sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

KPU: Partisipasi Pilkada 2020 tak terlalu buruk

Data pemilih tersebut, dihimpun dari 309 kabupaten/kota terlibat Pilkada Serentak 2020.

Manda Firmansyah
Manda Firmansyah Jumat, 11 Des 2020 14:37 WIB
KPU: Partisipasi Pilkada 2020 tak terlalu buruk
Informasi mutakhir perkembangan Covid-19 di Indonesia bisa dilihat di sini
Terinfeksi 882.418
Dirawat 138.238
Meninggal 25.484
Sembuh 718.696

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman menyebut, partisipasi warga untuk menyuarakan hak pilihnya dalam Pilkada Serentak 2020, tergolong tidak terlalu buruk. Jumlah pemilih yang telah mencoblos dalam ‘kontestasi politik’ pada Rabu (9/12) sebanyak 100.359.152 orang.

“Nah, jumlah pemilih kemarin mencapai 100.359.152 orang. Itulah kenapa seringkali di Indonesia disebut penyelenggaraan pemilu yang sangat besar dalam satu hari. Kalau kita bandingkan dengan negara di luar, satu negara mungkin hanya 20% dari total pemilih yang kita punya,” ucapnya dalam keterangan pers virtual, Jumat (11/12).

Data pemilih tersebut, dihimpun dari 309 kabupaten/kota terlibat Pilkada Serentak 2020. Padahal, Indonesia menggelar Pilkada Serentak 2020 di tengah pandemi Covid-19. Jadi, setiap tahapan pilkada harus mematuhi protokol kesehatan. Bahkan, melibatkan lebih banyak pihak, dari Kementerian Kesehatan, hingga Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menjawab tantangan pendisiplinan protokol kesehatan.

“Hal yang baru berbeda dengan pelaksanaan pilkada sebelumnya. Ini nanti silakan dievaluasi. Apakah menetapkan 500 pemilih per TPS, yang semula UU mengatur 800 pemilih per TPS sudah cukup atau tidak? Kemudian terkait penggunaan masker, KPPS harus sehat, hingga pengaturan kedatangan,” tutur Arief.

Sponsored

Ia mengklaim, pengaturan kedatangan bisa mencegah terjadinya kerumunan di TPS dalam tahapan pemungutan suara Pilkada Serentak 2020 kemarin. Penggunaan sarung tangan dan pelindung wajah, pengecekan suhu tubuh, menjaga jarak, serta penyemprotan disinfektan disebut memengaruhi upaya penegakan protokol kesehatan.

“Bahkan, disinfektan di beberapa tempat, saya lihat menggunakan alat-alat yang lebih bagus daripada yang kami standarkan. Mungkin di antara warga atau penyelenggara pemilu di tingkat TPS ada yang punya. Jadi, semprotannya besar. Kalau yang dibiayai KPU semprotan kecil, pakai tangan. Ini pakai mesin. Warga berinisiatif agar proses ini lebih aman dan sehat,” ujar Arief.

Namun, Arief menyayangkan tren fenomena pasangan calon tunggal dalam pilkada yang semakin meningkat.

Berita Lainnya