sun
moon
logo alinea.id logo alinea.id

Tawuran di Manggarai dinilai sudah jadi tradisi

Para pelaku tawuran tergolong masih anak-anak usia muda. Mereka sebetulnya sangat potensial, tapi sayangnya tidak memiliki keahlian.

Tito Dirhantoro
Tito Dirhantoro Rabu, 30 Okt 2019 10:58 WIB
Tawuran di Manggarai dinilai sudah jadi tradisi

Terus berulangnya tawuran antarpemuda yang terjadi di Manggarai, Jakarta Selatan, dinilai karena sudah menjadi budaya. Selain itu, masalah sosial juga ditengarai menjadi salah satu penyebab terjadinya tawuran.

“Sebenarnya masalah utamanya adalah masalah sosial. Selain sosial, ditambah lagi faktor budaya,” kata Camat Tebet, Jakarta Selatan, Dyan Airlangga saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (30/10).

Dyan menjelaskan, para pelaku tawuran tergolong masih anak-anak usia muda. Mereka sebetulnya sangat potensial, tapi sayangnya tidak memiliki kesempatan karena putus sekolah baik SMP maupun SMA. Akibatnya, mereka tidak memiliki keahlian.

Tak hanya itu, Dyan menambahkan, faktor lainnya karean sudah menjadi budaya. Maksudnya, kegiatan tawuran antarpemuda sudah menjadi tradisi yang dilakukan turun-temurun atau dari abang-abang mereka sebelumnya. “Bahwa abang-abang mereka dulu seperti itu. Otomatis mereka pun begitu juga, jadi seperti itu (tawuran),” ucap Dyan.

Dyan menuturkan, pihaknya tak tinggal diam melihat tawuran yang terjadi cukup sering itu. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk mengentaskan permasalahan sosial tersebut adalah lewat kegiatan pelatihan kerja.

Pelatihan kerja ini dilakukan bekerja sama dengan Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Selatan dan Dinas Tenaga Kerja Pemprov DKI Jakarta. Caranya, dengan mengirim sejumlah pemuda untuk mengikuti pelatihan kerja secara gratis.

“Melatih mereka memiliki skill melalui pelatihan seperti yang ada di Sudin tenaga kerja dan balai tenaga kerja, mudah-mudahan mereka punya keahlian untuk melakukan aktivitas positif," kata Dyan.

Tak hanya itu, dia melanjutkan, upaya lainnya adalah menyalurkan para remaja yang tidak memiliki keahlian tersebut sebagai tenaga kontrak Pemprov DKI Jakarta seperti Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau tenaga di Bina Marga Sumber Daya Air dan Kehutanan.

Sponsored

Menurut dia, setiap tahun Penyedia Jasa Lainnya Orang Perorangan (PJLP) menerima tenaga kerja tanpa keterampilan yang membutuhkan keterampilan fisik saja. “Nah, kita coba salurkan ke sana jadi mereka ada aktivitas," tuturnya.

Dyan mengakui, langkah ini belum terlalu banyak bisa menyerap tenaga kerja dari kelompok masyarakat yang kurang produktif tersebut. Hanya, mampu menyediakan lima sampai 10 orang saja. Akan tetapi, dia optimistis kalau hal ini terus dilakukan melatih keterampilan anak-anak di kawasan Manggarai tersebut maka tawuran bisa dicegah.

“Tawuran ini terjadi karena para pemuda tersebut tidak memiliki aktivitas yang lain karena telah putus sekolah. Melalui pelatihan yang diberikan, diharap mereka memiliki keahlian. Setidaknya bisa memperbaiki ponsel dan AC, sehingga disibukkan dengan pekerjaannya tidak lagi turun ke jalan untuk tawuran,” ujarnya.

Menurut Dyan, menuntaskan persoalan tawuran menjadi tugas berat karena dihadapkan pada terbatasnya lapangan pekerjaan. Ditambah masyarakat yang tidak memiliki keterampilan.

Berkaca pada kejadian tawuran Manggarai bulan September 2019 lalu, sekitar 200-300 pelaku tawuran yang ada di Manggarai adalah remaja usia produktif antara 15 sampai 25 tahun yang tidak memiliki keahlian dan putus sekolah. Dia menyebutkan sebagian besar kepala keluarga di wilayah Manggarai berprofesi sebagai pekerja serabutan.

Kondisi demikian, lanjut dia, menyebabkan para pemuda di wilayah tersebut tidak memiliki aktivitas rutin sehingga mengaktualisasikan diri melalui media sosial. "Di media sosial mereka saling sahut-sahutan dan menentukan waktu untuk tawuran, biasanya diawali dengan membakar petasan dua kali itu tanda untuk main (tawuran), biasanya seperti itu," kata Dyan. (Ant)