close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Polri Kramatjati Kombes Pol Musyafak dari 24 kantong mayat tersebut bisa lebih dari satu jenazah. Sebab, jenazah yang dikirim ke RS Bhayangkara sudah tak utuh lagi. / (Foto: Kudus Purnomo/Alinea.id)
icon caption
Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Polri Kramatjati Kombes Pol Musyafak dari 24 kantong mayat tersebut bisa lebih dari satu jenazah. Sebab, jenazah yang dikirim ke RS Bhayangkara sudah tak utuh lagi. / (Foto: Kudus Purnomo/Alinea.id)
Nasional
Selasa, 30 Oktober 2018 01:26

DVI terima 24 kantong, jenazah terpisah sulit dikenali

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri telah menerima 24 kantong jenazah korban kecelakaan Lion Air JT610 hingga tengah malam.
swipe

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri telah menerima 24 kantong jenazah korban kecelakaan Lion Air JT610 hingga tengah malam.

Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Polri Kramatjati Kombes Pol Musyafak dari 24 kantong mayat tersebut bisa lebih dari satu jenazah. Sebab, jenazah yang dikirim ke RS Bhayangkara sudah tak utuh lagi.

"Pertama dari post mortem, jenazah yang sudah dikirimkan 24 kantong jenazah, dan ini bisa jadi satu kantong lebih dari satu jenazah," paparnya di Rumah Sakit Bhayangkara, Kramatjati, Jakarta Timur, Selasa(30/10).

Musyafak mengatakan, jumlah kantong jenazah yang dikirim ke RS Bhayangkara diperkirakan akan terus bertambah. Sebab, pencarian korban di lokasi Tanjung Karawang, Perairan Laut Jawa, masih terus dilakukan.

"Informasi ada masih dua kapal yang mau merapat, kemungkinan bertambah lagi," imbuhnya.

Sementara itu, Musyafak telah melakukan ante mortem atau penyesuaian data temuan lapangan dengan keluarga korban demi mengetahui identitas jenazah. Polri telah menghimpun data 132 keluarga korban untuk mempermudah identifikasi.

"Kita sudah mengambil data dari 132 keluarga, dan sebagian telah kita ambil deoxyribonucleic acid (DNA)-nya karena tidak semua mengajak orang tua atau anaknya," jelasnya.

Dia menambahkan, upaya ante mortem masih terus dilakukan. Hal itu dilakukan lantaran korban yang ditemukan sebagian besar sulit dikenali.

"Ini penting karena korban yang masuk post mortem (data temuan di lapangan) relatif sulit dikenali," tambahnya.

Musyafak menyarankan kepada keluarga korban untuk membawa data-data pendukung yang dapat membantu identifikasi korban. "Seperti data medis, tato atau pernah operasi atau bahkan pernah pasang ring, kemudian KTP kalau punya KTP terkait sidik jari, ijazah, kemudian foto yang tampak gigi, sehingga yang betul-betul mencerminkan korban," paparnya.

Lebih lanjut, Musyafak mengimbau kepada keluarga korban yang telah didata ante mortem, tak menunggu di RS Bhayangkara. Sebab, hal itu ditengarai dapat menambah kepadatan.

"Jadi tak perlu menunggu di sini kalau sudah di data, tapi kalau belum lengkap ya dilengkapi, ambil data untuk ante mortem-nya, dan kalau ada pendalaman data yang diperlukan akan kita hubungi," terangnya.

Sementara bagi keluarga korban yang belum diambil datanya, kata Musyafak, pihak RS Bhayangkara akan menyediakan beberapa fasilitas untuk mengantisipasi terjadinya antrean di posko ante mortem.

"Kami siapkan ruangan lantai pertama gedung promoter, selain itu ada konsumsi juga dan ada TV untuk melihat perkembangan," paparnya.

Kedepannya, Musyafak menjelaskan, akan terus memperbarui perkembangan mengenai korban pesawat Lion Air JT610, pada waktu pagi hari dan menjelang sore hari. "Jadi yang pagi itu, jam 07.00-11.00 WIB, dan sore, untuk update yang siang," kata dia.

img
Kudus Purnomo Wahidin
Reporter
img
Sukirno
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan