sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Mangkrak kasus Novel, kinerja Kapolri dipertanyakan

Genap setahun pasca serangan air keras pada penyidik KPK Novel Baswedan. Namun hingga kini pelaku penyerangan masih gelap.

Bima Yairiba Ayu mumpuni
Bima Yairiba | Ayu mumpuni Rabu, 11 Apr 2018 18:13 WIB
Mangkrak kasus Novel, kinerja Kapolri dipertanyakan

Hari ini genap satu tahun tragedi penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Namun hingga kini pelaku penyerangan masih gelap, kendati polisi sudah sempat memeriksa beberapa saksi. Karena itulah Masyarakat Sipil Peduli KPK dan sejumlah organisasi, Indonesian Corruption Watch (ICW), Amnesty Internasional, serta Kontras menggelar aksi dukungan pada Novel. Tujuannya, mendesak kepolisian segera membongkar dalang peristiwa itu.

Koordinator Amnesty Muda dan Amnesty Indonesia Yansen Dinata, menyatakan kekecewaanya terhadap polisi dalam menuntaskan kasus ini. “Sekali lagi kita menyatakan sudah kecewa dengan polisi yang kita anggap gagal dalam mengungkap pelaku, siapapun aktor penyerangan Novel Baswedan,” katanya.

Yansen mengaku, aksi protes serupa sudah dilakukan sejak sebulan terakhir. Bahkan di jagat maya, gerakan melawan lupa ini juga dikukuhkan lewat penandatanganan petisi melalui website tiktoknovel.com.

Dalam website yang dibuat sejak 11 April lalu, sudah terkumpul lebih dari 100.000 tanda tangan. Petisi tersebut menuntut Presiden Jokowi untuk segera membuat Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

“Ini udah beberapa kali, pertama kali Novel diserang, kami sudah mengeluarkan petisi ini, yaitu meminta Presiden Jokowi untuk membentuk TGPF,” kata Yensen di Taman Aspirasi Monas, Rabu (11/4).

Hal senada juga disampaikan artis Melanie Subono, “Kecurigaan gue sih dari yang udah-udah kalau sosok begini ternyata aktor utamanya pejabat, polisi, orang pemerintahan,” ujarnya.

Penyiraman air keras kepada Novel Baswedan sendiri terjadi usai dirinya melaksanakan solat subuh di masjid dekat rumahnya. Penyiraman air keras oleh orang tak dikenal itu mengakibatkan matanya nyaris buta. Novel yang kala itu menjabat penyidik KPK memang terkenal vokal dan ulet mengurai sejumlah korupsi yang menyeret selit pejabat, termasuk korupsi E-KTP.

Sponsored

Bentuk dukungan pada Novel Baswedan. (Mumpuni/ Alinea)

Di sisi lain Novel mengaku kecewa karena pelaku tak juga ditemukan. "Saya juga kecewa dengan proses pengungkapan yang sampai sekarang belum juga diketahui," tandas Novel di gedung KPK.

Menurutnya, penyerangan itu tak sekadar menyasar dirinya, namun menjadi ancaman konkret pada lembaga antirasuah.

Beberapa hari yang lalu Novel telah melaporkan kasus ini ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Laporan ke Komnas HAM itu adalah ihtiar Novel, untuk menolak diam. Sebab, ia sempat menduga kasus ini terkait dengan orang-orang yang punya kekuasaan, bahkan menyeret wajah kepolisian.

Oleh karena itu, ia berharap semua elemen yang berhubungan dengan keamanan memberikan perhatian mengenai hal itu. "Saya ingin menegaskan bahwa negara tidak boleh abai," tegasnya.