close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), menggelar Insan Cita Talk (IC Talk) dengan tema Masa Depan Pendidikan Berbudaya Digital pada Minggu (28/1/2023). Foto istimewa
icon caption
Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), menggelar Insan Cita Talk (IC Talk) dengan tema Masa Depan Pendidikan Berbudaya Digital pada Minggu (28/1/2023). Foto istimewa
Pemilu
Minggu, 28 Januari 2024 23:02

UICI bahas pendidikan berbudaya digital bersama 3 tim pemenangan capres-cawapres

Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), menggelar Insan Cita Talk (IC Talk) dengan tema Masa Depan Pendidikan Berbudaya Digital.
swipe

Era digital membawa perubahan besar dalam kehidupan umat manusia. Implikasi dari perubahan ini adalah adanya pergeseran dalam cara berpikir, berperilaku, dan berkomunikasi. 

Perubahan juga berdampak pada dunia pendidikan. Ruang kelas kini mulai tergantikan oleh ruang virtual. Jarak dan waktu pun kini tak lagi relevan untuk dipermasalahkan.

Merespons hal tersebut, Universitas Insan Cita Indonesia (UICI), menggelar Insan Cita Talk (IC Talk) dengan tema Masa Depan Pendidikan Berbudaya Digital pada Minggu (28/1).

Hadir sebagai narasumber dalam acara tersebut adalah perwakilan dari tim pemenangan pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk Pilpres 2024.

Dari Tim Pemenangan Nasional Anies-Muhaimin (Timnas AMIN) diwakili oleh Totok Amin Soefijanto, Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran diwakili oleh Budiman Sudjatmiko, dan Tim Pemenangan Nasional (TPN) Ganjar-Mahfud diwakili oleh Enda Nasution.

Membuka acara, Rektor UICI Laode Masihu Kamaluddin, menekankan pentingnya kehadiran perguruan tinggi berbasis digital. 

Dalam hal ini, UICI telah mampu mewujudkan mimpi menghadirkan perguruan tinggi berbasis digital yang bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.

Model pendidikan digital ini, menurut Laode, sangat relevan dengan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Dengan model seperti ini, pendidikan dapat dijangkan oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa ada batasan jarak dan waktu.

Laode menjelaskan kehadiran UICI didasari oleh niat luhur untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa. UICI hadir untuk menjangkau yang tidak terjangkau, to reach the unreachable.

"Kita bisa penuhi dengan istilah no one left behind, tidak boleh ada anak bangsa yang tertinggal di dunia pendidikan. Kita semua tahu bahwa negara maju itu karena jumlah sarjananya rata-rata di atas 50%, sementara di Indonesia baru 6%-7%," lanjutnya.

Narasumber pertama, Totok Amin Soefijanto memaparkan gagasan Anies Baswedan tentang pendidikan digital. Ia menjelaskan bahwa, pendidikan digital membuka akses masyarakat untuk belajar tanpa batas. 

Akses ini, menurut Totok, harus didukung oleh infrastruktur yang memadai, salah satunya adalah jaringan internet. Selain itu, pendidikan digital akan mengakselerasi transfer pengetahuan dan membentuk mental pembelajar, tidak hanya untuk pelajar, tetapi juga pengajar.

Terkait pendidikan digital, ia menekankan pentingnya keamanan siber dan manajemen data yang baik.

"Kalau kita mau menuju Indonesia emas sementara datanya tidak rapi, itu kita seperti berlayar tanpa navigasi yang benar. Jangan-jangan kita salah arahnya," kata Totok.

Sementara itu, Budiman Sudjatmiko dalam paparannya menyampaikan pentingnya literasi digital untuk memecahkan berbagai persoalan pendidikan yang dijalankan secara tradisional, birokratik, dan analog.

Budiman juga menyampaikan pentingnya kolaborasi antara pendidikan publik dengan pendidikan swasta dalam skema kemitraan. 

“Saya kira, UICI bisa menjadi gambaran bagaimana nanti public private partnership kemitraan di dalam pendidikan,” kata Budiman.

Budiman menjelaskan posisi negara dalam kolaborasi ini adalah memberikan pendanaan yang cukup. Dalam hal ini, pasangan Prabowo-Gibran memiliki gagasan tentang dana abadi pendidikan.

Sementara itu, Enda memaparkan program pasangan Ganjar-Mahfud terkait dengan dengan pendidikan digital di antaranya adalah meningkatkan cakap digital atau digital skill. Enda membagi digital skill menjadi tiga, yaitu basic, intermediate, dan advanced. 

Ia juga memaparkan program satu sarjana dari keluarga miskin atau keluarga tantara dan polisi. Dalam program ini, ia menyampaikan pendidikan sebagai alat social mobility.

Program selanjutnya yang disampaikan Enda adalah internet gratis.

“Ini merupakan payung program yang kemudian bisa diturunkan ke banyak hal. Dengan internet gratis maka akses dapat dimiliki oleh siapa pun. Kecepatan untuk mendapatkan informasi maupun layanan dari pemerintah dapat dinikmati oleh siapa pun,” tutupnya.

Perlu diketahui, kegiatan IC Talk ini merupakan rangkaian dari Dies Natalis ke-3 UICI yang jatuh pada 15 Januari. Pada penghujung acara, disimulasikan juga e-voting memilih gagasan pendidikan berbudaya digital yang disampaikan oleh para capres.

img
Hermansah
Reporter
img
Hermansah
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan