close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Foto dokumentasi.
icon caption
Foto dokumentasi.
Nasional
Jumat, 17 Februari 2023 13:40

Pengalihan Balai Pameungpeuk jadi kebun raya oleh BRIN dinilai tak tepat

BRIN mengubah balai pengamatan antariksa dan atmosfir di Garut jadi kebun raya. Kompetensi karyawan saat ini tak sesuai.
swipe

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengubah Balai Uji Teknologi dan Pengamatan Antariksa dan Atmosfer (BUTPAA) Pameungpeuk, salah satu balai eks Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), di Garut, menjadi kawasan kebun raya. Pengubahan balai lokasi peluncuran roket pertama negeri ini dinilai tak tepat. Nilai historis itu mestinya tetap dijaga.

"LAPAN dulu awalnya berdiri dari balai ini. Peluncuran roket pertama milik Indonesia juga dilakukan di Pameungpeuk. Kesakralan itu mestinya dipertahankan, bukan malah diubah," ujar mantan Kepala BUTPAA Pameungpeuk, Unggul Satrio Yudhotomo, kepada Alinea.id, Kamis (16/2).

Selain itu, kata Unggul, keberadaan stasiun peluncuran roket penting dalam konteks pertahanan dan penguasaan teknologi uji roket yang mendukung pengembangan roket nasional. Ini menunjukkan prestasi nasional di bidang teknologi roket, terutama roket eksperimental dengan jarak jangkau tiga digit. 

Dalam lingkup regional, jelas Unggul, Indonesia memimpin capaian ini sehingga akan lebih segan dalam memandang Indonesia. Keberadaan tempat peluncuran roket akan memberikan kewibawaan bagi Indonesia. 

"Keberadaannya akan memberikan efek gentar (deterrent effect), terutama ke negara-negara tetangga. Memang layanan teknis dipertahankan. Akan tetapi, kalau peluncuran roket dilakukan dari kawasan berstatus kebun raya, efek gentarnya akan hilang," kata Unggul.

Mempertahankan BUTPAA Pameungpeuk sebagai lokasi peluncuran roket, jelas Unggul, akan mensejajarkan Indonesia dengan negara-negara yang punya fasilitas serupa. Indonesia akan memiliki kebanggaan tinggi. Seperti Jepang dengan fasilitas di Tanegashima Space Center, Centre Spatial Guyanais di Guyana, Prancis; atau Satish Dhawan Space Center di Sriharikota Andhra Pradesh, India.

Unggul kembali mengingatkan, Indonesia merupakan negara kedua di Asia setelah Jepang yang meluncurkan roket. Roket bernama Kartika I buatan LAPAN, AURI, Institut Teknologi Bandung, dan Pindad dibawah Proyek Pengembangan Roket Ilmiah dan Militer Awal diluncurkan di Stasiun Peluncuran Roket LAPAN di Pameungpeuk, Garut, pada 14 Agustus 1964.

Keunggulan BUTPAA Pameungpeuk

Berdiri di atas lahan 84 hektare, BUTPAA Pameungpeuk selain melakukan pengamatan antariksa dan atmosfir juga merupakan satu-satunya unit di bawah eks LAPAN yang menjadi tempat peluncuran roket. Balai dilengkapi dengan uji roket, baik terbang (dinamis) maupun diam (statis). Juga tempat uji teknologi drone atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV).

"Uji roket (terbang dan diam) dan uji UAV di balai eks LAPAN hanya ada di Pameungpeuk, Garut. Baik untuk internal atau TNI dan komunitas UAV. juga sebagai tempat mensertifikasi pilot aneka drone, latihan dan training serta uji tembak roket. Lengkap sebagai area ilmiah untuk beberapa jenis ALPALHANKAM pertahanan," jelas Unggul. 

Akuisisi data cuaca di BUTPAA Pameungpeuk mewakili karakter cuaca pantai bagian selatan. Balai, kata dia, dilengkapi sensor ionosfer dan sky quality meter untuk mengakuisisi data antariksa. Juga bertindak sebagai observer pengamatan benda langit dan fenomena antariksa, seperti gerhana matahari dan bulan, komet, hilal penentuan tanggal penting Islam.

Untuk layanan publik, balai selalu memasok data atmosfer dari unit layanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Balai juga menjadi langganan kunjungan siswa, baik tingkat  TK, SD,SMP, SMA, dan perguruan tinggi dari wilayah sekitar. Tidak hanya dari Garut, pengunjung juga datang dari Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang, Garut, Cirebon dan Bandung. 

Kepada mereka, kata Unggul, balai menyuguhkan aktifitas ilmiah mulai penjelasan, praktik, aeromodelling hingga demo roket air dan roket dextrose (roket gula). Ada pula training in house, lomba, dan origami. 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Brin Garut (@brin_garut)

Ketika pandemi Covid-19 menyergap awal Maret 2020, jelas Unggul, aktivitas layanan publik tetap bergairah. Layanan difasilitasi lewat aplikasi Eduhub berbasis Android yang diciptakan BUTPAA Pameungpeuk. 

"Kami sosialisasikan ke sekolah-sekolah melalui online tanpa tatap muka. Semboyan kami, bring technology on your hand Kita bikin ulangan dan cerdas cermat online. Peserta tetap di masing-masing sekolah. Asal ada smartphone dan kuota data, bisa ikut. Peserta dari mana saja karena berbasis internet. Pemenang diketahu realtime," jelas Unggul.

Setahun terakhir, ketika pandemi Covid-19 mereda, banyak permintaan kunjungan langsung. Semua dilayani. Puncak kunjungan terjadi di akhir 2022. Akan tetapi, jelas Unggul, sejak pertengahan 2021 balai tidak bisa memberikan layanan optimal. Salah satunya karena soal anggaran.

Ketika Unggul ditunjuk sebagai Kepala BUTPAA, 20 Maret 2020, SDM di balai mencapai 84 orang. Jumlah PNS mencapai 34 orang, sisanya non-PNS yang mencakup sekuriti, cleaning service, dan sopir. PNS meliputi kualifikasi teknik (mesin, elektro, komputer jaringan) dan akuntansi. 

Dari jumlah PNS itu, setengahnya lulusan perguruan tinggi. Sisanya jebolan SMK, yang menjadi tenaga pembantu penelitian dan perekayasa. Mereka inilah yang menjalankan akuisisi data antariksa dan atmosfir, merawat barang di area lahan yang luas, perlengkapan, dan sarana prasarana seperti asrama, wisma, launch pad, test bed, hangar assembling, dan integrasi. Termasuk merawat hampir 25-an gedung.

Muslihat jadi kebun raya

Agar produktif, sejak Unggul memimpin BUTPAA sekitar 25 hektare wilayah yang ditumbuhi rumput dan jadi sarang ular dan babi hutan kini ditanami palawija. Ada jagung, cabai, semangka, melon, pepaya, dan kelapa. Pengelolaan melibatkan pegawai yang dibantu keluarga. "Hasilnya bagus bahkan sudah memiliki merk dagang sendiri dan memasok sampai Garut Kota dan Bandung," jelas dia. 

Ketika Kepala BRIN Laksana Tri Handoko berkunjung ke BUTPAA Pameungpeuk, 28 September 2021, sempat terlontar ide mengubah status menjadi kebun raya. Ide itu semakin menguat setelah ada kunjungan pejabat BRIN ke Pameungpeuk. Mengacu pada Keputusan Kepala BRIN No. 302/2022 tentang Penetapan Lokasi Kerja di Lingkungan BRIN tertanggal 10 Oktober 2022, Pameungpeuk masuk kawasan konservasi ilmiah bersama 9 kawasan lain.

Unggul menerangkan, penggantian status membuat kompetensi karyawan yang ada saat ini tidak tepat. Meskipun demikian, sejak 2021 pihaknya sudah mulai menanami wilayah seluas 25 hektare dengan aneka pohon. Koleksi awal yang ada hanya pohon ketapang, asam, dan beringin. 

Selain itu, sejak diintegrasikan ke BRIN pada 2021, jumlah non-PNS secara berangsur dikurangi. Kini tersisa 37 orang. Menurut Unggul, pengurangan drastis tenaga non-PNS itu tidak tepat. Karena wilayah yang harus dikelola luas. Kalau pun dikurangi, jelas dia, tidak sebanyak itu.

Per 11 Februari 2023, Unggul dicopot. Ia digeser ke BRIN pusat. Posisi yang ia tinggalkan saat ini ada skema dua koordinator. Pertama, koordinator yang mengurusi pemeliharaan sarana prasarana nonteknis. Kedua, koordinator teknis. Posisi kedua ini belum diisi. Infonya dipegang langsung oleh koordinator dari Pusat Riset Roket BRIN.

Menurut Unggul, keputusan ini aneh. Sebab, aktivitas teknis di BUTPAA Pameungpeuk amat besar. Di sisi lain, kata dia, koordinator nonteknis yang ditunjuk pun kurang tepat. Penunjukan seharusnya mempertimbangkan tata laksana birokrasi, tata laksana kepegawaian, dan etika organisasi. 

Sebab, kata dia, "Kantor ini butuh nyawa, butuh pimpinan, dan figur seorang bapak. Sekarang ini gak ada pimpinan. Salah satu koordinator yang ditunjuk itu pangkatnya dibawah dan akan memimpin mereka yang berpangkat lebih tinggi dan berpengalaman 30-an tahun jadi PNS. Ini kurang tepat."

 

img
Satriani Ari Wulan
Reporter
img
Khudori
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan