Pemerintah India mengecam keras pernyataan yang dibagikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut India sebagai “Hellhole”. Kementerian Luar Negeri India menyebut pernyataan tersebut sebagai tindakan yang tidak berdasar, tidak pantas, dan tidak mencerminkan kenyataan hubungan India-AS.
Pernyataan itu muncul setelah Trump membagikan transkrip komentar podcaster Michael Savage di media sosialnya, yang menyinggung imigrasi berbasis kewarganegaraan kelahiran di AS.
Dalam transkrip tersebut, Savage menyebut sistem tersebut memungkinkan imigran dari India dan China mendapatkan kewarganegaraan secara otomatis, bahkan menggunakan istilah “Hellhole” untuk menggambarkan negara asal mereka. Pernyataan ini langsung memicu reaksi keras di India.
"Seorang bayi di sini langsung menjadi warga negara, dan kemudian mereka membawa seluruh keluarga dari China atau India atau tempat mengerikan lainnya di planet ini," demikian transkrip tersebut mencatat ucapan Savage, sebagaimana dilansir dari BBC, Rabu (29/4).
Kementerian Luar Negeri India menegaskan bahwa komentar tersebut tidak mencerminkan hubungan bilateral yang selama ini dibangun atas dasar saling menghormati dan kepentingan bersama. Tanpa menyebut nama Trump secara langsung, pemerintah India tetap menunjukkan ketidaksetujuan yang tegas.
"Gambaran tersebut jelas tidak mencerminkan realitas hubungan India-AS, yang sejak lama didasarkan pada rasa saling menghormati dan kepentingan bersama," kata Kementerian Luar Negeri India dalam sebuah pernyataan.
Reaksi juga datang dari partai oposisi Partai Kongres India yang menyebut pernyataan tersebut sangat menghina dan anti-India. Mereka mendesak Perdana Menteri Narendra Modi untuk menyampaikan protes resmi kepada pemerintah AS.
Kontroversi ini terjadi di tengah hubungan India-AS yang mulai mengalami ketegangan dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintahan Trump sebelumnya menekan India untuk menghentikan impor minyak dari Rusia, serta memberlakukan tarif tinggi terhadap produk-produk India.
Di sisi lain, kebijakan imigrasi Trump yang semakin ketat, termasuk kritik terhadap program visa kerja H-1B yang banyak digunakan tenaga profesional India, juga turut memperkeruh hubungan kedua negara.
Meski demikian, kedua negara masih berupaya menjaga kerja sama strategis, termasuk melalui rencana kunjungan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio ke India dalam waktu dekat.
Insiden ini kembali menyoroti sensitifnya isu imigrasi dan retorika politik dalam hubungan internasional, terutama antara dua negara yang memiliki kepentingan ekonomi dan geopolitik yang saling terkait.