close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Pendukung klub sepak bola Como 1907 merayakan kembalinya tim mereka ke Serie A musim depan./Foto Instagram Como 1907/@comofootball
icon caption
Pendukung klub sepak bola Como 1907 merayakan kembalinya tim mereka ke Serie A musim depan./Foto Instagram Como 1907/@comofootball
Olahraga
Rabu, 22 Mei 2024 15:20

Pengusaha kita di balik klub-klub sepak bola Eropa

Apa motif para pengusaha Indonesia tertarik membeli klub-klub di Eropa?
swipe

Mengemas 73 poin, Como 1907 memastikan promosi ke kasta tertinggi kompetisi sepak bola Italia Serie A musim mendatang, menyusul Parma. Kepastian naik kasta itu terjadi usai bermain imbang 1-1 melawan Consenza di Stadio Giuseppe Sinigaglia pada Sabtu (11/5). Como 1907 mampu mengungguli klub yang dibela bek timnas Indonesia, Jay Idzes, yakni Venezia, pesaing terdekat mereka.

Kembalinya Como 1907 ke Serie A, setelah terakhir kali pada 2003, tak bisa dilepaskan dari nama-nama bintang sepak bola hebat pada masanya, seperti Cesc Fabregas yang menjadi asisten pelatih Osian Roberts sekaligus pemegang saham minoritas klub bersama Thierry Henry, serta direktur olahraga klub Dennis Wise.

Konglomerat asal Indonesia, Robert Budi Hartono dan Michael Hartono atau dikenal sebagai Hartono bersaudara, juga adalah orang di balik kesuksesan Como 1907. Pemilik Djarum Group ini membeli Como 1907 pada 2019 lewat SENT Entertainment—perusahaan yang bergerak di bidang media dan hiburan yang bermarkas di London, Inggris. Mereka mampu membangun Como 1907 sejak juara di Serie D alias kasta ke empat Liga Italia dalam waktu lima tahun.

Dikutip dari New York Times, Hartono bersaudara mengambil alih Como 1907 dengan menghabiskan 850.000 euro dan melunasi utang 150.000 euro. Hebatnya, Hartono bersaudara menjadi pemilik klub paling kaya di sepak bola Italia. Menurut Forbes, kekayaan mereka sebesar 48 miliar dollar AS. Kekayaan mereka mengalahkan pemilik Fiorentina, Rocco Commisso yang memiliki kekayaan 8 miliar dollar AS; pemilik Inter Milan asal China, Zhang Jindong yang punya kekayaan 7,4 dollar AS; pemilik AS Roma Dan Friedkin yang punya kekayaan 6,4 dollar AS; serta pemilik Bologna, keluarga Saputo dengan kekayaan 4,3 dollar AS.

Kekayaan Hartono juga melebihi total gabungan pemilik minoritas Manchester United Sir Jim Ratcliffe, pemilik Arsenal Stan Kroenke, dan salah seorang pemilik Chelsea Todd Boehly.

Hartono bersaudara bukan pengusaha Indonesia pertama yang berinvestasi di sepak bola Italia. Pada 2013, Erick Thohir—Menteri BUMN dan Ketua PSSI—membeli Inter Milan. Namun, pada 2016 klub itu dijual kembali di tengah kritik bahwa Erick tak punya kemampuan menjaga penampilan Inter. Bersama Anindya Bakrie, Erick kini punya saham di Oxford United FC, sebuah klub yang berlaga di League One atau kasta ketiga kompetisi sepak bola Inggris.

Ada pula nama-nama konglomerat lainnya yang membeli saham klub di Eropa. Misalnya keluarga Wanandi di bawah Santini Group yang punya lebih dari 10% saham klub kasta keempat Liga Inggris, Tranmere Rovers; pengusaha dan anggota DPR Sihar Sitorus yang punya klub di divisi kedua Liga Belgia dan promosi ke divisi teratas, FC Verbroedering Dender; serta CEO Emtek Alvin Sariaatmadja yang punya saham minoritas di klub Italia Serie B, US Lecce. Di luar itu, masih ada beberapa nama taipan lainnya.

Alasan membeli klub Eropa

Ada beberapa motif para konglomerat Indonesia membeli klub sepak bola Eropa. Pertama, memperoleh keuntungan dari bisnis sepak bola. Financial Times menulis, pendapatan sepak bola Eropa membengkak selama 20 tahun terakhir. Dana siaran untuk Liga Premier dan Liga Champions telah melonjak, sebagian besar karena meningkatnya minat internasional. Total pendapatan di liga besar Eropa, yakni Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, dan Prancis naik ke rekor 17,2 miliar euro pada musim 2021-2022. Naik 9,3 miliar euro satu dekade sebelumnya.

Di Inggris, sebut BBC, klub-klub Premier League mendapat tiga sumber penghasilan yang kuat, antara lain dari hak siar telebisi, aktivitas komersial, dan tiket pertandingan.

“Peningkatan pendapatan, bisa meningkatkan nilai klub, sama seperti bisnis lainnya,” tulis BBC.

Keuntungan ini sangat jauh jika pengusaha membeli klub-klub di Indonesia. Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Mohamad D. Revindo dalam The Conversation menulis, pada masa pandemi nilai ekonomi tontonan di stadion sepak bola di Indonesia tak terlalu besar, yakni Rp300 miliar satu musim kompetisi untuk liga tertinggi. Iklan untuk penyelenggara kompetisi, iklan di stasiun televisi, dan sponsor klub nilai totalnya mencapai Rp1,4 triliun.

“Sebagai perbandingan, pada 2019 lalu harga hak siar tiap pertandingan Liga Indonesia berkisar R42 juta, sedangkan Liga Inggris berkisar Rp130 juta,” tulis Revindo.

Akan tetapi, rupanya untuk menghasilkan keuntungan di liga-liga Eropa terbilang sulit. Klub-klub sepak bola dengan cepat bisa menghabiskan kekayaannya untuk membeli pemain. Selama jendela transfer musim panas lalu, menurut angka global dari FIFA, rekor pengeluaran sebesar 7,36 miliar dollar AS. Sebanyak 697 dollar AS lainnya digunakan untuk biaya agen.

“Rekor sepak bola dalam menghasilkan keuntungan sangat tipis selama bertahun-tahun. Pandemi mendorong banyak klub dari posisi genting ke dalam tekanan finansial yang serius. UEFA memperkirakan klub-klub sepak bola Eropa kehilangan lebih dari 10 miliar euro antara 2020 dan 2022,” tulis Financial Times.

Membeli klub sepak bola bisa juga karena kedekatan emosional atau penggemar tim tersebut. Pengusaha Inggris, Simon Jordan, yang pernah menjadi pemilik klub Inggris Crystal Palace mengaku dalam buku otobiografinya Be Careful What You Wish For bahwa memiliki klub sepak bola bisa menjadi sebuah kesalahan besar. Jordan mengumpulkan kekayaan sebesar 75 juta poundsterling di awal-awal revolusi telepon seluler. Pada 2000, ia membeli Crystal Palace dengan membayar 10 juta poundsterling. Ia membeli klub itu karena sejak kecil ia menonton pertandingan Crystal Palace.

“Banyak pemilik klub yang hanya sekadar penggemar klub yang mereka miliki atau punya ikatan yang kuat dengan komunitas lokal. Dalam dunia bisnis, kepala bisa menguasai hati, tapi kalau bicara sepak bola, bisa jadi sebaliknya,” tulis BBC.

Alasan lainnya terkait ekspansi bisnis dan memperkenalkan merek dagang mereka. Setidaknya, hingga 2014, sebagian besar aliran dana ke sepak bola Eropa berasal dari Timur Tengah. Lembaga riset Deloitte melaporkan, tujuh dari 20 klub sepak bola terbesar di dunia berdasarkan pendapatan disponsori maskapai penerbangan Timur Tengah, seperti Qatar Airlines, Fly Emirates, dan Etihad.

“Sepak bola dipandang sebagai cara penting untuk memperluas merek mereka, tapi tentu saja, mereka juga bersaing satu sama lain,” tulis BBC.

Kesempatan memperkenalkan brand agar lebih dikenal juga dilakukan Robert Budi Hartono dan Michael Hartono di Como 1907. Mereka menyematkan Mola TV di jersey pemain, sebagai sponsor utama klub. Mola TV adalah layanan streaming video on demand dan over-the-top berlangganan yang dimiliki dan dioperasikan anak perusahaan Djarum Group, yakni Polytron.

Ada kemungkinan, Santini Group milik keluarga Wanandi yang punya sekitar 10% saham di Tranmere Rovers mengajak merek perusahaan olahraga Mitra Kreasi Garmen, Ltd milik Tjia Kong Hau, Mills, sebagai sponsor appareal klub itu. Mills, yang pernah jadi sponsor appareal timnas Indonesia, disematkan di kostum para pemain Tranmere Rovers.

Terakhir, kemungkinan membeli klub sepak bola Eropa karena gengsi dan dikenal. Contohnya, pengusaha Rusia, Roman Abramovich dikenal dunia karena ia menghabiskan banyak uang untuk membeli klub raksasa Inggris, Chelsea pada 2003.

“Membeli klub sepak bola dapat menjadikan Anda selebritas, ketenaran, dan akses ke orang-orang penting,” tulis BBC.

img
Fandy Hutari
Reporter
img
Fandy Hutari
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan