sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Menanti bergesernya dominasi poros sepak bola

Ketiadaan Italia, Jerman dan Belanda, yang telah memainkan total 17 putaran final Piala Dunia, meninggalkan kekosongan yang langka terjadi

Hermansah
Hermansah Jumat, 29 Jun 2018 10:57 WIB
Menanti bergesernya dominasi poros sepak bola
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 1.341.314
Dirawat 153.074
Meninggal 36.325
Sembuh 1.151.915

Mungkin tidak ada yang pernah berfikir pada pelaksanaan Piala Dunia tahun ini, akan banyak kejutan yang terjadi. Tidak heran kalau sejumlah pengamat sepakbola mulai mencari alternatif tim mana yang ideal bertanding di final Piala Dunia.

Misalkan saja antara tim Denmark dan Meksiko atau Belgia versus Kroasia. Prospek negara-negara berperingkat lebih rendah yang bersaing dalam pertandingan sepak bola terbesar di Moskow telah meningkatkan rasa percaya diri yang lebih besar dari tim non unggulan.

Hal itu bisa dimaklumi setelah tersisihnya tim empat kali juara dunia, Jerman pada beberapa waktu lalu. Pertandingan putaran sistem gugur tentunya bisa menghadirkan lebih banyak kejutan daripada sebelumnya.

Ditambah lagi dengan absennya Italia, yang juga telah memenangkan empat trofi. Tiga kali finalis Belanda, juga gagal lolos pada babak utama Piala Dunia. Demikian seperti dilansir Antara, Jumat (29/6)

Ketiadaan Italia, Jerman dan Belanda, yang telah memainkan total 17 putaran final Piala Dunia, telah meninggalkan kekosongan yang langka terjadi.

Apalagi lebih dari separuh dari tim yang akan berlaga di putaran 16 besar belum pernah sekali pun menjadi juara dunia sepak bola. Mereka adalah Swiss, Rusia, Swedia, Kroasia, Jepang, Denmark, Portugal, Meksiko, Belgia dan Kolombia.

Sebaliknya, tim yang pernah menjadi pemenang Piala Dunia yang lolos ke fase selanjutnya menjadi minoritas, yakni Spanyol yang menjadi juara Piala Dunia  2010, dan Inggris yang menjadi pemenang Piala Dunia 1966. Lalu, Argentina selaku pemenang Piala Dunia 1978 dan 1986. Juga, Uruguay yang menang di tahun 1930 dan 1950, Prancis pemenang tahun 1998, serta Brazil yang menang di 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002.

Spanyol akan melawan tuan rumah Rusia di babak 16 besar. Swiss, yang pada tahun 1954 berhasil mencapai delapan besar untuk penampilan terbaik mereka, menghadapi Swedia, yang sedang dalam penampilan terbaiknya .

Sponsored

Kroasia, semi-finalis pada tahun 1998 dan tampil luar biasa sejauh ini di Rusia, akan menghadapi Denmark. Sementara Kolombia, yang menduduki Grup H mereka sendiri, bermain dengan Inggris.

Pada bagian atas dipenuhi dengan hampir semua kekuatan sepak bola tradisional yang tersisa, dengan juara dunia dua kali yang juga finalis Piala Dunia 2014 Argentina akan menghadapi Juara Dunia 1998 Prancis.

Brazil, pemenang lima kali, menghadapi Meksiko, dan juara dua kali Uruguay bertempur habis-habisan dengan Cristiano Ronaldo, juara Eropa Portugal.

Pastinya setelah babak 16 besar, beberapa mantan juara dunia bakal absen pada babak empat besar.

Ini tentunya menjadi angin segar bagi penggemar sepak bola yang kerap mengeluarkan dominannya negara tertentu pada pelaksanaan Piala Dunia.

Konsistensi dan kehadiran tim tingkat kedua Piala Dunia menunjukkan semakin kecilnya kesenjangan kualitas dengan tim favorit. Sekaligus sebagai kesempatan untuk menggeser poros global sepak bola dunia.
 

Berita Lainnya

Pakar dukung penegakan aturan larangan mudik

Jumat, 16 Apr 2021 08:15 WIB

Ngotot mudik, kasus Covid-19 akan meroket

Kamis, 15 Apr 2021 19:09 WIB

Apple Pencil generasi ke-3 akan hadir April

Jumat, 16 Apr 2021 09:47 WIB