Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik ke wilayah Israel pada Minggu (7/6) malam sebagai respons atas serangan udara Israel yang menghantam kawasan pinggiran selatan Beirut, Lebanon. Serangan tersebut memicu eskalasi terbaru dalam konflik kawasan dan mengancam gencatan senjata yang telah berlangsung rapuh sejak April lalu.
Sebelum serangan terjadi, seorang pejabat senior Iran telah memperingatkan bahwa Teheran akan memberikan respons yang tegas dan menyakitkan terhadap serangan Israel di Distrik Dahieh, wilayah yang dikenal sebagai basis kuat kelompok Hizbullah di Beirut.
Dilansir dari The Guardian, Senin (8/6), militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) menyatakan bahwa sekitar 10 rudal balistik ditembakkan dari Iran menuju wilayah utara Israel. Menurut IDF, seluruh rudal berhasil dicegat atau jatuh di area terbuka sehingga tidak menimbulkan kerusakan besar.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebut serangan tersebut sebagai awal dari operasi yang lebih besar.
"Operasi ini bukan peristiwa sesaat, melainkan awal dari serangan berkelanjutan selama satu pekan penuh," kata IRGC dalam pernyataannya.
IRGC juga memperingatkan bahwa gelombang rudal dan drone akan terus diluncurkan selama tujuh hari ke depan hingga Israel menghentikan serangannya.
Sebelumnya Serangan udara Israel menghantam dua apartemen di kawasan selatan Beirut. Kantor berita resmi Lebanon melaporkan sedikitnya dua orang tewas dan 11 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Pemerintah Israel menyebut serangan itu ditujukan ke markas teroris sebagai respons atas peluncuran roket ke wilayah Israel dari Lebanon. Sementara itu, Hizbullah mengklaim tidak bertanggung jawab atas serangan roket yang terjadi sebelumnya.
Ledakan di Beirut akibat serangan israel terebut menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan memicu kepanikan warga yang berbondong-bondong meninggalkan kawasan tersebut karena khawatir akan adanya serangan lanjutan.