logo alinea.id logo alinea.id

Polri: Ada molotov, kelewang, dan pedang di rusuh 22 Mei  

Ada kelompok yang ditenggarai berencana melukai dan membunuh personel kepolisian yang menjaga Bawaslu.

Fadli Mubarok
Fadli Mubarok Selasa, 11 Jun 2019 19:06 WIB
Polri: Ada molotov, kelewang, dan pedang di rusuh 22 Mei  

Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Muhammad Iqbal menerangkan kronologi aksi unjuk rasa yang berujung kerusuhan pada 21-22 Mei. Menurut Iqbal, dari penyidikan sejauh ini, diketahui massa aksi pada peristiwa 21-22 Mei terbagi menjadi dua segmen. 

"Pertama, unjuk rasa damai. Pada tanggal 21 sekira pukul 14.00 WIB terus berjalan pukul 15.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB. Sekira 3.000 massa itu melakukan penyampaian pendapat di muka umum secara tertib sesuai aturan," jelas Iqbal dalam konferensi pers di Kemenko Polhukam, Jakarta Selasa (11/6).

Ketika itu, Polri memberikan keringanan kepada peserta unjuk rasa untuk terus beraksi di depan Gedung Bawaslu, Thamrin, hingga pukul 21.00 WIB. Sekitar pukul 21.10 WIB, Iqbal mengatakan, Kapolres Metro Jakarta Pusat sempat berkoordinasi dengan koordinator lapangan aksi unjuk rasa untuk membubarkan massa.

"Ini segmen pertama. Massa kembali dengan tertib. Ada juga yang beribadah dengan damai dan selesai. Kapolda Metro Jaya sempat memerintahkan konsolidasi, apel konsolidasi untuk mempersiapkan dan mengecek dan melakukan analisa evaluasi," ungkap Iqbal.

Adapun massa segmen kedua, diterangkan Iqbal, sangat berbeda dengan massa yang berkumpul di depan Bawaslu pada segmen pertama. Segmen kedua aksi, menurutnya, terjadi sejak pukul 22.30 WIB. 

Segmen tersebut, dijelaskan Iqbal, diawali munculnya kerumumunan sekitar 500 orang di depan dan sisi samping Gedung Bawaslu. Tanpa peringatan, mereka langsung menyerang petugas tugas dan merusak bangunan. 

"Bahkan petugas yang mengimbau diserang. Bukan saja menggunakan benda-benda yang kecil, tapi benda-benda yang mematikan seperti contoh molotov," lanjut Iqbal.

Selain molotov, massa perusuh juga dijelaskan membawa petasan roket, batu sebesar conblock, panah beracun, kelewang, dan pedang. Menurut Iqbal, kelompok massa juga telah didesain untuk memprovokasi dan menyerang petugas. 

Sponsored

Sesuai SOP, Iqbal mengatakan, personel kepolisian langsung berupaya menghalau para perusuh dan membubarkan aksi unjuk rasa. Personel dilengkapi dengan gas air mata, water cannon, peluru karet, dan peluru hampa.

"Untuk beberapa kali saya sampaikan di publik bahwa personel pengamanan 21-22 Mei, baik TNI-Polri, tidak dilengkapi dengan peluru tajam. Dengan berbekal halau, sampai pagi harinya kita bisa memberhentikan, walaupun ada banyak kerusakan-kerusakan," ujar dia.

Lebih lanjut, Iqbal memaparkan banyak personel kepolisian yang bertugas menjadi korban amuk massa. Setidaknya ada 225 personel Polri harus menjalani rawat jalan dan 8 personil rawat inap.

Salah satunya ialah Wakapolsek Jatinegara AKBP Agus Sumarno. Menurut Iqbal, kepala Agus dihantam batu konblok oleh perusuh rahangnya harus dioperasi. 

"Kemudian AKP Ibrahim patah tangannya. Artinya massa perusuh dan massa yang menyerang petugas ini sudah ada niat, bukan hanya untuk memprovokasi tetapi untuk melukai bahkan untuk menghilangkan nyawa petugas," terang Iqbal.

Fenomena cocoklogi versus ilmu pengetahuan

Fenomena cocoklogi versus ilmu pengetahuan

Senin, 24 Jun 2019 22:15 WIB
Siasat turunkan harga tiket pesawat domestik

Siasat turunkan harga tiket pesawat domestik

Jumat, 21 Jun 2019 20:21 WIB