sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Surabaya dihantui penculikan anak, pelaku incar sekolah

Para pelaku penculikan biasanya mengincar anak-anak yang sedang berada di sekolah.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Minggu, 24 Nov 2019 11:55 WIB
Surabaya dihantui penculikan anak, pelaku incar sekolah

Warga Kota Surabaya, Jawa Timur, diimbau pemerintah untuk waspada soal aksi penculikan anak yang akhir-akhir ini marak terjadi di daerah lain. Para pelaku penculikan biasanya mengincar anak-anak yang sedang berada di sekolah.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Perlindungan Masyarakat (BPB Linmas) Kota Surabaya, Eddy Christyanto, mengatakan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, telah memerintahkan kepada para camat dan lurah agar membuat surat edaran yang ditujukan kepada sekolah-sekolah dan masyarakat melalui RW dan RT setempat.

“Surat edaran yang disampaikan para camat dan lurah se-Kota Surabaya untuk mengingatkan warga maupun para guru agar berhati-hati terhadap orang asing yang ingin menjemput anak mereka,” kata Eddy di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (24/11).

Terlebih, lanjut dia, pada saat jam pulang sekolah atau di tengah jam pelajaran. "Kalau yang jemput orangnya tidak kenal jangan dilepas. Harus orang yang biasa jemput," ujarnya.

Tak hanya orang tua, Eddy juga menyoroti pihak yang mengaku sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Terhadap orang tersebut, pihak sekolah juga perlu berhati-hati. Jika tidak mengenal pembantu anak yang akan dijemput, sebaiknya tak diizinkan.

"Misalnya, orangnya mengatakan kalau dirinya disuruh mamanya si anak. Tolong jangan mudah percaya dengan hal-hal semacam ini," katanya.

Menurut Eddy, langkah preventif yang dilakukan Pemerintah Kota Surabaya ini untuk mengantisipasi terjadinya kasus penculikan di wilayahnya. Bukan saja melalui imbauan yang disampaikan, tetapi juga melalui surat edaran yang juga telah disebarkan.

Lebih jauh, menurut Eddy, BPPD dan Linmas selama ini telah menginstruksikan kepada para kasatgas (Kepala Satuan Tugas) Linmas untuk berkeliling ke sekolah-sekolah, terutama TK dan SD.

Sponsored

"Kalau jam pulang, saya minta dimonitor. Terutama terhadap sekolah-sekolah yang sifatnya eksklusif, dimana anak-anaknya   antarjemput. Sekolah kita minta menutup pagar dan berhati-hati," katanya.

Eddy mengungkapkan, jumlah Kasatgas Linmas yang dikerahkan mengawasi sekolah-sekolah yakni sebanyak 154 orang. Namun demikian, Eddy mengimbau agar masing-masing kelurahan mengerahkan satu orang kasatgas linmas.

Eddy mengakui keterbatasan personel menyebabkan tidak semua sekolah bisa dipantau. Untuk itu, pihaknya hanya memonitor sejumlah sekolah tertentu yang memungkinkan berpotensi terjadi tindak pidana penculikan.

Ia meminta petugas keamanan untuk menanyai kepada setiap tamu yang berkunjung. Setelah itu, mencatat nomor kendaraannya. "Apabila masyarakat menemukan hal-hal yang mencurigakan, bisa menghubungi layanan tanggap darurat Command Center 112 milik Pemkot Surabaya," katanya.

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, sebelumnya mengatakan pihaknya berharap tidak ada penculikan anak di Surabaya. "Makanya kami minta RT dan RW siaga," kata Wali Kota Risma.

Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini menyebut, di sekolah-sekolah sudah dipasang CCTV. Dengan peralatan tersebut, akan bisa ditemukan siapa pelaku penculikan jika terdeteksi.

"Karena kita bisa akses ke Dispendukcapil (Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil). Kamera (CCTV) tak hanya di sekolah, namun juga di masjid, gereja, kemudian mal. Kita ketahui gerak-geriknya (pelaku)," kata Risma. (Ant)