logo alinea.id logo alinea.id

Ratusan orang meninggal akibat konflik panjang dengan KKSB

Konflik antara aparat keamanan dan KKSB membuat sejumlah warga memilih mengungsi, bahkan sampai ke hutan.

Akbar Ridwan
Akbar Ridwan Rabu, 14 Agst 2019 18:17 WIB
Ratusan orang meninggal akibat konflik panjang dengan KKSB

Sebanyak 182 orang dilaporkan tewas akibat berkonflik berkepanjangan di Papua antara aparat keamanan TNI/Polri dengan Kelompok Kriminal Sipil Bersenjata (KKSB). Mereka rata-rata meninggal di area pengungsian. 

Berdasarkan laporan Tim Kemanusian Nduga yang diberikan kewenangan oleh Pemerintah Daerah Nduga, korban meninggal terdiri atas 21 perempuan dewasa, 69 laki-laki dewasa, 21 anak perempuan, 20 anak laki-laki, 14 balita perempuan, 12 balita laki-laki, 17 bayi perempuan, dan 8 bayi laki-laki.

“Banyak pengungsi yang meninggal, khususnya anak-anak di bawah 18 tahun. Selain itu, korban yang meninggal juga ada dari ibu melahirkan. Mereka meninggal karena tak ada pertolongan medis di hutan tempat pengungsian mereka,” kata Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem, di Jakarta pada Rabu (14/8).

Theo mengaku prihatin atas banyaknya korban jiwa yang berjatuhan. Mereka para korban adalah warga yang memilih mengungsi setelah aparat keamanan menggelar operasi pengejaran terhadap KKSB pimpinan Egianus Kogoya pascamembantai sejumlah karyawan PT Istaka Karya pada 2 Desember 2018.

"Kita sangat tidak setuju dengan namanya menghilangkan nyawa manusia. Dalam arti setiap orang punya hidup yang sama, sehingga tak seorangpun yang punya kewenangan merampas hidup setiap orang itu," kata Theo.

Namun demikian, operasi yang digelar aparat keamanan dalam mengejar KKSB pimpinan Egianus Kogoya justru mengorbankan warga sipil lantaran harus mengungsi. Menurut Theo, para pengungsi tersebar di beberapa kabupaten. Bahkan ada yang sampai mengungsi ke dalam hutan. 

"Perlu kita jelaskan di sini, pengungsi ada tiga katagori. Pertama, pengungsi di kabupaten. Kedua, di hutan. Dan yang lain di kota dan kabupaten," ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, sampai saat ini masih ada dua orang yang menjadi korban akibat konflik tersebut. Kedua orang itu yang masih anak-anak diduga masih hidup. Mereka dijadikan sandera oleh pihak aparat keamanan.

Sponsored