logo alinea.id logo alinea.id

MRT Ratangga hanya untuk piknik warga Jakarta

Masyarakat Jakarta masih menjadikan Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT) Ratangga sebagai lokasi piknik.

Akbar Persada
Akbar Persada Kamis, 04 Apr 2019 22:30 WIB
MRT Ratangga hanya untuk piknik warga Jakarta

Masyarakat Jakarta masih menjadikan Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT) Ratangga sebagai lokasi piknik.

Euforia warga Ibu Kota memiliki MRT memang sempat menjadi perbincangan panas di media sosial. Bahkan, media Jepang sempat menayangkan foto-foto warga yang bergelantungan di dalam MRT hingga makan bersama di dalam peron stasiun.

Beroperasinya MRT Ratangga sejak 25 Maret 2019 lalu menjadi demam tersendiri bagi warga Jakarta dan sekitarnya. Meski telah berbayar pada pengoperasian secara komersial mulai 1 April 2019 lalu, animo warga untuk sekadar mencoba kereta modern itu tetap tinggi.

Contohnya, warga yang memanfaatkan libur nasional peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, Rabu (3/4) kemarin. Kebanyakan warga tidak memiliki tujuan tertentu saat menggunakan MRT, melainkan hanya untuk merasakan sensasi saat menumpang MRT.

Hingga akhirnya antrean panjang pun terjadi di hari itu. Dari informasi yang dihimpun, antrean penumpang mengular di stasiun-stasiun yang menjadi simpul keramaian, seperti Stasiun Bundaran HI, Senayan, dan Lebak Bulus.

Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar menjelaskan, di hari libur bersama kemarin pihaknya mencatat sebanyak 110.000 penumpang. Ia mengakui terjadinya kendala sistem sebagai penyebab antrean panjang yang terjadi.

"Memang ada persoalan terkait penumpang yang menggunakan kartu di stasiun dengan melakukan tap-in dan tap-out di stasiun yang sama," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (4/4).

William mengatakan, pintu otomatis atau gate di setiap stasiun yang disiapkan PT MRT tidak diprogram untuk penumpang yang kembali lagi ke titik keberangkatan tanpa melakukan tap-out. Sementara para penumpang itu pun hanya membeli tiket untuk satu kali perjalanan (single trip).

Sponsored

"Ini yang menyebabkan sistem kita break, tidak bisa membaca," terangnya.

"Hal ini juga yang menyebabkan penumpukan penumpang di Stasiun Bundaran HI. Makanya saya perintahkan untuk menutup stasiun Bundaran HI untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan," kata William lagi.

Selain itu pola penumpang yang tak sesuai sistem, ia mengatakan, antrean panjang juga disebabkan karena membludaknya pembelian tiket ataupun pengembalian uang di loket-loket yang disediakan di tiap stasiun. 

"Tetapi saat ini sedang kita cari cara untuk mengantisipasi itu. Kami tetap meminta agar penumpang tap-out di stasiun tujuan. Kalau ingin kembali ke stasiun awal harus membeli tiket lagi," ungkapnya.