logo alinea.id logo alinea.id

Pemprov DKI lamban menangani stok bawang putih

Pemprov DKI Jakarta seharusnya dapat membaca tren dan grafik kebutuhan bawang putih.

Akbar Persada Eka Setiyaningsih
Akbar PersadaEka Setiyaningsih Selasa, 07 Mei 2019 16:38 WIB
Pemprov DKI lamban menangani stok bawang putih

Pemerintah Provinsi (Pemprov) lamban dalam menstabilkan harga pangan saat Ramadan. Harga bawang putih, salah satu pangan warga, meroket dengan harga eceran menyentuh Rp100.000 per kilogram (kg). Masalah klasik soal produksi dan stok bawang putih yang minim menjadi biang harga bawang putih meroket. 

Sebagai informasi, per Senin (6/5) rata-rata harga bawang putih di Jakarta mencapai harga Rp64.660 /kg. Harga naik 6,03% dari rata-rata harga di hari sebelumnya Rp60.979/kg. Harga tertinggi terjadi di Pasar Johar Baru, Jakarta Pusat, sebesar Rp100.000/kg. Sementara harga terendah ada di Pasar Baru Metro Atom, Jakarta Utara dengan harga Rp40.000/kg.

Komisi B bidang perekonomian DPRD DKI Jakarta menilai Pemprov DKI Jakarta lamban menangani persoalan bawang putih di pasaran. Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Abdurrahman Suhaimi mengatakan, menjelang hari raya seperti: Idul Fitri, Natal hingga Tahun Baru, sudah dapat dipastikan permintaan bawang putih tinggi. Karena ini rutin terjadi, seharusnya bisa ditangani oleh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan BUMD terkait. 

Ia meyakini SKPD dan BUMD memiliki data lengkap berapa pasokan bawang putih yang dibutuhkan warga Jakarta pada hari-hari besar. Pemprov dipastikan dapat membaca tren dan grafik kebutuhan. 

"Kalau memang ada prediksi kenaikan harga, justru harusnya ditambah. Bukan malah sampai ada kebutuhan yang sangat tinggi, tapi ketersediannya menurun," ungkap Suhaimi.

Sebenarnya, Dinas Ketahanan Pangan Kelautan dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta memastikan telah mendapatkan kuota impor bawang putih. Meski impor ditargetkan masuk Jakarta di pekan kedua Mei 2019.

Pasokan tersebut dipastikan PT Food Station Tjipinang Jaya dari delapan importir dari RIPH Kementerian Pertanian. Melalui delapan importir tersebut, Pemprov DKI Jakarta berharap PT Food Station Tjipinang Jaya bisa mendapatkan satu kontainer dari seluruh bawang putih milik importir. Adapun jumlah bawang putih dalam satu kontainer pun bervariasi antara 20 ton hingga 40 ton. 

Suhaimi menyatakan, Komisi B DPRD DKI Jakarta akan segera menggelar rapat kerja dengan SKPD maupun BUMD terkait. Rapat akan bersifat evaluasi, mengingat sebelumnya dua unit kerja di bidang pangan tersebut memastikan pasokan kebutuhan pokok selama Ramadan, termasuk bawang putih, mencukupi.

Sponsored

"Sebelumnya sudah saya tanyakan, katanya aman. Karena itu, sebelum melayangkan surat resmi saya akan hubungi langsung pimpinan SKPD dan BUMD terkait," kata Suhaimi.

Sementara itu, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi memastikan pihaknya segera mendapatkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) bawang putih dari Kementerian Pertanian.

Lewat rekomendasi dari RIPH dari Kementan, Food Station dapat mengimpor bawang putih tanpa perlu membeli dari importir lain. Kemudian, Food Station akan melanjutkan pemenuhan syarat impor dengan mengajukan Surat Persetujuan Impor (SPI) kepada Kementerian Perdagangan.

"Jadi, pemerintah harus punya stok melalui BUMD pangan. Kalau kita tidak punya stok, sulit untuk melakukan stabilisasi," ujar Arief saat mendampingi Gubernur Anies Baswedan melakukan sidak di Pasar Cipinang. 

Arief merinci, akan ada satu kontainer bawang putih sebanyak 29 ton pada Senin malam (6/5). Lalu tambahan satu kontainer lagi. Jadi, selama tiga hari sampai empat hari ke depan akan ada lima kontainer. Ini cukup untuk kebutuhan pasar. 

Setiap minggunya kata Arief dibutuhkan 10 kontainer sampai 11 kontainer untuk kebutuhan di Jakarta. Sebagai informasi, bawang putih impor yang datang dari wilayah Laiwu dan wilayah Hainan, China.
 

Riset : Fultri Sri Ratu Handayani