sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Faktor ekonomi dan stigma jadi penghalang tes Covid-19

Pekerja harian atau orang-orang bergaji rendah memiliki kecenderungan enggan dites Covid-19 karena takut penghasilan mereka berkurang.

Fandy Hutari
Fandy Hutari Selasa, 24 Nov 2020 15:01 WIB
Faktor ekonomi dan stigma jadi penghalang tes Covid-19
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Tim Pakar Satgas Covid-19 bidang Perubahan Perilaku, Turro Wongkaren mengatakan, ada tiga faktor yang menyebabkan seseorang enggan melakukan pemeriksaan (testing) Covid-19, yakni ekonomi, stigma, dan budaya. Dari faktor ekonomi, menurutnya, seseorang takut kalau dites positif, bisa membuat mereka tidak bisa bekerja atau mencari penghasilan sehari-hari.

"Misalnya, office boy atau penjual bakso, (pekerjaan) itu penting sekali untuk kehidupan mereka. Mereka jadi takut kalau ketahuan positif," ujar Turro saat diskusi daring bertajuk "Masyarakat Bijak Sadar 3T" di YouTube BNPB Indonesia, Selasa (24/11).

Selain itu, Turro pun menegaskan, stigma dari masyarakat membuat orang tidak nyaman untuk melakukan tes Covid-19. Seseorang enggan dites Covid-19 karena takut dikucilkan keluarga atau masyarakat sekitar.

"Artinya, kita perlu memikirkan cara bagaimana supaya tes itu memiliki makna lain. Makna lain, kalau Anda dites, Anda bisa disebut sebagai pahlawan," kata  Kepala Lembaga Demogerafi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) itu.

Masalah tes Covid-19 diakui Turro memang tidak mudah. Di sisi lain, jika seseorang tidak mau dites atau testing-nya rendah, maka masyarakat tidak tahu bagaimana Covid-19 itu menyebar.

Sementara itu, Kasubbid Tracking Satgas Covid-19 Kusmedi Priharto menjelaskan, tes Covid-19 sangat penting untuk penanganan pasien lebih cepat. Ia mengatakan, pihaknya sudah mencoba berbagai cara untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat terkait pentingnya tes Covid-19.

"Akibat masyarakat tidak mendapat pencerahan yang benar, mereka akhirnya mempunyai pendapat masing-masing yang belum tentu benar," kata dia dalam diskusi yang sama.

Imbasnya, kata dia, seseorang menjadi distigma orang lain yang melakukan tes Covid-19. Stigma itu pun dilekatkan ke tenaga medis yang setiap hari bekerja di rumah sakit.

Sponsored

"Saya minta ke puskesmas, jelaskan sejelas mungkin kepada masyarakat apa sebenarnya Covid-19 itu, dan apa yang harus dilakukan apabila di sekitar kita ada (yang terkena) Covid-19," ujarnya.

Kemudian, ia menganjurkan, warga agar datang ke puskesmas terdekat untuk diberikan pengertian dan diperiksa. Lebih lanjut, Kusmedi mengingatkan warga yang habis bertemu atau berkumpul di tempat kerumunan dan tak menerapkan protokol kesehatan, supaya dites Covid-19. Untuk tenaga medis sendiri, ia menuturkan, minimal satu atau dua minggu sekali mereka harus dites Covid-19.

Terkait problem ekonomi seseorang enggan dites Covid-19, ia mengatakan, seharusnya tidak berat. Sebab, pihaknya sudah menyediakan tes Covid-19 gratis. 

"Di puskesmas, kalau seseorang betul-betul ada gejala Covid-19, maka ia bisa periksa gratis," tuturnya.

"Saya rasa puskesmas tidak berani macam-macam dengan hal tersebut."

Bahkan, menurut dia, Satgas Penanganan Covid-19 saat ini sudah memfasilitasi pasien Covid-18 yang diisolasi, baik di RSD Covid-19 Wisma Atlet atau hotel-hotel. "Untuk di daerah-daerah di 10 provinsi yang kita utamakan, itu ada dana (warga yang diisolasi mandiri) per orang sehari tiga kali makan," ujar dia.

Berita Lainnya