sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Sosok Gus Sholah, ulama yang menjunjung tinggi perbedaan

Gus Sholah merupakan pribadi yang tidak segan membela kebenaran.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Senin, 03 Feb 2020 06:59 WIB
Sosok Gus Sholah, ulama yang menjunjung tinggi perbedaan
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 26473
Dirawat 17552
Meninggal 1613
Sembuh 7308

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Saifullah Yusuf atau dikenal Gus Ipul menilai sosok K.H. Sholahuddin Wahid atau biasa disapa Gus Sholah memiliki sikap yang patut dicontoh, terutama ihwal menghargai perbedaan.

“Beliau dikenal sangat menghargai dan menghormati perbedaan, sama seperti kakak kandungnya, Gus Dur,” kata Gus Ipul ketika dikonfirmasi di Surabaya, Jawa Timur, Senin (3/2).

Menurut dia, Gus Sholah menjunjung tinggi perbedaan karena setiap orang memiliki pandangan yang belum tentu sama, namun tetap sesuai koridor sehingga menjadikan seseorang lebih bijak.

"Beliau juga tidak memaksakan pendapat yang sama. Cara menyelesaikan perbedaan juga tidak saling menghujat. Ini yang harus diteladani," ucap dia.

Mantan Wagub Jatim itu, mengucapkan duka cita sedalam-dalamnya dan mendoakan almarhum Gus Sholah diterima di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran.

"Saya sangat sering komunikasi dengan putra Gus Sholah, Ipang Wahid, termasuk menanyakan kabar ayahnya saat tadi sempat kritis dan masuk rumah sakit. Sekarang, kita semua berduka karena ditinggalkan ulama hebat di negeri ini," katanya.

Atas nama PBNU, ia juga mengimbau kepada pengurus wilayah, cabang, lembaga, badan otonom, serta pondok pesantren mendoakan almarhum Gus Sholah melalui doa bersama, tahlil, dan menunaikan Shalat Gaib.

Tokoh penting Nahdlatul Ulama, Gus Sholah itu, tutup usia setelah kondisinya kritis saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta, Minggu (2/2), pukul 20.55 WIB.

Sponsored

Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Saadi, mengatakan Gus Sholah merupakan pribadi yang tidak segan membela kebenaran. Karena itu, dia tidak segan menyampaikan kritik kepada siapapun jika dianggap salah. “Juga siap membela siapapun yang benar meskipun orang lain menganggap salah," kata Zainut. 

Zainut yang juga Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan semua yang dilakukan adik Gus Dur itu dilakukan tanpa pamrih dan beban karena disampaikan dengan penuh keikhlasan. Dia mengatakan Gus Sholah juga menjadi jembatan yang menghubungkan semua golongan.

"Jembatan yang menghubungkan tokoh-tokoh agama, pemerintah dan masyarakat. Bahkan di kalangan Nadhlatul Ulama beliau menjadi jembatan antara golongan muda dan golongan tua," kata Zainut.

Dengan begitu, kata dia, tidak ada terjadi kesenjangan generasi baik dari aspek pemikiran maupun sikap keagamaan Gus Sholah yang teduh, tenang, sabar dan penuh empati kepada sesama.

Wamenag mengatakan bangsa Indonesia kehilangan Gus Sholah sebagai seorang ulama besar putra terbaik bangsa yang mengabdikan hidupnya untuk kepentingan umat dan bangsa.

"Beliau adalah seorang negarawan, ulama, cendekiawan dan pegiat kemanusiaan. Beliau mengayomi semua golongan tanpa memandang suku, ras, agama dan golongan. Beliau adalah perekat persatuan dan penjaga harmoni kebhinnekaan," kata Zainut.

Ia juga mengenal Gus Sholah sebagai tokoh NU yang berpikiran terbuka, demokratis dan jernih dalam melihat masalah. Karenanya, Gus Sholah dalam memberikan solusi salalu mengedepankan pertimbangan kemaslahatan untuk kepentingan yang lebih besar dan mengesampingkan kepentingan kelompok dan golongan.

"Semoga Allah SWT memberikan pahala surga kepadanya. Selamat jalan Gus Sholah. Guru bangsa yang mulia, pintu-pintu langit terbuka lebar dan para malaikat menyambutmu dengan hamparan surga. Aamiin," ucap Zainut.

Berita Lainnya