logo alinea.id logo alinea.id

Polri ringkus 3 mafia bola dan masih buru jaringan internasional

Mabes Polri masih memburu jaringan internasional setelah membekuk tiga orang tersangka mafia bola tingkat lokal.

Sukirno Jumat, 28 Des 2018 03:57 WIB
Polri ringkus 3 mafia bola dan masih buru jaringan internasional

Mabes Polri masih memburu jaringan internasional setelah membekuk tiga orang tersangka mafia bola tingkat lokal.

Tim Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Sepak Bola bentukkan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian membekuk tiga tersangka mafia sepakbola nasional berinisial P, A, dan Johar Lin Eng yang menjabat anggota Komite Eksekutif Persatuan Sepak Bola Indonesia (Exco PSSI).

"Kami menerima laporan yang diterima Polda Metro Jaya dari saudari LI. Dia melaporkan ada kegiatan yang dirasa tidak pas dalam kegiatan persepakbolaan terutama di daerah Jawa Tengah," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono, di Jakarta Kamis (27/12) malam.

Berdasarkan laporan itu, Argo mengungkapkan anggota Satgas Antimafia Sepak Bola memeriksa 11 orang saksi kemudian gelar perkara untuk meningkatkan status penyelidikan ke penyidikan.

Selanjutnya, anggota satgas bergerak menuju Semarang menangkap pelaku berisinial P dan tersangka A di daerah Pati Jawa Tengah.

"Tersangka P dititipkan di Polda Jawa Tengah dan tersangka A sudah diterbangkan ke Jakarta," ujar Argo.

Penyidikan berkembang, anggota satgas menciduk Johar Lin Eng yang juga menjabat Ketua Asosiasi Provinsi PSSI Jawa Tengah saat mendarat di Bandara Halim Perdanakusumah Jakarta Timur dari Solo pada pukul 11.00 WIB.

Argo mengungkapkan tim satgas masih memeriksa intensif Johar guna mendalami peranan, motif, dan hubungan dengan tersangka lain.

Sponsored

Argo memastikan Johar akan menjalani penahanan di Polda Metro Jaya mulai Jumat (28/12) usai menjalani pemeriksaan 1x24 jam. Menurut Argo, tersangka P merupakan mantan Komisi Wasit, sedangkan tersangka A sebagai anak dari P.

Diketahui, Johar diduga terlibat dalam praktik pengaturan skor pertandingan sepak bola nasional Liga 3 2018. Dugaan itu, salah satunya didasari keterangan mantan Ketua Asprov PSSI Banjarnegara Budhi Sarwono.

Budhi dalam sebuah acara bincang-bincang yang disiarkan televisi nasional, mengaku pernah memberi Johar Rp1,3 miliar untuk biaya pengaturan skor Liga 3 2018.

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Polisi Dedi Prasetyo mengatakan Tim Satgas Antimafia Bola dipastikan tak hanya mengusut dugaan pengaturan skor di pertandingan sepak bola tingkat lokal.

"Tapi juga termasuk pertandingan internasional, yakni pada final Piala AFF 2010 saat pertandingan sepak bola Indonesia versus Malaysia," kata Dedi Prasetyo di Mabes Polri.

Dia mengatakan semua petunjuk dan keterangan saksi akan diproses Satgas Antimafia Bola untuk pembuktian hukum. "Iya, semua itu petunjuk. Yang mudah dulu (pengusutan Liga Indonesia). Kemudian punya peluang untuk mengusut yang lebih besar," katanya.

Menurut dia, proses hukum saat ini harus benar-benar mampu mengungkap dugaan adanya mafia sepak bola di liga sebelumnya sehingga kedepannya tidak lagi merusak sportivitas liga dan prestasi sepak bola Indonesia.

Sebelumnya, mantan Manajer Timnas Piala AFF 2010 Andi Darussalam Tabusalla dalam sebuah wawancara menyebut pada final Piala AFF leg 1 di Stadion Bukit Jalil Malaysia saat Indonesia kalah 3-0 atas tuan rumah sudah diatur. Namun Andi tak menyebut secara rinci pengakuan tersebut.

Dukung berantas mafia

Pada kesempatan terpisah, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Kota Semarang menyatakan dukungan terhadap langkah kepolisian dalam mengusut mafia pengaturan skor pertandingan sepak bola.

"Saya sudah dengar (penangkapan Johar Lin Eng), ikut prihatin," kata Ketua Asosiasi Kota (Askot) PSSI Semarang Supriyadi di Semarang menanggapi penangkapan Johar Lin Eng.

Anggota Komisi Eksekutif (Exco) PSSI Johar Lin Eng ditangkap Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola Polri di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, Kamis, sekitar pukul 10.12 WIB.

Penangkapan Johar yang juga Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Jawa Tengah itu terkait dugaan keterlibatan dalam kasus pengaturan skor pertandingan sepak bola di Indonesia.

Supriyadi mengharapkan tabir gelap persepakbolaan di Tanah Air bisa segera terbuka dengan pengusutan dugaan mafia pengaturan skor pertandingan sepak bola itu.

"Semoga bisa membuka tabir gelap persepakbolaan di Tanah Air, khususnya sepak bola di Jateng agar tidak ada lagi gangguan dalam proses pembinaan asosiasi di kabupaten/kota," katanya.

Lebih lanjut, politikus PDI Perjuangan itu berharap kasus tersebut diusut tuntas agar kompetisi sepak bola di Tanah Air bisa berlangsung secara "fair" dan sportif.

"Selama ini, kita hanya bisa mencium baunya saja dan merasakan ketika kompetisi digulirkan. Tetapi, sulit untuk membuktikannya," kata Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang itu.

Bahkan, kata dia, para pelaku mafia pengaturan skor itu berarti sudah mengetahui lebih dulu siapa-siapa yang bakal menjadi juara sebelum kompetisi diputar.

"Kalau ini dibiarkan, mana mungkin daerah yang benar-benar ingin memajukan sepak bola secara fair bisa berkembang? Kalau justru dihancurkan oknum-oknum yang bermain di balik kompetisi," katanya.

Senada, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendukung penuh sikap tegas Satgas Antimafia Bola Polri yang menangkap Ketua Asprov PSSI Jateng Johar Lin Eng terkait dengan kasus dugaan pengaturan skor pertandingan sepak bola.

"Sudah sikat saja, cari jejaringnya agar olahraga sepak bola kita baik, saya kira kepolisian sudah mendapatkan informasi-informasi awal dalam penyelidikannya," kata Ganjar di Semarang.

Menurut Ganjar, saat ini momentum yang paling tepat untuk mewujudkan good sport governance, khususnya di dunia persepakbolaan Indonesia agar bisa lebih maju dan berkembang.

"Jadi bal-balan juga perlu governance sehingga tidak ada yang dibeli. Saya ingin ini menjadi momentum baru dalam revolusi sepak bola Indonesia," ujarnya.

Politikus PDI Perjuangan itu mengapresiasi tindakan kepolisian yang mengusut kasus dugaan pengaturan skor oleh mafia bola.

"Kalau sepak bola terlalu politicing seperti itu tontotan jadi tidak menarik, jangan-jangan dibalik itu semua ada pemain hebat, tapi terdistorsi oleh permainan-permainan yang tidak bertanggung jawab seperti ini," tuturnya.

Ganjar berharap penanganan kasus dugaan pengaturan skor pertandingan sepak bola ini bisa tuntas.

"Pengadilan akan memerankan peran yang sangat penting untuk membongkar itu sehingga terbongkar semua di persidangan biar sepak bola kita waras," ujarnya. (Ant).