close icon
Scroll ke atas untuk melanjutkan
Ilustrasi emas. Foto Pixabay.
icon caption
Ilustrasi emas. Foto Pixabay.
Peristiwa
Kamis, 29 Januari 2026 13:16

Harga emas terus naik, benarkah Indonesia menuju krisis?

Kenaikan harga emas dinilai belum menandakan krisis. Analis menyebut ekonomi Indonesia masih positif meski melemah dan berada di fase pra-resesi.
swipe

Harga emas yang terus mengalami kenaikan beberapa waktu terakhir memunculkan kekhawatiran publik terkait potensi krisis ekonomi di Indonesia. Emas memang kerap dianggap sebagai aset aman (safe haven) saat kondisi ekonomi tidak menentu, sehingga lonjakan harganya sering dibaca sebagai sinyal awal memburuknya situasi ekonomi.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai kenaikan harga emas saat ini belum menandakan krisis ekonomi di Indonesia. Menurutnya, kenaikan harga emas lebih mencerminkan fase pra-resesi, bukan kondisi krisis.

“Belum ke krisis, tapi pra-resesi,” ujar Bhima kepada Alinea.id, Rabu (28/1).

Menurut Bhima, meningkatnya pembelian emas terutama dilakukan oleh kelompok kaya dan kelas menengah sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi pelemahan ekonomi.

Lebih lanjut, Bhima menjelaskan lonjakan harga emas lebih banyak dipengaruhi faktor global ketimbang kondisi ekonomi domestik. Setidaknya ada tiga faktor utama yang mendorong lonjakan harga emas dunia.

“Pertama, indeks ketidakpastian global meningkat memicu perpindahan aset ke safe haven, emas,” ujar Bhima.

Selain itu, bank sentral di sejumlah negara berkembang mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dengan memperbesar cadangan emas.

“Bank sentral negara berkembang lakukan dedolarisasi berpindah ke emas,” lanjutnya.

Faktor lain yang turut mendorong kenaikan harga emas adalah meningkatnya kebutuhan emas dalam industri teknologi kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini ikut menambah tekanan pada harga emas di pasar global.

“Ledakan AI, semikonduktor dan data center membutuhkan mineral emas sebagai bahan bakunya,” jelas Bhima.

Terkait risiko krisis ekonomi di Indonesia, Bhima menekankan bahwa indikator utama krisis adalah pertumbuhan ekonomi yang mengalami kontraksi. Sementara itu, kondisi ekonomi Indonesia saat ini dinilai masih relatif aman karena pertumbuhan ekonomi tetap positif, meskipun menunjukkan tren perlambatan.

“Kalau krisis itu pertumbuhan ekonomi minus, Ini masih positif tapi melemah,” tegasnya.

Meski belum mengarah ke krisis, Bhima menilai langkah sebagian masyarakat mengalihkan aset ke emas dapat dipahami sebagai strategi perlindungan nilai di tengah ketidakpastian global.

“Untuk berjaga-jaga memang bergeser ke emas membuat lindung nilai terbaik saat ini,” ujar Bhima.

Harga emas Antam melonjak tajam dan kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pada Kamis (29/1), harga emas Antam 24 karat naik signifikan sebesar Rp165.000 per gram ke level Rp3.168.000 per gram.

Kenaikan ini melanjutkan tren penguatan harga emas yang sudah terjadi sejak perdagangan sebelumnya. Pada Rabu (28/1) pagi, harga emas Antam 24 karat sempat naik Rp52.000 ke posisi Rp2.968.000 per gram. Selanjutnya, pada pukul 16.27 WIB, harga emas kembali menguat Rp35.000 per gram hingga menembus level psikologis Rp3.000.000, tepatnya Rp3.003.000 per gram.

Mengacu pada situs resmi Logam Mulia Antam, harga emas hari ini untuk ukuran terkecil 0,5 gram dibanderol Rp1.634.000. Sementara itu, emas ukuran 10 gram dijual dengan harga Rp31.175.000. Adapun harga emas Antam ukuran terbesar, yakni 1.000 gram (1 kilogram), mencapai Rp3.108.600.000.

img
Haidhar Ali Faqih
Reporter
img
sat
Editor

Untuk informasi menarik lainnya,
follow akun media sosial Alinea.id

Bagikan :
×
cari
bagikan