logo alinea.id logo alinea.id

Gabion pengganti Getah Getih bukan instalasi seni

Bronjong alias Gabion tersebut berbentuk anyaman atau keranjang dari kawat yang diisi batu dengan biaya Rp150 juta.

Eka Setiyaningsih
Eka Setiyaningsih Jumat, 23 Agst 2019 17:27 WIB
Gabion pengganti Getah Getih bukan instalasi seni

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah mengganti instalasi seni Bambu Getah Getih di Bundaran Hotel Indonesia dengan hiasan taman kota Gabion atau Bronjong.

Bronjong tersebut berbentuk anyaman atau keranjang dari kawat yang diisi batu. Gabion merupakan bendungan sementara yang digunakan untuk mencegah masuknya air dan tanah pada galian yang telah dibuat.

Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Suzi Marsitawati menegaskan bahwa gabion bukan merupakan karya seni, namun hanya hiasan kota.

"Kami mempunyai Tupoksi (Tugas pokok dan fungsi) adalah mengelola ornamen kota yang kita tahu adalah hal yang biasa. Jadi ini menyambut hari kegiatan khusus seperti HUT DKI, HUT RI, jadi kita memasang ornamen itu adalah kaitannya dengan itu," kata Suzi saat dihubungi, Jumat (23/8).

Suzi menyebut, pihaknya memilih gabion atau keranjang lantaran pemasangan yang mudah. Sementara batu atau bronjongnya berguna untuk menyerap air.

Suzi mengatakan, batu yang ada dalam hiasan kota itu merupakan jenis batu karang. "Batunya dari Jakarta kok," katanya.

Jadi, lanjut dia, ornamen dibuat ada unsur batu sebagai penyerap air. Lalu ada tanaman penyerap polusi seperti bougenville, tapak dara, lavender, dan palem kol.

Suzi menyebut bahwa hiasan kota tersebut bersifat dekoratif. Artinya, kapan pun bisa dibongkar sesuai kebutuhan. "Tiba-tiba bulan depan, tiga bulan lagi, atau enam bulan kita ada event kenegaraan atau kegiatan khusus itu kan sifatnya dekoratif. Kita mau pertahankan satu atau dua tahun tergantung kebutuhan," kata dia.

Sponsored

Ia pun menyadari bahwa gabion atau bronjong tersebut menuai pro dan kontra. Jadi, ia tak mempermasalahkan apabila ada masyarakat yang tidak suka. "Tergantung bagaimana mereka memandang," kata dia.

Suzi mengatakan bahwa pembangunan instalasi tersebut lebih murah daripada instalasi sebelumnya. "Kurang lebih Rp150 juta. Dananya dari APBD Dinas Kehutanan. Senimannya kami, yang memasang juga kami sendiri," katanya.