol keragaman, kerukunan dan hidup kebangsaan yang membingkai berbagai perbedaan. Sedangkan, Bung Hatta berpendapat bahwa lokasi yang cocok adalah sekitar Bunderan HI di titik pusat kota sekaligus jauh dari simbol-simbol kolonial di kawasan Lapangan Banteng dan sekitarnya. Sejarah memberikan kesaksian bahwa bahasa simbolik yang diajukan Bung Karno mendapatkan isinya dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Simbol itu makin diperkuat dengan adanya terowongan silaturahmi yang direncanakan tersebut.

Bagaimana Anda menyikapi kritik terhadap rencana tersebut?

Rencana tersebut merupakan kabar baik dan kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik hal tersebut. Kami sangat mendukung wacana tersebut karena hal ini menegaskan kembali semangat dan ide Bung Karno saat menetapkan lokasi masjid nasional yang berdampingan dengan Gereja Katedral. Hal tersebut juga seiring telah terjalinnya relasi yang amat dekat sejak lama antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. 

Terlebih, (kedua tempat ibadah) saling mendukung dalam hal perparkiran. Sejak lama, Masjid Istiqlal selalu menyediakan area parkir bagi umat Katedral yang akan beribadah terutama di hari-hari raya dan sebaliknya. Tak terlepas pula dengan bertambahnya kunjungan-kunjungan, baik kenegaraan maupun kunjungan wisatawan religi atau turis biasa dari masyarakat yang semakin bertambah intensitasnya. Mereka berkunjung kedua lokasi cagar budaya nasional yang berdampingan letaknya, baik kunjungan dari Masjid Istiqlal dilanjutkan ke Gereja Katedral dan sebaliknya.

Menurut Anda, bagaimana kondisi intoleransi di Indonesia saat ini?

Selalu ada dan timbul masalah intoleransi di beberapa tempat dewasa ini. Untuk itu, kami turut sangat prihatin. Seharusnya kita hidup saling menghargai sebagai individu maupun keyakinannya harus dihormati pula sebagai hak dasar setiap warga negara Indonesia dalam memilih agama dan melaksanakan praktik hidup keagamaannya. Hal ini didukung dalam Pancasila dan UUD 1945. 

Intoleransi menjadi tugas kita bersama mewujudkan kehidupan bersama yang bersaudara sebagai sesama anak bangsa. Kami mendorong pemerintah, tokoh-tokoh masyarakat, dan warga mengusahakan kehidupan bersama sesuai cita-cita kita bersama sebagai bangsa sebagaimana diatur dalam konstitusi.

Jadi Anda sepakat simbol fisik seperti terowongan silaturahmi dibutuhkan?

Manusia itu butuh simbol untuk mengungkapkan cita-cita, idealisme, impian, simbol fisik (bangunan) menjadi tanpa pengingat akan cita-cita atau idealisme yang mau dihadirkan. Simbol tidak serta merta atau otomatis menghadirkan kenyataan. Kenyataan adalah buah kerja keras dan upaya terus menerus mewujudkan idealisme ke dalam kenyataan. Dengan demikian, simbol itu menjadi bermakna karena didukung realita.

Kita ambil contoh sebagai bangsa NKRI diikat oleh simbol nasional: ada bendera Merah Putih, ada lagu Kebangsaan Indonesia Raya, Garuda Pancasila, dan motto nasional Bhinneka Tunggal Ika. Dalam level pribadi, orang mengungkapkan cinta dengan bunga mawar, cincin, puisi, lagu atau tanda-tanda simbolik lainnya.

Banyak penolakan pendirian tempat ibadah di Indonesia. Apa pandangan Anda?

Kami berharap agar masyarakat tentunya dapat memahami kebutuhan tempat ibadah apapun agamanya seusai dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan pemerintah. Jika sudah sesuai dengan persyaratannya, hendaknya masyarakat turut mendukung sehingga dapat menunjukkan indahnya hidup dalam keberagaman namun saling dapat menghargai kebebasan beragama yang dipeluk setiap warga negara. Seharusnya kita dapat merawat dan mempererat persaudaraan, persatuan dalam kebinekaan serta mempererat silaturahmi dan toleransi antarumat beragama yang mendukung semangat kebangsaan.
 

Berita Lainnya