sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Bursa dan peta elektabilitas kandidat di Pilwalkot Semarang

Elektabilitas para kandidat di Pilwalkot Semarang belum ada yang menyentuh 20%.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Minggu, 02 Jun 2024 18:15 WIB
Bursa dan peta elektabilitas kandidat di Pilwalkot Semarang

Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Semarang 2024 kian memanas setelah sejumlah sosok masuk ke bursa kandidat. Selain petahana Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, anggota DPR RI sekaligus politikus Demokrat Yoyok Sukawi dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Iswar Aminuddin digadang-gadang bakal meramaikan Pilwalkot Semarang. 

Yoyok sudah mengantongi tiket dari Demokrat untuk maju di Pilwalkot. Saat ini, CEO Persatuan Sepakbola Indonesia Semarang (PSIS) itu  sedang melakukan penjajakan ke sejumlah partai, seperti Gerindra, Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). 

Merujuk survei Y-Publica yang digelar pada 12-20 Mei 2024, tercatat ada empat nama yang meraih elektabilitas cukup tinggi dalam persaingan merebut kursi Wali Kota Semarang, yakni Havearita (14,2 persen), Iswar Aminuddin (12,5 persen), Ade Bhakti Ariawan (9,2 persen) dan Yoyok Sukawi (6,6 persen).

Sementara di tataran calon Wakil Wali Kota, nama Ade mengantongi elektabilitas paling tinggi dengan 14,2 persen, dibayangi Iswar Aminuddin dengan 10,6 persen, dan Amaz Agung Andrarasmara sebesar 9,2 persen. Posisi keempat diisi oleh Supriyadi dengan elektabilitas sebesar 6,6 persen.

Dalam surveinya, Y-Publica ini menggunakan metode multistage random sampling. Jumlah sampel sebesar 800 responden, mewakili 16 kecamatan di Kota Semarang. Margin of error (toleransi kesalahan) dalam survei ini adalah 3,4 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. 

Direktur Eksekutif Y-Publica, Rudi Hartono, berpendapat dari empat nama yang muncul di papan survei Y Publica hanya dua nama yang dominan yaitu petahana Hevearita G Rahayu alias Mbak Ita dan Iswar Aminudidin. Hevearita dan Iswar adalah dua calon kandidat yang menduduki jabatan penting di Pemkot Semarang. 

"Menurut analisis kami, elektabilitas kedua kandidat ini banyak disumbang oleh approval rating yang tinggi terhadap kinerja pemerintahan. Untuk approval rating terhadap kinerja pemerintahan, ada 77 persen responden yang merasa puas dan hanya 20,9 persen yang tidak puas," ujar Rudi kepada Alinea.id, Sabtu (1/5).

Berbasis preferensi politik, ada sekitar 29,7 responden yang mengaku menjadikan rekam jejak atau prestasi sebagai pertimbangan untuk memilih. Integritas kandidat dan program politik dan merakyat juga turut menyumbang indikator namun tidak terlampau banyak mempengaruhi pilihan. 

Sponsored

Rudi berpendapat pertarungan calon Wali Kota Semarang akan berlangsung sengit jika keempat kandidat dengan elektabilitas tertinggi berhasil mendapat tiket dan bersaing satu sama lain. Namun, pertarungan bisa menjadi antiklimaks bila dua pasangan lain yakni Yoyok Sukawi dan Ade Bhakti Iriawan tidak maju. "Sebab, potensi kemenangan jika Heaverita-Iswar berpasangan sangat besar," ucap Rudi.

Rudi berkata sebagai petahana yang memiliki elektabilitas yang tinggi bisa dibilang Heaverita sulit dikalahkan. Sebab, polanya petahana yang memiliki kepuasan tertinggi selalu memiliki peluang kemenangan yang besar. Sebaliknya, kandidat dengan kepuasan yang rendah lebih berpotensi kalah. 

"Namun, peta ini sangat mungkin berubah karena undecided voters-nya sangat tinggi, yaitu di atas 30 persen. Setelah kami analisis, ternyata sebagian besar undecided voters ini adalah kelas menengah dan anak muda (milenial dan generasi Z)," ucap Rudi. 

Pemilih bimbang yang masih menimbang pilihan terungkap sangat banyak di Kota Semarang. Kelompok pemilih yang relatif kritis ini umumnya baru akan memantapkan pilihan menjelang hari pemungutan suara, setelah mencermati proses penetapan kandidat, kampanye, sosialisasi program, dan debat kandidat

"Baru mereka memantapkan pilihan. Karena jumlah swing voters ini sekitar 30 persen (lebih tinggi dari elektabilitas semua kandidat), maka potensi mereka bisa mengubah peta dukungan politik sangat besar," ucap Rudi.

Senada, analis politik dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Wahid Abdurrahman memandang pertarungan elektoral di Pilwalkot Semarang bakal berlangsung seru jika Mbak Ita berhadapan dengan Yoyok. Menurut dia, kedua sosok itu punya modal politik dan sosial yang kuat. 

"Mbak Ita merupakan petahana dari partai besar PDI-P dan memiliki basis yang cukup besar di Semarang, sedangkan Mas Yoyok memiliki darah biru birokrat dari ayahnya yang merupakan mantan Wali Kota Semarang, Sukawi Sutarip. Dia juga memiliki modal sosial karena sebagi CEO klub sepak bola PSIS dan juga kader Demokrat," ucap Wahid kepada Alinea.id, Sabtu (1/6).

Jika Hevearita dan Yoyok bertarung, menurut Wahid, bukan tidak mungkin residu Pilpres 2024  berlanjut pada level Pilwalkot Kota Semarang. Sebab, Yoyok sebagai politikus Demokrat yang merupakan bagian dari Koalisi Indonesia Maju (KIM), koalisi pendukung Prabowo-Gibran di Pilpres 2024.

Di lain sisi, PDI-P yang bakal kembali mengusung Hevearita merupakan parpol pendukung Ganjar-Mahfud di Pilpres 2024. Meskipun Ganjar-Mahfud keok di Jawa Tengah, PDI-P masih mampu mempertahankan dominasi di provinsi yang dikenal dengan sebutan kandang banteng itu, termasuk di Semarang.

"Mbak Ita masih dianggap sebagai kelanjutan Mas Hendrar Prihadi, Wali Kota Semarang sebelumnya. Tugas dia adalah harus men-deliver keberhasilannya kepada warga," ucap Wahid. 
 

Berita Lainnya
×
tekid