sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Kepulauan di Jatim krisis dokter spesialis

Dinkes mengumpulkan beberapa pimpinan rumah sakit di Jawa Timur.

Adi Suprayitno
Adi Suprayitno Minggu, 12 Jan 2020 06:45 WIB
Kepulauan di Jatim krisis dokter spesialis

Daerah kepulauan yang ada di Jawa Timur mengalami krisis dokter spesialis. Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) akan melakukan pemerataan dokter spesialis hingga daerah kepulauan. Dinkes akan menerapkan skema bergilir di daerah terpencil atau kepulauan bagi dokter spesialis. 

Aturan ini dibuat karena terjadi insiden seorang bayi meninggal di dalam kandungan ibunya, karena di wilayah kepulauan tidak ada dokter bedah. Seperti halnya Ernawati (24) asal Pulau Bawean, harus kehilangan bayinya setelah tak bisa menyeberang ke Gresik untuk melakukan operasi caesar

Kepala Dinkes Jawa Timur, Herlin Ferliana mengaku tengah menyiapkan aturan agar dokter spesialis mau bergantian ditempatkan di kepaulauan. Dinkes akan memberi iming-iming berupa penghargaan bagi dokter spesialis yang mau praktik di kepulauan selama setahun.

"Kami carikan bentuknya, kami gilir sebulan sekali saja misalnya," ujar Herlin, dikonfirmasi, Sabtu (11/1). 

Untuk mematangkan regulasi penempatan dokter spesialis secara bergiliran, Herlin mengaku telah mengumpulkan beberapa pimpinan rumah sakit di Jawa Timur. Salah satunya adalah Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, Rumah Sakit TNI AL dr Ramelan, dan RSUD Soetomo. 

"Semuanya untuk ada yang mau digilir sebulan sekali kesana, dan ini sudah menemukan bentuknya," ungkapnya. 

Penempatan di kepulauan ini sebenarnya sudah diterapkan tahun lalu oleh Dinkes Jawa Timur. Dokter spesialis dikontrak praktik selama setahun, setelah selesai diperpanjang lagi.

Program Kementerian Kesehatan yakni membidik dokter lulus dan mendapatkan gelar spesialis, kemudian dikontrak satu tahun untuk ditempatkan di daerah terpencil.

Sponsored

"Ini program pusat, akan menempatkan ke tempat sulit. Karena memang tidak ada yang ditempatkan di kepualauan," tegasnya. 

Menyinggung kejadian di Pulau Bawean, Gresik, Herlin mengatakan bahwa yang tidak ada saat itu adalah dokter asestesia.

"Kokter obginnya (kandungan) ada, tapi dokter anestesinya (dokter spesialis yang memiliki tanggung jawab memberikan anestesi atau pembiusan) tidak ada," ungkapnya. 

Sedangkan proses kelahiran harus melalui operasi bedah. Informasi yang diperoleh menyebut karena bayi terlalu besar tak bisa melahirkan normal, sehingga harus di bawa ke Gresik untuk ditangani. 

Namun, cuaca buruk dan ombak besar membuat perjalan tidak mudah. Kendala-kendala itu yang lantas diduga menyebabkan meninggal di dalam kandungan.

Berita Lainnya