sun
moon
a l i n e a dot id
fakta data kata
logo alinea.id

Pileg 2024: Bagaimana Golkar menyalip Gerindra

Ada sejumlah faktor yang membuat Golkar mampu keluar sebagai salah satu parpol pemenang Pileg 2024.

Kudus Purnomo Wahidin
Kudus Purnomo Wahidin Minggu, 18 Feb 2024 17:11 WIB
Pileg 2024: Bagaimana Golkar menyalip Gerindra

Partai Golkar hampir pasti menyalip Partai Gerindra sebagai partai dengan raihan suara terbanyak kedua di Pemilu Legislatif (Pileg) 2024. Dari 51.28% suara nasional yang telah masuk, hasil penghitungan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI pada 17 Februari 2024 menunjukkan Golkar meraup 7,99 juta suara atau sekitar 14,64%. 

Golkar berada di bawah PDI-Perjuangan yang telah meraup sekitar 8,97 juta suara atau 16,43% dari total suara nasional. Gerindra berada di urutan ketiga dengan raupan sekitar 6,94 juta suara atau kisaran 12,71% dari total suara yang telah masuk. 

Hasil hitung cepat atau quick count Litbang Kompas juga serupa. Dengan total data masuk 99,2%, Golkar ditempatkan pada posisi kedua dengan perolehan 14,59% dukungan suara. PDI-P kokoh di puncak dengan raihan 16,25% dari total suara nasional. 

Pada Pileg 2019, Golkar meraup 12,51%, kalah tipis dari Gerindra mengantongi 12,57% dukungan suara. PDI-P unggul telak dengan raupan 19.33% suara atau 128 kursi di DPR. 

Kenaikan perolehan suara Golkar itu tergolong fenonemal. Pasalnya, Golkar tak mengusung salah satu kader sebagai peserta Pilpres 2024. Di lain sisi, Gerindra yang bisa berharap dari efek ekor jas atau coat tail effect dari Prabowo Subianto. 

Litbang Kompas menemukan sejumlah faktor yang membuat Golkar berjaya di Pemilu 2024. Pertama, popularitas. Hasil sigi Kompas pada Desember 2023 menunjukkan popularitas partai pimpinan Airlangga Hartarto itu mencapai 92,1%. 

Kedua, loyalitas pemilih. Hasil survei setelah pencoblosan (exitpoll), terlihat sebagian suara Golkar ditopang oleh pemilih Golkar pada Pemilu 2019. Elektabilitas Golkar terutama sangat tinggi di kalangan generasi X yang berusia 42-55 tahun dan generasi babyboomers atau pemilih yang usianya di atas 56 tahun. 

Ketiga, kualitas caleg. Golkar mengajukan sejumlah tokoh yang memiliki rekam jejak popularitas dan sosok berkualitas, seperti mantan gubernur atau wali kota. Terakhir, belanja iklan yang besar. Sepanjang 1 April-29 Juni 2023, Golkar sudah membelanjakan dana Rp3,75 miliar pada platform media sosial Facebook dan Instagram. 

Sponsored

Direktur Riset Indonesia Presidential Studies (IPS) Arman Salam berpendapat Golkar mampu kembali keluar sebagai salah satu parpol pemenang Pemilu 2024 lantaran piawai merawat relasi dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia menduga sebagian suara konstituen Jokowi lari ke Golkar. 

"Fenomena ini tak lepas dari kecerdikan Golkar yang mengusung Gibran (Rakabuming Raka) sebagai cawapres Prabowo. Sosok Gibran yang merupakan anak sulung Presiden Jokowi lekat sebagai representasi Jokowi, terlepas dari kapasitas Gibran yang dimiliki," kata Arman kepada Alinea.id, Sabtu (17/2).

Pada Oktober 2023, Golkar merupakan parpol pertama yang "berani" mengusung Gibran sebagai cawapres. Ketika itu, Mahkamah Konstitusi (MK) baru mengeluarkan putusan nomor 90 yang membolehkan kepala daerah yang usianya di bawah 40 tahun maju sebagai capres atau cawapres. Belakangan, putusan itu dianggap cacat etik. 

"Figur menjadi faktor penting sebagai pertimbangan pilihan publik. Figur Jokowi menjadi salah satu magnet dalam kontestasi pilpres saat ini. Cerdiknya, Golkar melihat itu sehingga representasi Jokowi (Gibran) segera dideklarasikan. Publik terlanjur melihat Golkar sebagai pahlawan yang berani mendorong Gibran," jelas Arman. 

Selain ekor jas dari Jokowi, Arman menilai Golkar juga memiliki infrastuktur politik yang kuat hingga ke tingkat akar rumput. "Sementara Gerindra hanya mendapatkan bonus dari magnet Prabowo saja," kata Arman.

Peneliti dari Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo Jati merinci dua faktor utama yang bikin Golkar berjaya di Pemilu 2024. Pertama, keberadaan mesin politik yang andal di daerah. "Mesin politik Golkar ini berjalan efektif dan efisien sejak era Orde Baru," kata Wasisto kepada Alinea.id. 

Kedua, faktor efek ekor jas Gibran. Sejak putusan MK nomor 90 keluar, Golkar sudah terlibat mengawal Gibran sebagai cawapres pendamping Prabowo. Ketika itu, Golkar bahkan sempat berupaya "menguningkan" Gibran. "Ada efek ekor jas dari nominasi dan kandidasi Prabowo-Gibran," imbuh dia. 

Gibran sebelumnya merupakan kader PDI-P. Setelah memutuskan maju di Pilpres 2024, PDI-P menghukum Gibran dengan mencabut kartu tanda anggotanya. Hingga kini, putra sulung Jokowi itu tak berpartai. 
 

Berita Lainnya
×
tekid