close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Max Gradel angkat trofi. Foto Getty Images
icon caption
Max Gradel angkat trofi. Foto Getty Images
Olahraga
Senin, 12 Februari 2024 17:37

Ujung sepatu Haller angkat Piala Afrika 2023: Rada mirip Indonesia

Gasset, pelatih Prancis berusia 70 tahun yang dipecat setelah penyisihan grup, tampak tidak paham kekuatan skuadnya sendiri.
swipe

Pantai Gading bernasib rada mirip Indonesia. Pantai Gading tampil di Piala Afrika 2023, Indonesia datang ke Piala Asia 2023. Ada nuansa kesamaan dan perbedaannya. Sama-sama, kedua tim kalah dua kali di fase grup. Mereka lolos dari lubang jarum, menempati posisi buncit dari empat tim peringkat ketiga terbaik.

Bedanya, Pantai Gading langsung memecat pelatihnya, Jean-Louis Gasset. Akhirnya mereka menjadi juara. Indonesia tidak memberhentikan Shin Tae-yong, selanjutnya kalah memalukan dari Australia.  

Lebih dari itu, Pantai Gading patut disebut 'zombi' daripada tim negara mana pun di dunia ini. Tuan rumah memenangkan AFCON untuk ketiga kalinya, Senin (12/2) dini hari WIB.

Tidak ada tim yang memenangkan turnamen besar setelah kalah dua kali. Tapi hanya tim berjuluk The Elephants saja satu-satunya. Di Grup A Piala Afrika 2023, mereka tunduk dari Nigeria 0-1 dan Guinea Khatulistiwa 0-4.

Gasset sang pelatih langsung dipecat. Nasib mereka di ujung tanduk, tergantung pada laga Ghana versus Mozambik. Seandainya Ghana imbang atau menang, Pantai Gading tersingkir dari turnamen. Ghana bahkan unggul 2-0 hingga waktu normal selesai. Mozambik secara ajaib memperkecil skor lewat penalti di menit 90+1. Akhirnya berhasil mengimbangi Ghana tiga menit kemudian.

Pantai Gading selamat, seperti hidup kembali dari kematian. Mereka pun mulai berjalan seperti zombi. Tiga kali di babak sistem gugur mereka tertinggal. Setiap kali itu pula tim asuhan Emerse Faé (sebagai pelatih sementara) bangkit untuk menang. 

Pada 16 besar, Senegal unggul 1-0 sejak menit ke-4 sebelum Kessie menendang penalti di menit ke-86 untuk menyamakan kedudukan. Perempatfinal, Mali di depan lewat menit ke-71 sebelum Adingra mengimbangi di menit akhir dan Diakite menuntas laga di ujung babak tambahan. Puncaknya, di final, Nigeria mendahului pada menit ke-38 sebelum Kessie (62') dan Haller (81') membalikkan keadaan.  

Tidak ada yang ingin memenangkan turnamen dengan cara menyerempet bahaya, lolos dari grup sebagai tim keempat dari empat tim peringkat ketiga terbaik, dan sampai begitu tega memecat pelatih di tengah kejuaraan. Namun mungkin itulah cara paling asyik untuk menang, di tengah kacau galau dan gelak tawa setengah tak percaya serta kemauan yang tak terpadamkan.

Gemuruh suara saat peluit akhir berbunyi sungguh luar biasa di seantero arena berkapasitas 60.000 penonton. Muncul dalam satu kumpulan warna oranye: Kegembiraan. Ini tentang sepak bola dan kemenangan yang mustahil, tapi bisa lebih dari itu. Hanya 13 tahun sejak berakhirnya perang saudara jilid dua di Pantai Gading.

Pantai Gading memenangkan pertandingan babak 16 besar di Yamoussoukro, perempat final di bekas ibu kota pemberontak Bouaké, semifinal dan final di Abidjan, dan seluruh negara merayakannya. Kesuksesan olahraga tidak lebih dari sebuah simbol, namun terkadang simbol itu penting.

Gol penentu kemenangan, sembilan menit jelang usai, datang dari penyerang yang mengalami comeback terhebat sepanjang masa. Hanya 18 bulan sejak Sébastien Haller didiagnosis menderita kanker testis. Bahkan berada di skuadnya mewakili sesuatu yang luar biasa.

Cedera pergelangan kaki membuatnya absen dari babak penyisihan grup, tetapi penampilannya 17 menit sebelum pertandingan berakhir yang membuat babak 16 besar imbang. Dia masuk di babak pertama perempat final dan juga berperan penting di sana. Semifinal, ketika ia mencetak satu-satunya gol, adalah penampilan perdananya sejak menit pertama.

Berimprovisasi dengan cekatan, Haller menyambar umpan silang dari Simon Adingra yang melesat tanggung, tepat dengan ujung sepatunya, di akhir turnamen.

Gasset, pelatih Prancis berusia 70 tahun yang dipecat setelah penyisihan grup, tampak tidak paham kekuatan skuadnya sendiri. Dia menyingkirkan trio gelandang tengah yang terdiri Jean Michaël Seri, Franck Kessié, dan Seko Fofana. Padahal penguasaan permainan mereka menjadi alasan – jika ada alasan di luar takdir – Pantai Gading menang.

Kessié-lah yang menyamakan kedudukan di final dari umpan silang Adigra tepat setelah satu jam pertandingan berjalan. Namun jika ada pujian untuk Pantai Gading dan ketahanan luar biasa mereka, pasti ada juga pertanyaan mengenai Nigeria.

Selaku tim tamu, mereka memulai dengan hati-hati: jika ada kesempatan untuk menenangkan penonton tuan rumah, inilah saatnya. Setelah terus bertahan dari serbuan awal Pantai Gading, mereka mendapat ganjaran ketika kapten kesebelasan William Troost-Ekong mencetak gol keempatnya di turnamen, gol pertama yang dicetak di salah satu dari lima final yang pernah dimainkan Pantai Gading.

Generasi emas Pantai Gading berjuang selama bertahun-tahun untuk memenangkan trofi. Sang pelatih dadakan, Faé, kalah di final tahun 2006, hanya bermain empat kali namun ia telah memenangkan Piala Afrika yang ketiga bagi Pantai Gading.

Sayap kanan Max Gradel menerima trofi dari presiden FIFA Gianni Infantino, presiden Pantai Gading Alassane Ouattara, dan presiden CAF Patrice Motsepe, dan trofi itu terangkat ke langit saat kembang api menyala! (theguardian,theatletic,cafonline)

img
Fitra Iskandar
Reporter
img
Fitra Iskandar
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan