sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Sengsara penggali lahad corona: Dari jatuh ke lubang hingga mati kelelahan

Jumlah pemakaman dengan protap Covid-19 tak sebanding dengan tenaga pemulasaraan jenazah di TPU DKI.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Senin, 21 Sep 2020 06:17 WIB
Sengsara penggali lahad corona: Dari jatuh ke lubang hingga mati kelelahan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 365.240
Dirawat 64.032
Meninggal 12.617
Sembuh 289.243

Nurdin, 38 tahun, baru bisa mendudukkan pantatnya di sebuah kursi lipat di dalam tenda hijau di sudut Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (12/9) petang itu. Sejak pagi, anggota tim penggali kubur TPU Tegal Alur itu tak henti-hentinya bekerja. 

Sambil membakar sebatang rokok, Nurdin berseloroh di depan rekan-rekannya yang sudah terlebih dahulu berada di dalam tenda. Ia bilang kemungkinan mereka bakal lembur lagi hingga malam hari. "Padahal, malam Minggu nih entar malam," kata dia. 

Ramalan Nurdin langsung jadi kenyataan. Sebuah mobil jenazah beserta rombongannya masuk ke area TPU Tegal Alur. Tanpa pikir panjang, Nurdin langsung membuang rokok di tangan, mencari baju hazmat dan menyiapkan alat pelindung diri (APD). "Baru juga ngaso, udah datang lagi aja," ujar dia. 

Ia dan tiga rekannya langsung menuju liang lahad yang sudah disiapkan sebelumnya. Dengan terampil, Nurdin dan rekan-rekannya menggotong peti jenazah. Tak butuh lama, "penghuni baru" TPU Tegal Alur itu terkubur.

Usai APD dan baju hazmat dilepas, keringat tampak membasahi wajah Nurdin. "Lumayan panas banget. Apalagi, kalau  dipakai sambil macul siang-siang," kata Nurdin kepada Alinea.id

Bagi regu penggali kubur di TPU Tegal Alur, kerja tanpa jam istirahat kini jadi rutinitas. Sejak jumlah kematian akibat Covid-19 terus merangkak naik, Nurdin dan rekan-rekannya bekerja overtime hampir setiap hari.  

"Kadang kita baru mau makan, dateng jenazah. Udah gitu keluarganya enggak sabaran minta cepat. Ya, udah kita tunda dulu tuh makan. Paling, ya, minum air putih aja biar enggak dehidrasi," ucap Nurdin.

TPU Tegal Alur merupakan salah satu TPU resmi yang ditunjuk Pemprov DKI Jakarta sebagai lokasi permakaman jenazah Covid-19, baik itu yang positif atau yang masih suspect. Hingga saat ini, sudah ada lebih dari 2.000 jenazah yang dimakamkan dengan prosedur Covid-19 di TPU seluas 57 hektare itu. 

Sponsored

Belakangan, kerja Nurdin dan rekan-rekannya bertambah lantaran mereka juga kerap kedatangan jenazah dari luar kota. "Seperti dari Serang dan Kerawang. Ini karena jenazahnya ditolak di sana. Enggak diterima, akhirnya dibawa ke DKI Jakarta. Ya, kita juga enggak bisa nolak," ucap Nurdin.

Tak hanya bekerja hingga larut malam, Nurdin mengatakan, ia dan rekan-rekannya juga hampir tak pernah mendapatkan jatah libur. Beberapa kali, ia bahkan harus menginap di TPU lantaran gelombang peti jenazah Covid-19 mengalir tanpa henti. 

"Pernah tiga minggu berturut-turut enggak libur karena nambel temen yang sakit. Capeknya luar biasa. Saya aja pernah jatuh ke lobang  karena saking capeknya. Keseleo mah udah sering banget. Sering banget udah rapi, mau istirahat, ada jenazah dateng," kata dia. 

Menurut Nurdin, tak ada jam kerja pasti bagi penggali kubur di TPU. Hampir setiap waktu mereka harus siap bekerja. "Jenazah sering datang mendadak. Padahal, posisi kita udah di rumah. Jengkel juga sebenarnya. Tapi, karena ini masalah kemanusiaan juga, mau enggak mau kita berangkat," ucap Nurdin.

Kondisi alam juga sering tak bersahabat. Berulang kali, Nurdin dan rekan-rekannya harus bekerja di tengah hujan deras. Hujan kerap membuat liang lahad terendam dan jalanan di Tegal Alur menjadi licin. "Ngegotongnya ribet. Jalan aja susah. Luar biasa lelahnya kalau hujan," ucap Nurdin. 

Tantangan bagi petugas permakaman juga datang dari keluarga orang yang jenazahnya dimakamkan. Menurut Nurdin, tak jarang pihak keluarga sengaja "cari-cari perkara" dengan petugas TPU lantaran menolak permakaman jenazah menggunakan protap Covid-19. 

"Ya, kami bilang, 'Pak, Bu jangan marah-marah di sini. Tanya rumah sakit aja. Kita hanya makamin sesuai arahan rumah sakit.' Kadang situasi itu yang terjadi. Jadi, stres kami juga akhirnya," ucapnya.

Suasana pemakaman dengan prosedur Covid-19 di TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (12/9). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

Beban kerja ganda 

Di TPU Tegal Alur, ada 37 petugas permakaman yang dibagi ke dalam 8 kelompok. Masing-masing kelompok umumnya beranggotakan 4 orang. Selain menangani permakaman jenazah Covid-19, mereka juga bertugas menguburkan jenazah umum. 

Menurut Nurdin, beban kerja yang berat itu memakan korban. Karena tekanan mental dan fisik, anggota tim penggali lahad bergiliran sakit. Salah satu rekan dia, diklaim Nudin, bahkan meninggal karena kelelahan bekerja. 

"Itu saking banyaknya (jenazah yang datang). Di bulan lima (Mei), dia meninggal kalau enggak salah. Karena dia gali di (permakaman) umum dan juga gali di (lokasi permakaman) untuk jenazah Covid-19 juga," ungkap Nurdin. 

Jika dibandingkan dengan masa-masa awal pandemi, Nurdin mengakui, kerja di TPU Tegal Alur sedikit lebih enteng. Pasalnya, kini ada tambahan bantuan tenaga dari Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta. Menggali kubur juga tak lagi manual karena mesin bekko telah diterjunkan. "Kalau enggak ada SDA mah, udah banyak yang tewas kali," ucapnya.

Kini, tambahan insentif juga didapat Nurdin dan kawan-kawan. Meski tak merinci jumlahnya, Nurdin menyebut insentif yang diberikan pemerintah belum sepadan dengan beban kerja mereka. 

"Kita itu kerja sampai melebihi batas waktu. Ngeri banget. Musuh kita enggak kelihatan. Apalagi, waktu awal-awal. Itu berisiko banget. Kan APD kagak ada. Enggak safety kita pas di bulan empat dan bulan lima itu. APD cuma pakai jas hujan," kata dia. 

Cerita Nurdin mengenai beratnya beban kerja dibenarkan Asep, komandan regu penggali lahad di TPU Tegal Alur. Menurut Asep, terjadi peningkatan jumlah jenazah Covid-19 yang dimakamkan di area TPU Tegal Alur dalam beberapa pekan terakhir. 

"Dari bulan Agustus kemaren mulai rame (jenazah). Enggak tentu juga sebenarnya. Kadang bisa dua puluh (pemakaman sehari), kadang di bawah dua puluh dan di atas sepuluh," kata Asep kepada Alinea.id.

Asep sudah bertugas di TPU Tegal Alur sejak 2014. Dia tinggal tak jauh dari TPU itu. Menurut Asep, tak ada yang banyak berubah dari aktivitasnya di TPU. Yang beda hanya akhir jam kerja dia yang kini tak tentu.  

"Ya, dari jam kerja aja (mulainya). Dari setengah delapan pagi sampai selesai. Tergantung laporan. Kalau ada, ya, tetap kami makamin," kata pria kelahiran Serang, Banten, yang genap berusia 40 tahun itu. 

Asep menuturkan, jenazah yang datang kini kian beragam. Tak hanya mereka yang berusia di atas 50 tahun, banyak jenazah orang yang usianya masih di bawah 40 yang juga dimakamkan dengan protap Covid-19 di TPU. 

"Balita juga ada. Enggak mesti di atas 50 tahun. Kalau dulu katanya yang tua lebih rentan, tapi ternyata enggak juga. Banyak yang usia muda. Ya, salah satunya mungkin karena mereka enggak tertib (menaati protokol)," ujar Asep.

Selain beban kerja yang berat, Asep mengakui risiko tertular selalu membayangi dia dan anggota timnya. Karena itu, ia selalu mengingatkan anggota timnya untuk selalu menaati protokol kesehatan dan memakai APD saat bekerja. 

Hingga saat ini, menurut Asep, belum ada petugas TPU Tegal Alur yang terpapar virus Covid-19. "Ya, kita lebih hati-hati aja sih. Kita jangan lupa pakai masker dan melindungi diri. Jaga jarak, sama cuci tangan aja," kata dia. 

Kelelahan fisik dan mental juga mulai dirasakan Taufik, petugas Dinas SDA DKI Jakarta yang diperbantukan di TPU Tegal Alur. Meski belum lama bergabung, Taufik merasa seolah mau "ambruk". "Badan tiap hari berasa banget kayak diinjek-injek," ujar dia.

Suasana pemakaman dengan prosedur Covid-19 di TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (12/9). Alinea.id/Kudus Purnomo Wahidin

Distribusi beban TPU Jakarta

Selain Tegal Alur, Pemprov DKI Jakarta hanya menunjuk TPU Pondok Ranggon di Cipayung, Jakarta Timur, sebagai TPU resmi untuk permakaman jenazah Covid-19. Namun, kini hanya tersisa sekitar 4.000 meter persegi lahan kuburan di TPU Pondok Ranggon. 

Jika Pondok Ranggon sudah krisis lahan permakaman, Tegal Alur tergolong masih aman. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut masih ada sekitar dua hektare lahan kosong di TPU itu. Ia mengklaim TPU Tegal Alur masih bisa menampung hingga 3.000 jenazah.  

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah mengatakan, Anies tak seharusnya hanya mempersiapkan lahan pemakaman saja. Tenaga pemakaman di TPU juga harus serius diperhatikan kondisinya. 

"Harusnya SDM (sumber daya manusia) itu diperbanyak. Kekurangan SDM itu jadi masalah. Jadi, tidak hanya mikir krisis lahan pemakaman. Tenaganya juga dipikirkan," ujar Trubus kepada Alinea.id di Jakarta, Minggu (13/9).

Menurut Trubus, sejak awal sudah ada kekeliruan dalam penanganan jenazah Covid-19 yang mengakibatkan krisis. Ia menyebut ada banyak jenazah yang sengaja "dilabeli" jenazah terkait Covid-19 untuk mengakali anggaran. 

"Padahal, jenazah itu bukan jenazah Covid-19. Itu kan untuk kepentingan bisnis. Sehingga membuat pemakaman jadi penuh. Ya, akhirnya SDM-nya kewalahan. Lelah betul nanganin pemakaman Covid-19 itu," ujarnya.

Infografik Alinea.id/Dwi Setiawan

Trubus berpendapat pemerintah seharusnya mendorong agar tiap daerah memiliki TPU resmi untuk pemakaman jenazah Covid-19. Dengan begitu, beban TPU di Jakarta bisa teralihkan. Krisis lahan pun bisa dihindarkan.

"Supaya tidak terlalu membebani tenaga pemakaman yang ada di Pondok Ranggon dan Tegal Alur juga," imbuhnya. 

Supaya solusi itu terlaksana, Trubus mengatakan, pemerintah pusat perlu mengeluarkan regulasi khusus untuk mengatur pemakaman Covid-19. Jika diwajibkan, ia yakin, krisis lahan permakaman di DKI tidak akan terjadi.  

"Kalau enggak ada payung hukum, baik masyarakat dan pemerintah daerah pasti enggak penduli. Banyak daerah-daerah yang kurang serius ngurusin jenazah Covid-19. Daerahnya tidak mau memfasilitasi layanan pemakaman Covid-19," ucapnya.
 

Berita Lainnya